Pelajaran dari Nabi Khidir tentang Kekeliruan Bangsa Indonesia dalam Pengelolaan SDA Tambang Freeport dll. • penulis: akusuka, 19 September 2009 12:00:25 • 12 KomentarBiasa +1

Saya pernah baca suatu buku sekitar 10 tahun yang lalu, yang menyatakan bahwa latar belakang kisah Musa dan Khidir adalah karena Musa yang telah berhasil mengalahkan Firauan dan tentaranya menjadi agak-agak sok, seakan-akan ia adalah hamba yang paling pandai dalam segala hal. Kemudian Tuhan menyuruhnya mencari dan mengikuti seseorang yang lebih pandai yaitu Khidir.

Pada suatu ketika sampailah mereka ke suatu wilayah dimana penduduknya menolak menjamu mereka, kemudian mereka menjumpai di wilayah itu sebuah bangunan yang dindingnya rusak dan hampir roboh. Tanpa “ba bi bu” lagi Khidir segera menyingsingkan lengan baju untuk memperbaikinya. Akhirnya bangunan itu selesai diperbaiki menjadi layak huni kembali.

 Musa yang sedari tadi hanya bengong tidak kuasa menahan diri untuk berkomentar atas perbaikan yang dilakukan nabi Khidir itu: “seandainya engkau mau, maka engkau dapat minta upah atas jerih payahmu itu”.  Oh ya sebagai informasi, sebelum pengembaraan dilakukan, Khidir telah berpesan kepada Musa supaya jangan berkomentar / bertanya tentang sesuatu apapun, sampai Khidir sendiri yang akan menjelaskannya kepada Musa.

(Untuk mengetahui seluruh pengembaraan Khidir dan Musa lebih jelas, silahkan pembaca melihat surat 18:60-82 di bagian bawah).

Penjelasan Khidir mengenai perbaikan bangunan tersebut adalah sebagai berikut:

“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak muda yang yatim di negeri itu, dan dibawah rumah ada harta benda warisan bagi mereka berdua, sedang mendiang ayah nya adalah orang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan dapat mengeluarkan harta itu sebagai rahmat tuhanmu; dan bukanlah aku melakukan itu atas kemaunku sendiri. Demikian adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat menahan diri untuk tidak berkomentar.”

Dalam kisah Khidir diatas sebenarnya tersirat suatu konsep pembangunan yang berkaitan dengan pengelolaan Sumber Daya Alam, khususnya bahan tambang, seperti gas, minyak, emas, batu bara, besi, dan sejenisnya. Kondisi bangsa dan negara Indonesia sama persis dengan kisah diatas. Dalam hal teknologi dan manajemen pengelolaan bahan tambang dapat dikatakan bangsa Indonesia masih “anak-anak”, masih belum mampu mengelola semua bahan tambang secara mandirii. Sementara di dalam bumi negara Indonesia terkandung “harta benda” yang cukup berlimpah seperti gas, minyak bumi, emas, dsb. Untuk mengelolanya secara mandiri diperlukan “kedewasaan” dalam hal teknologi dan manajemen pengelolaan sumber daya alam, masih perlu waktu beberapa puluh tahun lagi.

Namun, yang dilakukan Pemerintah Indonesia sejak 1945 berbeda dengan yang dilakukan Khirdir. Bila Khidir memutuskan untuk menjaganya supaya tidak diambil lebih dahulu, Pemeritah Indonesia malahan mempersilahkan perusahaan-perusahaan asing untuk mengelola sebagian besar bahan tambang yang ada, seperti Freeport untuk mengelola emas dan tembaga, Exxon untuk mengelola gas alam, Mobil Oil untuk mengelola minyak bumi, dan lainnya.

