[COPAS] Prasetyo Pribadi: MEMORY 2004, JANGAN TERULANG KEMBALI DI 2009: Detik-detik terbentuknya tim ekonomi SBY-Kalla • penulis: Dave Kujan, 15 Juli 2009 11:19:03 • 6 KomentarMenarik +5

Layaknya sebuah pernikahan, pertarungan kuasa siapa yang pegang kendali rumah tangga isteri atau suami biasanya terjadi di bulan-bulan pertama pernikahan, berbagai macam strategi dilancarkan baik
dari pihak suami ataupun isteri. Begitu pula pada penguasa-penguasa Indonesia setelah era Sukarno-Suharto, semuanya penuh hitung-hitungan. Memang bila dipikirkan tidak mungkin SBY yang meraih kemenangan besar musti tunduk pada pendampingnya yang kekuasaannya jauh lebih kecil. Tapi Kalla bisa bersikap sebagai kancil, Ia berpendapat bisa saja SBY menang dalam Pemilu, tapi ia bisa saja dijatuhkan jikalau tidak dilingkari partai politik yang kuat, seperti kasus Gus Dur. Dimana pada awalnya Gus Dur meraih dukungan karena popularitas di parlemen juga karena akal-akalan Amien Rais namun ternyata, Gus Dur dijegal di tengah jalan sekaligus setengah dipermalukan. Kesalahan Gus Dur hanya satu..tidak punya partai yang kuat. Dan kini Kalla memilikinya, lalu SBY musti membayar semua itu.

Ada kisah menarik dalam drama pertarungan politik G-30-S, empat puluh tahun lalu, tanggal 1 Oktober 1965, yaitu dalam satu hari kekuasaan Republik Indonesia, tiga kali berpindah tangan. Jam enam
pagi, di tangan Dewan Revolusi pimpinan Letkol (TNI/Inf) Untung Bin Sjamsuri yang melakukan gerakan sepihak dengan membunuhi enam Jenderal dari Staff Umum Angkatan Darat. Jam sepuluh pagi kekuasaan berpindah kembali ke tangan Sukarno yang menghendaki perubahan di struktur kabinet dan pembenahan jalannya revolusi, serta kebingungan akibat terbunuhnya enam Jenderal dan sikap konyol gerakan Untung, kekuasaan Sukarno hanya sampai jam lima sore, karena jam itu. Major Jenderal Suharto mengumumkan di radio RRI bahwa dialah pemegang kekuasaan di Angkatan Darat sekaligus bersumpah mengejar pembunuh para Jenderal dan mengecap gerakan Untung adalah kudeta. Dan sejak jam itu kekuasaan Sukarno tak pernah pulih dan Gerakan Untung mendapat nasib sialnya.

Begitu juga yang terjadi pada detik-detik formasi kabinet di tahun 2004, terutama jabatan-jabatan strategis di bidang keuangan. Pada hari rabu (12/10/04) pagi jam delapan SBY masih memegang kendali
kekuasaannya, Ia memutuskan bahwa Menko Ekonomi Budiono atau Purnomo Yusgiantoro, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Ketua Bapenas Marie J Pangestu. SBY secara bulat menegaskan inilah formasi ideal, pertama-tama suara mendesis muncul dari partai-partai Islam yang tidak menyukai kehadiran Marie, yang dianggap representatif dari CSIS, sebuah organisasi yang sempat memiliki reputasi buruk dimata kaum politisi Islam. SBY tidak mempedulikan suara dari partai-partai Islam yang kecil ini.

Tapi ancaman hebat terjadi jam sepuluh saat itu Kalla secara mengejutkan membawa nama Aburizal (Ical) Bakri sebagai tokoh utama koordinasi ekonomi, sinyalemen naiknya Ical langsung membuat goncang jaringan konglomerasi Cina, dengan segera mereka mendesak agar jangan sampai Ical menguasai otoritas ekonomi di Indonesia, apalagi Ical akan membawa gerbong pengusaha pribumi yang dikenal pesaing keras terhadap kelompok Jaringan Konglomerasi Cina, semacam Rahmat Gobel ataupun Fadel Muhammad. Usaha kelompok konglomerasi ini berhasil menggagalkan gerbong Ical tapi untuk Ical, Kalla sudah terlanjur kepala batu.

Bencana itu datang ketika Marie J Pangestu dan Sri Mulyani serentak mengundurkan diri bila bukan kelompoknya yang naik, Sri Mulyani lebih menghendaki Budiono atau Purnomo Yusgiantoro atau Dorodjatun Kuntjorojakti sebagai kepala tim ekonomi. SBY yang sempat dilanda kebingungan, akhirnya musti memutuskan jalan tengah yang pahit, yaitu tetap mengangkat Bakri tapi juga mengangkat Jusuf Anwar, seorang birokrat yang kurang menonjol prestasinya dan sudah menjelang pensiun, Jusuf Anwar dijadikan SBY sebagai benteng dan pengacau koordinasi, sekaligus informan bagi SBY terhadap kerja Bakri. Loyalitas Jusuf Anwar hanya satu, yaitu pada SBY, lain tidak. Inilah kenapa banyak orang mengendus Jusuf Anwar kurang mampu mengembangkan irama koordinasi, sementara Ical terlihat limbung melihat permasalahan ekonomi yang jauh lebih kompleks ketimbang hanya mengurus perusahaan go publik ataupun mencairkan hutang trilyunan di bank. (Kelak dikemudian hari tugas Jusuf Anwar mengacaukan koordinasi tim ekonomi berhasil diselesaikan dengan baik dan
membuka jalan naiknya Sri Mulyani dan Budiono. Mundurnya Jusuf Anwar bukan kegagalan tapi justru keberhasilan strategi SBY untuk mendepak Aburizal Bakrie.)

SBY membiarkan Kalla menjalankan apa maunya, tapi ia tetap akan mengangkat Sri Mulyani sebagai menteri keuangan bila saatnya tepat (dikemudian hari) dan mendorong untuk lebih memperkuat jaringan
kerjasama internasional terutama pembicaraan baru terhadap IMF sebagai institusi pendonor dana pembangunan.

Keesokan harinya, SBY dilihat orang sebagai pihak yang kalah dengan mengangkat Aburizal Bakrie dan Jusuf Anwar ke dalam tim ekonomi, tetapi ia masih mengulur waktu.

Dan waktu itu datang.

Masih ingat ketika Gus Dur memberhentikan Wiranto, bukan di Jakarta tetapi disebuah negara yang jauh dari Indonesia. Gus Dur tahu Wiranto masih sangat kuat tetapi ia harus memotong jalur Wiranto agar tidak terjadi persaingan yang sedemikian keras di tubuh Angkatan Bersenjata akibat rivalitas Wiranto dengan Jenderal yang sudah dipecatnya Prabowo dan juga Gus Dur ingin memuaskan tuntutan kaum reformis agar Wiranto dipecat. Begitu juga SBY merombak kabinet dengan langkah utama menyingkirkan Aburizal dalam tim ekonomi, tetapi pengumumannya di Medan jauh dari pusat kekuasaan

Hari Jumat (2/12/05) setahun setelah berjalannya mesin Ical, SBY melakukan gerakan politik yang cukup mematikan terhadap kelompok Kalla. Setelah diisukan berbulan-bulan bahwa SBY kini dibawah kendali Kalla, dan tidak menjalankan tugas sebagai Presiden yang sejati, kini SBY sudah melakukan serangan politik ke Kalla.

Pertama kali serangan itu dilakukan di Medan. SBY melakukan ini karena ia ingin tahu basis dukungannya
diwilayah Sumatera, apakah siap bila ia akan bertarung frontal dengan Kalla. Golkar di Sumatera lebih bersimpati pada Akbar Tanjung ketimbang pada Jusuf Kalla, sekaligus SBY memastikan kekuatan di
luar Golkar yang akan berpihak padanya seperti PAN di Sumatera Barat bahkan PDI-P di Sumatera Utara yang terkenal radikal.

SBY mulai melancarkan politik koridor, ia membangun simpati lawan-lawan politiknya terutama Megawati dan Gus Dur, karena hanya dua orang inilah yang bisa melakukan persaingan sengit dengan Golkar. Akbar Tanjung yang tadinya akan ditarik ke tubuh Partai Demokrat, ternyata masih jadi kartu bagus untuk melawan Kalla, maka Akbar tetap dipertahankan di Golkar.

Pihak Kalla jelas kaget dengan sikap SBY yang bulan-bulan belakangan memberi harapan bahwa Aburizal tidak akan diganti, hanya Jusuf Anwar saja, sesuai dengan permintaan Kalla. Lantas dengan cepat
Kalla mengkonsolidasikan kekuatannya untuk berhadapan dengan SBY di Jakarta, perang mulut terjadi diantara mereka dari jam 7.00 malam sampai jam 2.00 pagi, kemudian dilanjutkan pada minggu hampir seharian. SBY ngotot Sri Mulyani musti naik, dan Kalla jelas merasa dipermalukan dengan SBY karena selama ini ia sudah diatas angin dan SBY tidak memperdulikan orang-orangnya di Golkar. Agung Laksono ketua DPR melakukan pendekatan kepada pihak SBY tapi SBY tetap menolak, bahkan keputusannya dianggap final. Bahkan tawaran netral Sugiharto (menneg BUMN) untuk dijadikan menteri keuangan ditolak mentah-mentah oleh SBY.

Kalla yang mulai tinggi amarah politiknya justru bersiap menjawab tantangan SBY dengan melakukan sebuah perlawanan di kabinet dengan membuat garis yang lebih tegas lagi bahwa ada wilayah-wilayahnya yang tidak bisa disentuh SBY, Kalla tidak mau dipermalukan dengan disingkirkannya Aburizal karena dengan demikian kendali politik dibidang ekonomi terlepas dari tangannya, Ia sangat tidak menyukai Budiono dan Sri Mulyani yang dianggap sebagai karyawan IMF, dalam hal ini Kalla menjadi
berhaluan sosialis-kiri dan sikap kanan Kalla tidak nampak terlihat. Tapi SBY sudah bersiap menghadapi amarah Kalla ia pun membangun formasi perlawanan tapi ia sadar amunisi politiknya sudah 'old crack' maka ia dengan cerdik mengeluarkan senjata lama tetapi cukup mematikan.

Dan senjata pamungkas-pun dikeluarkan SBY...Kekuatan Jawa... Seakan-akan mengikuti jejak Bung Karno dalam mengumumkan perang antara RI dengan Kerajaan Belanda dalam klaim terhadap Irian Barat dan mencanangkan operasi militer Trikora, SBY mengumumkan genderang perang dengan
Kalla di Yogyakarta.

Ada anekdot-anekdot lucu dibalik Yogyakarta dipilih oleh Bung Karno sebagai tempat memutuskan perang dengan Kerajaan Belanda yang bisa saja memancing Amerika Serikat dan Inggris karena Sukarno menggunakan amunisi Uni Soviet dalam mempersenjatai militer Indonesia. Kata orang Sukarno
berkonsultasi dengan Ratu Kidul penguasa pantai selatan, dan diijinkan membawa bala tentara Ratu Kidul tapi setelah operasi trikora selesai Bung Karno lupa pamit pada Ratu Kidul sehingga banyak anak buah Ratu Kidul tersasar kemana-mana, dan bentuknya adalah mewabahnya tikus-tikus sawah dan kekeringan, ini barus diselesaikan ketika ada acara ruwatan lewat pertunjukan wayang barulah bencana usai.

Tapi jelas SBY bukan meminta bantuan Ratu Kidul tapi kepada Sri Sultan Hamengkubuwono X, simbolisasi budaya Jawa. SBY tahu bahwa Kalla kini bukanlah teman sepaham tapi justru menjadi musuh dalam
selimut, dan SBY jelas jauh ketinggalan dimana-mana dalam posisi politik dengan Kalla, hanya satu dia
menang. SBY orang Jawa. Dan Kalla menyadari itu dari awal bahwa dia tidak akan bisa menang bila sentimen kedaerahan dimunculkan sebagai senjata pertarungan, karena penduduk Yogyakarta plus Jawa tengah saja lebih banyak jumlahnya dari penduduk seluruh Sulawesi. Kalla berkali-kali mengucapkan dia tidak mungkin jadi Presiden karena dia orang bukan Jawa. Tapi kenyataan politik menjawab lain Kalla terus menerus membangun armada politiknya untuk bersiap menghadapi Pemilu, bahkan dalam jangka pendek menyaingi SBY, suatu hal yang dapat membuat lawan-lawan politik terkesiap, termasuk Megawati dan Amien Rais


Di Yogyakarta-lah SBY menembak Kalla, membangun jarak dan ruang tembak agar tepat untuk merobohkan kekuatannya tetapi tidak mematikan, karena bagaimanapun tujuan SBY terbatas hanya untuk mengendalikan Kalla. Tapi beda dengan lawan-lawan politik Kalla, Megawati, Amin Rais, Gus Dur, beberapa golongan Nasionalis kecil, Islam politik, Golkar Jawa-Sumatera pro-Akbar Tanjung dan kelompok sosialis kiri bersiap menghadapi Kalla sekaligus menghadapi Kalla. Bagaimanapun bintang terang Kalla membahayakan posisi mereka menjelang Pemilu 2009.

Persekutuan politik terselubung untuk menggusur Kalla kini sudah terbentuk dan SBY masuk ke dalam zona persekutuan itu mau tidak mau justru dialah yang seakan menjadi pemimpin dan nampak dipermukaan untuk menantang Kalla secara terang-terangan, SBY berdiri di depan. Sementara para jago politik masih menyimpan senjata politik dan energi mereka, Megawati membenahi parlemen, Gus Dur menghantam kelompok Alwi Shihab yang mencoba mengkudeta wibawa Gus Dur dan SBY sudah deal untuk menyenangkan Gus Dur menendang Alwi Shihab, Amien Rais sibuk membangun citra politik partainya sebagai partai berhaluan nasionalis-pluralis sementara kaum politisi Islam berjalan di tempat menunggu arah angin politik, kelompok sosialis kiri bersiap memasuki kandang-kandang politik favorit mereka yang saat ini masih terdapat pada PDI-P dan PKB. Sementara militer jelas bulat di belakang SBY.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=124526636417

 


Artikel ini memiliki: 6 KomentarMenarik +5

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »