Oleh: Suroto
PROLOG
Bisnis ritel model toko,minimarket, supermarket hingga hypermarket di Indonesia memiliki potensi dan prospek yang masih cukup cerah. Kalau di Negara-negara maju rasio supermarket dan jumlah konsumen yang dilayani sebesar 1 : 30.000, di Indonesia rasionya baru sekitar 1 : 300.000. Kondisi ini juga terlihat dari perkembangan usaha retail di Indonesia dalam dasa warsa terakhir yang mengalami perkembangan cukup pesat. Walaupun belum ada data statistik yang pasti tentang perkembangan usaha ini, namun bila dilihat dari perkembangan gerai yang mereka dirikan menunjukkan kecenderungan terus ber-ekspansi. Para pelaku usaha disektor ini baik itu pemain lokal, asing tarus saja mengembangkan sayap bisnisnya, di kota-kota besar maupun kota-kota kecil, sudah mulai terlihat geliatnya dengan munculnya berbagai pusat-pusat pembelanjaan seperti minimarket hingga supermarket.
Kalau usaha model ini paa dua dekade yang lalu di Indonesia masih diusahakan secara tradisional oleh pengusaha kecil. Saat ini telah berubah dan menjadi basis bisnis yang menarik bagi pengusaha-pengusaha besar. Imbasnya toko-toko kecil yang tidak segera melakukan langkah-langkah pengembangan dan bermain strategi akhirnya banyak yang mati secara pelan-pelan dan mulai ditingalkan oleh para pelangannya yang mulai beralih ke model pasar modern seperti minimarket, supermarket, hingga hipermarketyang menggunakan konsep yang sama sekali berbeda. Sistem pelayanan yang prima, seperti self service, enjoyable, higienis dan cepat. Masyarakat semakin rasional dalam membuat pilihan. Walaupun sebagian ada yang masih bertahan dikarenakan memang keunggulan-keunggulan spesifik dalam menjalin pola komunikasi dengan konsumennya. Disamping memang persaingan yang belum begitu ketat.
Terus berkembangannya usaha di sector retail memang dipengaruhi oleh banyak faktor. Selain rasio normal dari jumlah pasar yang dilayani dibandingkan dengan julah Outlet yang ada memang masih belum seimbang, faktor lain yang turut mendukung dikarenakan sektor usaha ini memang dianggap cukup mapan (enstablish) karena berhubungan dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat dan tidak terlalu terpengaruh oleh dampak krisis. Masyarakat dalam kondisi apapun tetap membutuhkan jasa pelayanan ini karena menyangkut dengan kebutuhan sehari-hari (convenient goods). Di samping faktor penting lain seperti tingkat daya beli masyarakat yang terus mengalami perbaikan sejak krisis ekonomi, munculnya berbagai produk baru yag semakin variatif, perkembangan teknologi dan informasi dan lain sebagainya.
Perlu dipahami bahwa di tengah arus globalisasi dan kecenderungan pasar yang semakin liberal perubahan perilaku konsumen yang begitu cepat saat ini, banyak hal-hal yang perlu di antisipasi terutama oleh para pebisnis lokal kecil dan menengah untuk terus meningkatkan kualitas manajemen serta perluasan jaringan kerjasama di tengah persaingan bisnis yang semakin terbuka bagi pemain-pemain asing ke depan. Di bisnis retail ini dan terutama di kota-kota besar telah bermunculan pemain-pemain dari luar negeri baik dalam bentuk franchise maupun pendirian full outlet.
Pengalaman yang cukup lama, bisnis permodalan yang kuat serta penguasaan teknologi yang lebih cangih dari pemain asing tentu akan dengan sangat cepat melibas para pemain-pemain lokal bila tidak terantisipasi dengan baik. Strategi-strategi inovatif perlu terus dikembangkan untuk mempertahankan pasar serta pengembangan pangsa pasar (market share) dari pasar potensial yang ada.
SWOT (STRENGTH, WEAKNESS, OPPORTUNITIES, TREATHMENT)
Berdasarkan pengamatan lapangan, ada beberapa kekuatan, kelemahan, peluang, dan strategi penting yang perlu dilakukan oleh para peritel kecil agar mampu bertahan di era globalisasi ini adalah sebagai berikut :
1. Kekuatan (strength) :
Pola komunikasi yang telah terjalin baik selama ini dengan konsumen
Kepemilikan tempat-tempat strategis
komunitas yang telah terbangun selama ini
Pemahaman terhadap perilaku konsumen dan pola sub-sub kultur yang ada di masyarakat
2. Kelemahan (weakness)
Profesionalisme manajemen yang masih rendah dan bergantung pada hubungan family
Struktur permodalan yang belum kuat dan akses terhadap perbankan yang masih minim
Kurangnya keterbukaan akses terhadap perkembangan teknologi dan informasi yang penting.
3. Peluang (Opporunities)
* Pasar potensial yang masih terbuka luas..
4. Ancaman (treath)
+* kekuatan modal asing yang sewaktu
+* Kurangnya penegakkan UU anti monopoli dan kekuatan modal besar untuk mempengaruhi kebijakan penempatan Hipermarket
untuk menghalau semua ancaman yang ada, model Toko komunitas (community store) karena segmentasinya di dasarkan pada komunitas tertentu bisa jadi pilihan strategi para peritel lokal. Pada prinsipnya model pengembangan ini adalah pembentukan pasar yang spesifik pada target pasar yang masuk dalam skala ekonomis tertentu yang dijalin secara intensif dalam pola komunikasi tertentu. Praktek-praktek program lainnya adalah seperti pembentukan member benefit card,community club atau dalam model system poin partisipasi pada toko koperasi dengan pembagian keuntungan bersama
DUKUNGAN PENTING BAGI PERITEL KECIL
Usaha kecil menengah yang bergerak di sektor ritel ini sebetulnya memiliki berbagai potensi yang cukup strategis untuk terus dikembangkan sebagai basis ekonomi rakyat dan daerah. Mengingat sektor usaha kecil memiliki fungsi srategis untuk menciptakan peluang kerja dan juga berwirausaha, sebagai stabilisator ekonomi, intermediasi produsen terhadap konsumen dalam memperlancar arus barang dan lain sebagainya. Dimana kesemuanya sesuai dengan visi pemerintah dalam mewujudkan system ekonomi kerakyatan dan menghadapi tantangan globalisasi. Sumbangsih dari berbagai pihak baik pemerintah maupun lembaga-lembaga nirlaba lainnya sangat diperlukan untuk menyiapkan mereka menghadapi era globalisasi. Sehingga konstribusi mereka akan lebih baik lagi bagi perekonomian nasional.
Untuk itu ada beberapa hal yang bersifat strategis yang perlu dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini :
1. Program perubahan mindset yang dapat disponsori juga oleh pemerintah, organisasi-organisasi nirlaba yang berhubungan dengan pembinaan usaha kecl dan menengah yang dikoordinasikian melalui basis asosiasi. Program-program ini dilakukan dengan berbagai kegiatan baik diperuntukan bagi pebisnis dan pelatihan, pendampingan manajemen dan lain sebagainya
2. Program pengembangan teknologi dalam system agar dicapai efisiensi kerja yang maksimal serta pelayanan yang prima
3. Dukungan pemerintah secara kongkrit dalam penugasan terhadap lembaga perbankan dalam pengalokasian kredit tanpa jaminan terhadap peritel kecil/pemula dalam pengembangannya.
4. Memberikan perlindungan bagi peritel kecil dan pertegasan sanksi hukum terhadap praktek undang-undang antimonopoli
5. Berperan sebagai fasilitator bagi munculnya persenyawaan sinergis kerjasama antar peritel kecil maupun dalam rangka menjalin hubungan kerjasama dengan pihak-pihak luar lainnya.
PENUTUP
Persaingan global yang semakin terbuka pada saatnya akan membuat persaingan dalam bisnis ritel di Indonesia semakin ketat. Berbagai kelemahan para peritel kecil perlu segera di antisipasi sehingga dapat terus survive dan atau dapat mengembangkan sayap bisnisnya. Dalam hal ini perlu dilakukan diagnosa secara menyeluruh untuk menentukan strategi program yang penting dalam menghadapinya. Dukungan dari berbagai pihak dan terutama pemerintah dalam hal ini sangat penting agar para peritel kecil tetap eksis, setidaknya agar tidak tergilas habis. []
Artikel ini memiliki: 2 Komentar • Menarik +2