Akselerasi pemberitaan soal CICAK aka KPK versus Buaya (yang kini menjadi hewan mutan Godzilla, tergantung versi Hollywood atau versi Jepang yang Anda yakini) pasti membuat Anda semua muak. Muak karena headline media online soal ini melulu sementara Anda pengennya lebih banyak pemberitaan soal cerainya Anang-KD, hamilnya Sheila Marcia, pernikahan Hanung Bramantyo dan Zaskia sampai tip mudik artis. Berikut tanya jawabnya, secara umum, mengapa soal CICAK aka KPK versus Buaya/Godzilla semakin penting.
Singkat deh. Saya ingin lebih banyak infotainment. Ini kan bulan puasa, saya butuh hiburan. Kenapa banyaknya soal KPK lagi sih?
Bulan puasa kok nonton infotainment. Gak gaul kamu. Eskalasinya kan semakin menajam sekarang. Ada testimoni Antasari Azhar yang isinya soal penyuapan pimpinan KPK oleh orang suruhan Anggoro Widjaja. Tahu kan Anggoro Widjaja? Testimoni satu hal, kemudian ada pemanggilan pimpinan KPK minggu lalu hari Jumat dengan dasar pasal 421 dan 423 KUHP. Mau tahu isinya apa? Penyalahgunaan wewenang pimpinan KPK dalam pencabutan cekal Djoko Tjandra terkait kasus penyuapan jaksa UTG dan penetapan cekal Anggoro Widjaja.
Maksudnya penyalahgunaan wewenang? Saya gak ngerti. Saya kan biasa nonton Manohara, ibunya Kiki Fatmala ngamuk, kawin cerai artis dsb
Penyalahgunaan wewenang. Dini hari semalam kan sudah ditetapkan Chandra M Hamzah dan Bibid S Rianto sebagai tersangka penyalahgunaan kewenangan mereka sebagai pimpinan KPK untuk soal cekal tersebut. Mau tahu dalam siaran persnya polisi menyebutkan dasar kesalahan mereka apa? Sumpah absurd banget.
Apa? Apa dong? Memang ada yang lebih absurd dari perceraian KD-Anang atau mantu Cendana bawa kabur duit?
Kalah absurd itu. Semata-mata soal administratif. Menurut polisi, seharusnya dalam surat cekal tersebut, ada tanda tangan LIMA pimpinan KPK, bukan hanya satu orang.
Lho maksudnya? Menurut polisi untuk satu surat cekal, seharusnya lima pimpinan KPK tandatangan semua? Emang gak ada mekanisme tembusan? Kok cupu banget?
Itulah. Tadinya sempat ada dugaan ada kaitan soal penyalahgunaan wewenang KPK terkait instansi lain seperti keimigrasian. Rupa-rupanya semata-mata administratif doing. Dan untuk urusan se cupu ini, Jaksa Agung sampai menurunkan jaksa terbaiknya. Heran saya, kok ungkapan serupa tidak pernah disampaikan Jaksa Agung dalam kasus Muchdi PR misalnya. Soal tandatangan ini sendiri dibantah oleh Bibit Rianto bahwa harus ada tandatangan lima pimpinan.
Sebentar, kan ini soal kewenangan? Memang polisi ada kewenangan memeriksa kewenangan lembaga lain?
Enak tho, mantep tho? Pertanyaan ini penting sekali. Kalau polisi merasa bermasalah dengan kewenangan KPK, bukankah seharusnya polisi memerkarakan kewenangan ini ke Mahkamah Konstitusi saja? Sekarang saya balik nanya, bagaimana penyelesaiannya? Yang elok menurut Anda.
Wah, saya kan bingung, lha biasa nonton infotainment. Tapi Presiden SBY kan komitmennya bisa ditagih soal pemberantasan korupsi?
Coba aja sendiri. Presiden SBY untuk urusan RUU Rahasia Negara bisa mengusulkan revisi draf padahal tahapannya sudah sampai Pembicaraan Tingkat Satu. Dan RUU Rahasia Negara itu sudah dihentikan proses pembahasannya, period! Bandingkan dengan RUU Pengadilan Korupsi, kewenanganan penuntutan KPK dipreteli dikembalikan ke Kejaksaan. Lalu soal panggil memanggil pimpinan KPK. Pertama-tama statusnya saksi eh makin kemari jadi tersangka. Ketebak kan komitmennya?
Terlalu jauh, mas. Anda terlalu jauh. Kenapa kita tidak biarkan proses hukumnya berjalan saja sih? Artinya Anda tidak percaya dengan proses hukum?
Tak tahulah. Mungkin karena saya percaya tidak ada apapun yang kebal dari intervensi. Begitupun proses hukum. Apa yang terjadi di KPK sekarang ini, penetapan tersangka dengan alasan yang begitu remeh dan dugaan aliran dana ke pimpinan pun tak ada. Kasus polisi atas pimpinan KPK itu lemah betul dan mereka betul-betul all out. Jangan heran, kalau sebentar lagi ada fabrikasi barang bukti.
Maksud Anda fabrikasi barang bukti? Ada bukti palsu maksudnya?
Saya tidak tahu. Tapi mungkin saja bukan? Mereka menyewa konsultan komunikasi dan politik termahal sepanjang sejarah. Bandingkan dengan KPK yang jubirnya mantan wartawan biasa. Soal setiap ada isu besar KPK bergulir langsung ada bom meleduk atau perburuan teroris, masa menurut Anda tidak ada hubungannya?
Bisa jadi sih. Tapi omong-omong Anda kelihatan lelah sekali. Bayangan hitam di mata Anda tidak hilang. Kalau Anda perempuan, sudah saya make-up...
Lelah fisik saya tidak sebanding dengan lelah batin. Lebay ya? Mungkin kita harus lebay sekali-kali, tidak menulis di media alternatif seperti politikana yang jadinya sambung rasa belaka. Bukan berarti tak penting, tapi bagaimana menjangkau massa yang lebih luas, yang sebenarnya lebih dimiskinkan karena korupsi, yang tidak bisa atau dibungkamkan sebelum bersuara. Mungkin memang sebetulnya tidak perlu ada dukungan masyarakat untuk gerakan pemberantasan korupsi. Mungkin kita diam-diam rindu betul kembali ke zaman Pak Harto. Untuk peduli dan berpikir, melakukan tindakan untuk semua, ternyata masih terlalu mahal. Lebih mudah, murah dan menyenangkan jadi apatis. Iri betul saya pada mereka yang bisa apatis.
Lho kok Anda jadi melemahkan semangat begini? Tidak lihat Anda saya sudah siap dengan kaos CICAK saya?
Hehehe....betul juga ya. Kemarin di TV saya melihat reporter mewawancara pimpinan KPK pakai kaos CICAK, terharu betul saya. Terima kasih kawan. Bagaimana menurut Anda gerakan kita kedepan?
Wah saya baru pakai kaus mana kekecilan lagi...tapi yang jelas, update saya terus. Saya tahu saya pasti bisa berkontribusi...
(Lihat foto: Robohnya KPK Kami: What Next?)
Artikel ini memiliki: 6 Komentar • Penting +10