Sebenarnya Khidir bisa saja menyerahkan harta benda yang ada kepada orang lain untuk mengelolanya, tapi toh Ia tidak melakukannya. Hal ini karena Ia tahu ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi atas harta benda itu bila dikelola oleh orang lain selagi pewarisnya masih anak-anak. Bisa saja harta itu bertambah banyak tapi ada kemungkinan juga harta itu menjadi semakin berkurang karena keuntungannya digunakan juga untuk menggaji si pengelola. Kemungkinan yang terburuk adalah harta benda itu habis karena usaha bangkrut, sehingga ketika si anak sudah dewasa, harta benda nya sudah tidak tersisa lagi. Suramlah masa depan anak-anak itu, Hal itulah yang dihindari oleh Khidir.

Nah sebagai akibat sebagian besar bahan tambang dikelola oleh pihak asing, maka sebagian keuntungan dimakan pihak asing tersebut. Nanti ketika anak cucu bangsa Indonesia telah “dewasa” dalam penguasaan teknologi, “harta benda” nya kemungkinan sudah habis tidak bersisa atau kalaupun masih ada sudah tidak lagi ekonomis untuk dikelola. Suram nian masa depan anak cucu bangsa Indonesia ini.

Saat ini, meskipun agak terlambat, seyogyanya pemerintah menghentikan campur tangan asing dalam pengelolaan bahan tambang di negara Indonesia. Perlu lah segera mencontoh kebijakan perbuatan Khidir, seseorang yang disebut Alquran sebagai seorang hamba yang telah Tuhan berikan kepadanya rahmat dan telah diajarkan kepadanya ilmu dari sisi Tuhan.

Kutipan kisah Khidir dan Musa

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun ".
QS. al-Kahfi (18) : 60

Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lupa akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.
QS. al-Kahfi (18) : 61

Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: "Bawalah ke mari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini ".
QS. al-Kahfi (18) : 62

Muridnya menjawab:" Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaithan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali. "
QS. al-Kahfi (18) : 63

Musa berkata: "Itulah (tempat) yang kita cari". Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.
QS. al-Kahfi (18) : 64

Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.
QS. al-Kahfi (18) : 65

Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu? "
QS. al-Kahfi (18) : 66

Dia menjawab:" Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.
QS. al-Kahfi (18) : 67

Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu? "
QS. al-Kahfi (18) : 68

Musa berkata:" Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun ".
QS. al-Kahfi (18) : 69

Dia berkata:" Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu ".
QS. al-Kahfi (18) : 70

Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melubanginya. Musa berkata:" Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya? "Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.
QS. al-Kahfi (18) : 71

Dia (Khidhr) berkata:" Bukankah aku telah berkata: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersamaku".
QS. al-Kahfi (18) : 72

Musa berkata: "Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku".
QS. al-Kahfi (18) : 73

Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang pemuda, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: "Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang munkar".
QS. al-Kahfi (18) : 74

Khidhr berkata: "Bukankah sudah ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?"
QS. al-Kahfi (18) : 75

Musa berkata: "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku".
QS. al-Kahfi (18) : 76

Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu xxx penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu".
QS. al-Kahfi (18) : 77

Khidhr berkata: "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.
QS. al-Kahfi (18) : 78

Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.
QS. al-Kahfi (18) : 79

Dan adapun anak muda itu, maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.
QS. al-Kahfi (18) : 80

Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).
QS. al-Kahfi (18) : 81

Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak muda yang yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya".
QS. al-Kahfi (18) : 82

Before, posted in 2003 at:

http://irwan.web1000.com/pelajaran_khidir.html

Republish in 2007 at :

http://akusuka.wordpress.com/2007/11/08/pelajaran-dari-nabi-khidir-tentang-pengelolaan-bahan-tambang-di-freeport-dll/

* Saya penasaran kenapa situs Islam Liberal tidak menyutujui post/opini saya ini pada beberapa tahun yang lalu.

Mohon rating "bagus/penting/menarik" atau "jelek/basi/gak penting" saja, jangan rating "cari masalah". Saya tidak sedang cari masalah! 

(Lihat foto: Pelajaran dari Nabi Khidir tentang Kekeliruan Bangsa Indonesia dalam Pengelolaan SDA Tambang Freeport dll.)


Artikel ini memiliki: 12 KomentarBiasa +1

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »