Islam Komunis • penulis: kalipaksi, 01 Oktober 2009 16:29:08 • 7 KomentarMenarik +6

Ini cerita nyata, tentang seseorang bernama Lukman (nama alias, tentunya). Ini berkaitan dengan konteks ini hari tanggal 1 Oktober, yang 34 tahun silam, menjadi awal babak kelam komunisme di negeri ini. Segera setelah peristiwa 30 September, komunisme menjadi kambing hitam. Orang-orang komunis disikat. Ada yang dibunuh, dipenjara tanpa sidang, diusir, dianiaya. Sebagian lagi lari ke luar negeri. Mati juga di sana, seperti Sobron Aidit, sastrawan teman sekamar Chairil Anwar. Ia tutup usia di Paris.

Komunisme segera menjadi hantu. Seperti juga Lukman, anak-anak sebaya lain yang lahir pada awal dekade 1970-an, punya visi yang sama tentang komunisme: ia seperti iblis, anti Tuhan, terusir dari surga, tak senila pun punya nilai kebaikan. Cara berpikir itu, bagi Lukman, sesat dan menyesatkan.

Lima belas tahun silam, persisnya 1993, air muka ayah Lukman (almarhum) memucat pasi, seperti nyaris tersambar geledeg saja. Ihwal memucat pasi itu bermula ketika Ia mendengar selentingan bahwa anaknya dicap sebagai penganut Islam Komunis. Tudingan itu menyelenting dari mushala kampung. Padahal, di mushala itu kecintaan Lukman pada ritualitas religius-spiritual mulai terbangun. Selain menjadi langganan makmum salat berjamaah, Lukman juga menjadi salah satu langganan pelantun azan dan pembaca kitab rawi Barzanji, yang rutin diraung-raungkan dari speaker mushala pada setiap kamis malam.

Lukman cuma tersenyum kecil ketika mendengar cap Islam Komunis itu. Nggak konsisten. Lha, wong komunis yang dijejalkan kepada “Lukman kecil” itu atheis kok dikawinkan dengan Islam. Ia melihat ketakkonsistenan para ustaz di mushala itu. Ia yang waktu itu berumur 20 tahun cuma bisa bilang: “Nggak macthing, kok jadi seperti Syaykh Gondoruwo atau Kiyai Lucifer.

Kilas balik sedikit ke setting masa itu, komunitas NU Betawi yang menggiatkan takmiril masjid di mushala kami memang sedang resah dengan kelakuan beberapa anak muda penggiat mushala yang mulai menemukan “atur cara atau sabil  yang berbeda dalam ber-Islam” di luar pagar mushala, termasuk Lukman. Beberapa kawan Lukman gandrung dengan harakah tarbiyah alias Ihwanul Muslimin (IM), yang menjadi cikal bakal PKS sekarang ini. Sebagian lagi larut dalam jamaah tablig, ada satu orang yang jatuh cinta dengan syiah, sementara Lukman terlibat dengan gerakan Darul Islam (DI) Kartosoewirjo, yang pernah memproklamirkan NII pada tahun 1949.

Di mata orang-orang mushala, pilihan Lukman itu menyesatkan. Meski tak juga ikhlas, alumni Mushala yang dianggap ‘berselingkuh’dengan IM masih dianggap wajar. Tapi tidak bagi dua alumni lain, yang menjadi DI dan Syiah. Tapi anehnya, hanya Lukman yang kebagian cap sebagai Islam Komunis. Mungkin karena sifat gerakan itu yang penuh dengan kemisteriusan, jaring-jaring sel, bersifat politis, militan, dan propagandatis, orang-orang Mushala merasa terserang. Mereka seperti melihat orang komunis dengan baju Islam.

Kepala Lukman dipenuhi rasa ingin tahu. Ia diliputi kepenasaran. Ia datangi orang-orang mushala itu. Ia minta klarifikasi berakal sehat. Sayang, tak satu pun yang hendak melayaninya. Ya sudah,  tak ia hiraukan itu semua.

Ketika jenasah para teroris ditolak warga untuk dikebumikan di desa mereka. Saya kok jadi ingat Saya kok jadi tersenyum kecut mengenang kisah Lukman, yang sesungguhnya kisah yang pernah yang saya alami. Ya…Lukman adalah saya. Betul bahwa para almarhum teroris itu di mata mereka adalah para ‘penjahat kemanusiaan’ tapi apakah tak terlalu berlebihan menolak jenasah mereka. Saya jadi teringat tulisan seorang politikanawan dengan ID “kalangwan” dengan judul Siapa Sih Yang Sebenarnya Komunis? tentang begitu mudahnya mencap orang sebagai komunis.

Lagi pula dari sisi bahasa mencap seseorang dengan Islam Komunis jelas salah kaprah. Jika mau bukan Islam Komunis tapi muslim komunis. Jika konteksnya itu, mudah: DN Aidit itu muslim komunis;  anak haji yang kemudian menjadi Ketua PKI.

Akhirnya, agar tak terlalu berpanjang lebar, yang jelas, saya atau juga teman-teman yang pernah mengalamni hal serupa, bukan Islam Komunis. Islam kok pakai embel-embel. Bahkan, saya juga pernah dianggap Islam Liberal. Duh, macam-macam saja. Saya ndak tertarik dengan Islam Komunis—kalau itu ada. Juga, Islam Liberal. Saya kok lebih tertarik dengan konsep Gus Dur yang ia tulis dalam bukunya: Islamku, Islam Anda, dan Islam Kita.

catatan: juga terposting di: kalipaksi.com

(Lihat foto: Islam Komunis)


Artikel ini memiliki: 7 KomentarMenarik +6

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »