TERRORISM HAS NO RELIGION • penulis: Harlan Eryandi, 11 September 2009 10:26:42 • 7 KomentarRating 0

Diskusi tentang agama, radikalisme dan terorisme menjadi begitu gencar heboh dan selalu hangat sejak bulan Juli, Agustus sampai dengan September 2009 ini, terutama setelah terjadinya tragedi bom JW Marriott & Ritz Carlton 17 Juli 2009 lalu di kawasan Kuningan Jakarta. Setiap kali ditemukan cara untuk menangkalnya, saat itu pula diperkenalkan modus operandi baru terorisme. Keduanya saling berlomba untuk bergerak mendahului dan sering sama-sama menghancurkan. Yang menjadi korban adalah mereka para pecinta kedamaian.

Beberapa tahun terakhir ini kita harus menyadari, nampaknya agama telah kehilangan kekuatan utuhnya untuk memberikan kontribusi dalam men-solusikan berbagai persoalan kemanusiaan yang ada. Penyebab yang selalu dirujuk, bahwa konsentrasi agama untuk melakukan pemberdayaan umat dan menegakkan nilai-nilai kemanusiaan terpecah karena isu besar terorisme yang begitu kuat menyita perhatian.

Berdasarkan isu besar dan fakta terorisme ini, bahkan agama telah kehilangan pesonanya sebagai salah satu pilar utama perubahan sosial (social change) yang lebih progresif dan positif. Mengatas namakan agama pula terorisme dijalankan dengan penuh kebencian. Gelombang terorisme ternyata belum akan segera selesai, walaupun seluruh komunitas pencinta damai di dunia ini siap untuk memerangi kaum teroris. Slow but sure, terorisme mulai menemukan lahan-lahan baru untuk mengacaukan keadaan. Dengan begitu, terorisme berhasil membuat rencana-rencana perdamaian menjadi kecemasan.

Sementara di sisi lain genderang perang terhadap terorisme bahkan tidak kalah menyeramkannya dengan terorisme itu sendiri. Atas nama perdamaian mereka sering bertindak ngawur, nekad dan tidak jarang justru bertindak di luar batasan nilai-nilai kemanusiaan, bahkan sering menghadapi tuduhan sebagai terorisme yang lain, terutama ketika cara-cara yang digunakan adalah sekedar mendiskreditkan dan main kambing hitam. Tidak pernah dipikirkan dan disadari rahasianya, bagaimana memerangi terorisme dengan mempelajari apa-apa yang menjadi penyebabnya, tidak terlalu dipahami akar-akar terorisme dan bagaimana menyelesaikannya dengan cara damai persuasif.

Dari permasalahan utama yang didera Indonesia/dunia dewasa ini, agama di samping sudah kehilangan pesonanya juga harus ikut campur lebur dalam meredam aksi-aksi terorisme, yang pada akhirnya agama dan kaumnya kesulitan membaca, memetakan, dan memecahkan persoalan yang sesungguhnya dihadapi. Kemiskinan bertambah parah, peta kekuatan politik semakin merajalela menjadikan agama sebagai kuda tunggangan kepentingan, kekuatan ekonomi lalu menjadikannya sebagai komoditas, merebahnya jurang kesenjangan antara kaum kaya dan miskin, dan masih banyak lagi  perkara-perkara lainnya.

Terorisme berhasil merampok dan membajak semangat keberagamaan dan keberagaman untuk kepentingan penghancuran kemanusiaan. Bagi teroris, dialog agama bukan sesuatu yang diperlukan untuk menjadikan wajah agama lebih manusiawi dan inspiratif bagi batin manusia. Agama dibajak untuk kepentingan dan biang keladi kekerasan, dan kekerasan itu sendiri dilegalkan atas nama agama, maka akhirnya agama cenderung menjadi alat pembenaran dari segala tindak tanduk di luar nalar kemanusiaan yang sehat.

Seorang pakar agama menyatakan, bahwa di semua jenis agama tersimpan potensi kekerasan. Agama akan menjadi biang keladi kekerasan apabila teks dalam kitab sucinya tidak dibaca sungguh-sungguh sesuai konteksnya. Hal ini membuat wajah agama berubah menjadi monster bagi manusia atau penganutnya sendiri, walaupun sudah disadari bahwa agama diturunkan di muka bumi untuk memainkan peranan sebagai sarana menuju yang Ilahi. Dalam prakteknya, agama sering kali terjebak pada dimensi ritual belaka dan melupakan panggilan dasarnya, yakni membangun peradaban dan mengabdi pada kepentingan kemanusiaan. Hal ini merupakan tantangan bagi agama untuk berani melakukan introspeksi diri sejauh mana agama berperan dalam menciptakan tatanan kehidupan baru yang lebih berkeadilan.

Perlu dan sangat perlu dipahami bahwa persoalan terorisme tidak hanya lahir dari radikalisme umat beragama yang salah menafsirkan teks. Ditinjau lebih mendasar lagi adalah akibat kondisi dan tatanan kehidupan yang tidak adil dan berkeadilan. Hal inilah yang secara pasti menyebabkan radikalisme beragama tumbuh laksana jamur di musim hujan. Radikalisme tumbuh karena kondisi dan tatanan yang tidak adil yang menyebabkan kemiskinan. Sehingga kemiskinan inilah yang menjadikan manusia kehilangan harapan dan kehilangan akal sehatnya dalam beragama.

Dengan demikian radikalisme dapat dilihat sebagai salah satu cara untuk melarikan diri dari frustrasi kehidupan karena himpitan sosial dan ekonomi, dan faktor inilah yang cukup menyuburkan radikalisme di kalangan negara miskin yang semakin dimiskinkan. Dalam konteks ini, dialog agama tidak cukup hanya pada tahapan saling pengertian atau sekadar pemahaman akan perbedaan. Lebih dari itu, hal yang sangat mendasar adalah bagaimana agama mampu memainkan peranan untuk setia pada panggilannya, yakni menjaga martabat kemanusiaan.

Prilaku konsumtif dan  budaya konsumerisme di kalangan masyarakat juga semakin memperluas jurang kesenjangan antara kaum miskin dan kaya. Mereka yang berada dalam posisi tawar besar (high bargaining) bisa memainkan kebijakan publik agar tak lagi perlu memperhatikan kaum miskin. Roda ekonomi dijalankan tanpa lagi memperhatikan etika. Yang dijadikan goal hanya mengejar keuntungan sebesar-besarnya, ini yang menyebabkan kehidupan menjadi hampa solidaritas. Manusia hanya sibuk memikirkan kepentingan pribadinya semata-mata tanpa mau menengok kiri-kanan realitas sekitarnya, seperti terorisme yang melakukan tindakan penghancuran tak peduli berapa korban tak berdosa yang akan bergelimpangan.

Sebagai konklusi singkat dari konsep diatas, ternyata kita semua terutama pemerintah (pengelola negeri ini) harus kembali disadarkan, bahwa terorisme sama sekali bukan masalah agama, melainkan masalah seluruh umat manusia dalam berbagai aspek, bahkan ekstrimnya Terrorism Has No Religion. Mungkin perlu dicari titik pandang bersama untuk merumuskan ulang, bagaimana tatanan kehidupan dunia ini harus dikelola dan ditata ulang, tugas berat ini juga harus disupport dan melibat aktifkan para elit/ulama agama, yang menjadi bagian tak terpisahkan dari komponen ini.

(Lihat foto: TERRORISM HAS NO RELIGION)


Artikel ini memiliki: 7 KomentarRating 0

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »