Aksi teror bom di Indonesia memang tak sekerap yang terjadi di negeri korban teror lain seperti di Wilayah Arabia. Hanya karena bom jenis lain-lah, maka negeri ini menjadi tampak menakutkan. Seolah Indonesia adalah negeri yang penuh bom, Inbombnesia.

In Bloom We Trust, and The Bomb We Curst!
Bom jenis lain itu dirangkai oleh sebagian jurnalis yang tak jujur beranalisis, atau setidaknya tak cerdas menerjemahkan data. Mengolah kenyataan menjadi pernyataan yang bombastis. Dan Buum!... muncul lagi travel warning, ada penghentian hajat olahraga, penilikan ulang pergelaran musik, dan seterusnya. Departemen kepariwisataan menjadi korban langsung pertama bukan manusia. Tapi untungnya Pertiwi memang terlalu cantik untuk tak dilirik wisatawan. Tetap seksi meski kakinya diamputasi. Karenanya saya percaya bahwa kesepian itu kalau toh terjadi, pasti takkan berlangsung lama.
Memang sih, pastilah kita sedih setiap menandang tragedi kemanusiaan di negeri ini, atau di manapun. Lalu meruak keluh dan marah kepada siapa saja, termasuk diri-sendiri. Kalaupun yang tampak di permukaan adalah nestapa, tak terima, dan sikap curiga, saya toh juga selalu percaya bahwa di relung nurani kita terdapat sekuntum bunga. Bunga yang selalu memekarkan kelopak bangga, menebar aroma cinta. Bangga akan Indonesianya, cinta kepada negerinya. Itu ada terpendam dalam lubuk laten setiap manusia Indonesia. Seperti Pertiwi yang menumbuhkannya, saya percaya kepada wangi bunga, dan bersamanya mengutuk mereka yang menebar ledakan beraroma kematian.
Setiap ledakan bom adalah ibarat suntikan vaksin bagi bangsa, setiap bencana adalah pemicu antibodi bagi negeri. Maka tepat rasanya di dekat papan nama Hotel Ritz Carlton tertulis pesan dalam sepucuk kertas merah; "We Are Not Afraid, They Only Make Us Stronger". Teror tampaknya melahirkan generasi yang malah bersikap antipati terhadap kemauan si pelaku. Generasi yang justru marah dan berani melawan si teroris. Si pengecut memang juga terlahir, tapi tak lain adalah dia yang lantas mati bunuh diri saat itu pula. Pelaku bunuh diri boleh anda sebut sebagai orang yang "Berani mati", tapi sesungguhnya cukup pantas pula kita teruskan dengan frasa "Takut hidup" di belakang sebutan itu.
Bambang Bermain Bola, Hasbi Bermain Bom
Manusia adalah mahluk bermain (Homo Ludens), namun apakah teror juga sebuah bentuk permainan? Kalau Budi yang mengajak bermain bola, MU-pun akan berteriak kompak; "MAU!". Cerita jadi berbeda ketika yang muncul nama Hasbi dengan mainan bom, segera mereka serempak menolak. Hasbi meledak termasuk bola-nya. Saya jadi bertanya-tanya, "Kalau memang betul dikelilingi bidadari surga, buat apa pula dia ke sana tanpa bola?". Ah sudahlah, tak perlu membicarakan bola yang telah pecah.
Bom telah meledak, dan dengan cekatan Bambang menguasai bola mati. Bambang bukan kakak Budi. Dia atasan Budi. Saya melihat Bambang paham benar untuk memanfaatkan momentum yang tengah panas. Tuan Presiden itu menggelar konferensi pers sebagaimana galibnya pemimpin ketika semua perlu mendapat informasi resmi. Tentu bagus adanya. Namun menjadi amat berlebihan ketika dia melempar bola, menaruh informasi yang bersifat puzzel, yang seolah memiliki sisi singgung tepat antara pelantikan dengan pemboman. Dan para wartawan dengan senang menerima umpan asis itu, terarah untuk merapatkan puzzel yang ditaruh presiden. Apakah puzzel itu tepat? Apakah dua kejadian itu saling berhubungan? "Kita tunggu saja, kita serahkan POLRI untuk menanganinya secara obyektif", begitu klausul penting yang dilansir presiden dan diabaikan wartawan.
Presiden tahu sekali keping puzzel itu tak nge-pas. Dia memang memiliki agenda lama untuk menangkap si pelanggar HAM yang lolos itu, namun sungguh diperlukan momentum tepat dalam setiap kinerja politik. Kalaupun tercipta rusuh akibat ketaksetujuan akan hasil pemilu, itu belumlah cukup menjadi sebuah momentum kuat untuk bertindak. Bowo adik Wati dalam Pemilu 2009 itu begitu licin bagai belut, begitu kuat karena gemuk dan besar seperti kerbau Pak Madi. Bom meledak, dan Bambang mendapatkan momentum itu.
Segeralah ditaruh keping puzzel (yang bisa saja dibikin BIN), ditabur bumbu dizolimi instan rasa bawang, tunggu mendidih, angkat, dan santap tangkap selagi hangat. Saya agak meragukan keberanian presiden Susilo Bimbang Bambang Yudoyono yang terkenal peragu itu. Tapi kali ini sungguh berharap dia bertindak "Lebih Cepat Lebih Baik" kalau memang "Pro-rakyat".
Ayo Bambang, Lanjutkan Berburu belut. Baik belut ultra nasionalis, belut fasis, pun belut fundamentalis. Semoga bersama Budi kamu juga bisa, meski sementara orang menduga-duga dia sebagai belut neo-liberalis.
Copyleft © martoart
Artikel ini memiliki: 14 Komentar • Biasa +2