Siapa Saya di Politikana? • penulis: R A P, 27 Juli 2009 09:16:48 • 123 KomentarMenarik +10

Tulisan ini dimaksudkan untuk menyampaikan pandangan dan alasan saya (dan mungkin juga mewakili suara sebagian member Politikana yang mempunyai alasan serupa) mengapa memilih menjadi member anonim  di tengah-tengah ajakan agar mencantumkan identitas yang jelas dan terbuka di Polikana.

Saya termasuk salah-satu member yang tidak menggunakan “identitas asli” di Politikana, walaupun untuk beberapa teman yang akrab nama pena yang saya pakai akan mudah dikenali karena diambil dari huruf-huruf pertama nama asli saya yang lumayan panjang. Lalu, mengapa saya memilih untuk tidak beridentitas dengan jelas? Kalau ada anggota-anggota lain mempunyai alasan-alasan tertentu yang sedikit “serius” (semisal karena status politiknya, status pekerjaannya atau karena masa lalunya); maka saya berangkat dari alasan yang sangat sederhana, yakni karena merasa belum pede berinteraksi di dunia maya yang sungguh masih serba baru buat saya. Bukti, ketika berbincang sambil menikmati nasi gudeg dengan para petinggi Politikana selepas acara kopdar Jogja, terlontar cerita dari salah-satu petinggi Politikana yang mengatakan bahwa ada fenomena beberapa orang mulai malas meng-update blog mereka dan lebih memilih menuangkan tulisan-tulisan mereka di Politikana. Saya masih ingat kemudian (kalau tidak salah Mas Didi) menanyakan apakah kami yang hadir di situ juga demikian? Beberapa dari kami mengiyakan, sebagian tidak dengan disertai argumen-argumen yang mantap; sementara saya hanya bisa mesam-mesem sok jaim karena sesungguhnya seumur-umur belum pernah mempunyai/membuat blog.

Sejauh ini, selain di Politikana, saya paling banter mempunyai akun di Facebook yang mendaftarnya pun harus mendapatkan bantuan dari anak saya yang jauh lebih mumpuni karena mendapatkan pelajaran tentang komputer/internet dari sekolahnya. Yah, begitulah kenyataannya, di dunia interaktif internet saya termasuk golongan LUGU (pemaLU dan GUmunan). Saking LUGUnya, saya juga sampai merasa belum pantas ketika pamor saya mulai menyundul masuk peringkat “warga terpuji”, dan memilih untuk berhenti berinteraksi di Politikana untuk beberapa hari agar pamor saya melorot dan aman dari posisi yang membuat saya harus masuk klasifikasi tadi. Mungkin sikap saya menjadi aneh dan lucu di pandangan sebagian orang, ya tidak apa-apa..  Istilah “terpuji” terlalu istimewa bagi saya yang baru saja lahir ke dunia interaksi internet. (tetap berharap semoga istilah itu suatu hari diganti oleh para pengelola Politikana menjadi “teraktif”, misalnya.).

Masih dari bincang-bincang selepas kopdar Jogja, dari Mas Enda saya mendapatkan informasi bahwa jumlah member politikana sudah mencapai kisaran angka 3000. Woow !!  Kalaupun berasumsi setengahnya adalah kloning, berarti masih ada sekitar 1500 member asli di sana. Tetap saja, woow !!!Namun, kalau mencoba memperhatikan posting, komentar maupun rating yang tertera di Politikana, saya melihat hanya sekitar 100 lebih yang aktif. Lalu di mana seribuan member yang lain? Sulit untuk mencari tahu, tetapi saya yakin sebagian dari mereka juga termasuk golongan LUGU, yang tingkatannya mungkin lebih akut dari saya; tetapi sungguh ingin mendapatkan sesuatu dari Politikana walaupun secara pasip. Sekedar intermezzo, saya jadi teringat diskusi di kopdar Jogja, ketika seorang teman yang belum terdaftar di Politikana bertanya, “Pendaftaran di Politikana tutupnya jam berapa, ya?” Braakkkk….

Lalu siapa saya dan sekelompok orang-orang LUGU di Politikana?  Seperti yang saya sampaikan di atas, kami hanyalah orang-orang yang ingin mendapatkan sesuatu yang positip dari Politikana. Ingin belajar dan mendapatkan wawasan baru secara nyaman. Biarkan kami tetap LUGU (pemaLU dan GUmunan), sembari berlatih meningkatkan keberanian dan kemampuan; sampai waktunya nanti menjadi LUCU (LUmayan dan CUkupan) untuk beridentitas dengan riil di situs ini.

 


 

 

 

(Lihat foto: Siapa Saya di Politikana?)


Artikel ini memiliki: 123 KomentarMenarik +10

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »