Semangat Kecil Bebas Dari Rentenir • penulis: Kakaroto, 04 September 2009 21:39:43 • 0 KomentarRating 0

Oleh : Suroto

Bagi masyarakat kecil di Jawa dan di Indonesia pada umumnya, istilah rentenir, atau dalam bahasa Jawa bank plecit atau mendring bukan istilah yang asing lagi. Rentenir adalah pemberi pinjaman uang (pelepas uang) dengan bunga yang dikenakan sekitar 10-30 persen per bulan dalam kondisi perekonomian normal dengan rata-rata bunga pinjaman bank umum komersial kurang lebih 1-2 persen per bulan. Plafon pinjaman yang diberikan biasanya antara 50.000 sampai dengan 1.000.000 rupiah. Target peminjam (debitur) mereka biasanya orang-orang dengan ekonomi lemah yang tinggal di kota atau pinggiran kota, seperti buruh kecil, pegawai kecil dan perajin kecil atau dengan istilah lain masyarakat yang kurang mampu dari segi ekonomi.

Sebetulnya bagi petani kecil, buruh tani di desa-desa atau nelayan kecil kita sering mendengar istilah lain dari rentenir ini sebagai Pengijon dan atau Penggalas. Mereka adalah yang meminjamkan uang atau barang kepada para petani pada waktu musim paceklik (musim tanam) tiba, atau meminjamkan kebutuhan-kebutuhan melaut bagi nelayan sebelum berangkat atau para perajin kecil sebelum mereka menghasilkan hasil-hasil kerajinanya dan menukar hasil panen dan kerajinan mereka dengan harga yang sangat murah yang ditentukan sepihak oleh pelepas uang atau pemberi pinjaman barang.

Mereka menggunakan jasa rentenir untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dana yang penting untuk memenuhi keperluan hidup ditengah ekonomi yang sulit dan sistem perbankkan pada umumnya yang tidak terjangkau. Rentenir ini meminjamkan uang dengan bunga yang mencekik dan sistem angsuran harian yang sangat ketat. Tak tanggung-tanggung, bahkan mereka biasa menggunakan jasa kolektor yang biasanya merangkap sebagai “preman” tukang tagih apabila terjadi kemacetan.

Kegiatan rentenir ini sangat diminati karena mereka memberikan kemudahan dalam proses peminjamanya. Cukup dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau bahkan tanpa persyaratan apapun mereka langsung mendapatkan pinjaman. Hubungan psikologi yang sangat erat antara si Rentenir dengan peminjam telah membuat sifat ketergantungan si Peminjam dan terjebak dalam lingkaran setan yang tak berujung pangkal. Hubungan yang sangat erat ini diciptakan tidak saja dengan kemudahan persyaratan, tapi para rentenir bahkan cukup jeli dalam melihat kebutuhan-kebutuhan peminjamnya atau saat kapan mereka membutuhkan pinjaman di tambah dengan persuasi-persuasi yang segera meruntuhkan mental mereka untuk meminjam karena desakan kebutuhan.

Di Purwokerto, rentenir ini juga sering disebut sebagai tukang ngrolasi, atau orang yang menduabelaskan. Istilah ngrolasi atau menduabelaskan ini berasal dari sistem peminjamanya. Misalnya pinjam 100.000 dipotong 10.000 untuk biaya adminsitrasi dan kemudian mereka diwajibkan mengangsur sebesar 120.000 dalam waktu satu bulan atau 24 hari efektif dengan sistem angsuran harian atau dengan bunga 30 % (tiga puluh persen) per bulan.

Berangkat dari keganasan rentenir tersebut, sebuah kelompok tukang becak yang di organisasir melalui sistem Koperasi Kredit (Kopdit) membentuk kelompok yang disebut Group “Perjaka” (perseduluran jalan kampus) yang bertujuan untuk keluar dari jebakkan rentenir. Kelompok ini pada awalnya didirikan oleh 19 orang tukang becak dan seorang pedagang gorengan yang mangkal di jalan Kampus di lingkungan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto dengan kekuatan dana yang dihimpun diantara mereka sendiri. Mereka menyusun modal bersama dengan cara menghimpun tabungan dengan prinsip mengurangi rokok satu hari satu batang dan kemudian dipinjamkan diantara mereka sendiri.

Istilah Perseduluran Jalan Kampus ini di singkat dengan Perjaka. Pengambilan istilah perseduluran jalan kampus dilatarbelakangi oleh keinginan untuk mempererat tali persaudaraan diatara anggota-anggotanya yang mayoritas terdiri dari para tukang becak yang berada di jalan Kampus. Istilah “Perjaka” sendiri berarti orang muda. Organisasi ini diharapkan oleh mereka dapat disemangati oleh jiwa muda yang egaliter dan transparan atau dalam bahasa lokal masyarakat Banyumas yang sangat terkenal dengan istilah cablaka (apa adanya) dan blakasuta (terus terang).

Group Perjaka ini berdiri pada tanggal 2 Mei tahun 2007, dan setiap tanggal dua juga mereka menetapkan sebagai hari pertemuan rutin bulanan. Mereka membentuk dan mengurusi organisasi mereka sendiri dengan mengangkat seorang ketua dengan nama : Bapak Kanafi, seorang sekretaris yaitu : Bapak Rusdi dan seorang Bendahara yang bernama : Bapak Hadi.

Group Perjaka ini sebagai organisasi melakukan aktifitas simpanan dan pinjaman diantara anggota-anggotanya, menyelenggarakan arisan bulanan, menjual belikan kardus, memotivasi tabungan, belajar berorganisasi dan membangun pengertian tentang arti penting koperasi (dengan masukan dari pihak luar), mengatur pembagian antrian penumpang, membuat kesepakatan tarif secara wajar untuk penumpang becak, menyelenggarakan kegiatan-kegiatan bersama seperti penyambutan hari kemerdekaan, mengumpulkan dana solidaritas untuk keluarga dan anggota-anggotanya yang sedang kena musibah seperti sakit dan kecelakaan dan lain sebagainya dalam bentuk Dana Sosial. Mereka menyelenggarakan kegiatan pertemuan rutin bulanan yang dilakukan setiap tanggal 2 di awal bulan untuk membahas perkembangan organisasi, laporan-laporan keuangan dan kegiatan-kegiatan organisasi mereka sendiri. Pada intinya mereka mendirikan organisasi ini seperti membangun sebuah keluarga untuk hidup bersama yang diharapkan dapat memberikan manfaat lebih baik bagi kehidupan mereka.

Dilaporkan oleh Pengurus pada acara rapat tanggal 2 Agustus 2009 lalu bahwa Group Perjaka ini telah mampu menyusun modal tabungan anggotanya sebesar 11.575.000 rupiah dari jumlah anggota saat ini sebanyak 43 orang. Mereka meminjamkan dengan bunga 10 persen (kesepakatan bersama untuk memupuk modal) dan plafon pinjaman ditetapkan maksimal dua kali jumlah tabungan. Group Perjaka ini juga telah mampu membebaskan seluruh anggotanya dari jeratan rentenir dengan tingkat kemacetan pinjaman yang diberikan kepada anggota sangat kecil, bahkan nyaris tidak ada atau nol persen.

Anggota-anggota yang tadinya masih menyewa pada Juragan Becak (pemilik becak) dengan tarif sewa yang memberatkan, juga sudah mereka tinggalkan dan mereka dapat mengayuh becak mereka sendiri dengan cara meminjam uang di Group Perjaka. Mereka juga merasa mendapatkan manfaat yang nyata dengan sistem pinjaman yang lebih cepat dan layak ditengah segala kesulitan ekonomi yang mereka rasakan selama ini. Seperti kita pahami bahwa, mudahnya persyaratan fasilitas kredit yang diberikan oleh para dealer motor sejak awal tahun 2000-an telah membuat sebagian besar pelanggan mereka yang memiliki sepeda motor dan pada akhirnya turut menurunkan jumlah pendapatan mereka.

Dalam upaya untuk gethok tular (berbagi informasi) bersama dengan komunitas lain, Group Perjaka ini pada tanggal 27 Agustus 2008 juga pernah mengundang pangkalan lain dalam sebuah pertemuan yang dihadiri oleh 83 orang yang mewakili 5 pangkalan becak di sekitar Purwokerto. Maksud dan tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mempererat tali persaudaraan dan menyusun program kerja bersama. Dari presentasi masing-masing pangkalan setidaknya dapat dilihat bahwa mereka membutuhkan sebuah payung organisasi bersama yang dapat difungsikan untuk meningkatan kemampuan mengelola kelompok pangkalan masing-masing serta mengangkat potensi yang mereka miliki untuk mengangkat taraf hidup mereka. Dalam pertemuan tersebut dicapai kesepakatan bersama bahwa mereka membutuhkan kerjasama dan payung organisasi bersama.

Purwokerto, 20 Agustus 2009

Suroto


Artikel ini memiliki: 0 KomentarRating 0

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »