Dari hasil jajak pendapat Kompas mengenai evaluasi hasil pilpres 2009, ternyata mayoritas responden yang merupakah pemilih semua pasangan capres dan cawapres dapat menerima hasil hitung cepat yang memenangkan pasangan SBY-Boediono.
Tingkat penerimaan pemilih SBY-Boediono terhadap hasil hitung cepat tentu paling tinggi yaitu 92%, disusul 78,4% dari pemilih Megawati-Prabowo, dan kemudian 75,9% pemilih pasangan JK-Wiranto.
Diantara dua capres yang sementara ini memperoleh suara diurutan ke dua dan ketiga, baru Jusuf Kalla yang memberikan ucapan selamat atas kemenangan sementara pasangan SBY-Boediono. Walaupun JK mengatasnamakan pribadi dan kapasitasnya sebagai capres, tetap saja harus dihargai kebesaran hatinya untuk menyampaikan hal tersebut kepada lawannya.
Sedangkan capres Megawati masih berat hati memberikan ucapan selamat dengan alasan menunggu hasil resmi KPU sembari mengumpulkan bukti-bukti kecurangan pilpres. Dalam ini, kebesaran hati pemilih Megawati-SBY alias rakyat lebih besar dalam menerima hasil hitung cepat. Persentase penerimaannya lebih tinggi 2,5% dari pemilih JK-Wiranto.
Semoga setelah membaca evaluasi hasil capres, capres Megawati pun bisa menghargai ketulusan hati para pemilihnya yang sebagian besar bisa menerima hasil sementara pilpres dengan memberikan ucapan kepada pemenang sementara.
Bila tak nyaman sebagai capres, mungkin, beliau bisa mengikuti trik Jusuf Kala. Dengan kapasitasnya sebagai ‘mantan presiden’ seperti yang selalu diucapkan beliau sewaktu mengikuti debat capres yang selalu mengucapkan kata “sewaktu saya menjadi presiden” ketika memaparkan visi dan misinya.
Nampaknya, para negarawan negarawati republik tercinta ini harus lebih banyak belajar dari rakyat bagaimana menyikapi proses demokrasi. Akhirnya memang hanya rakyat yang patut diberi ucapan selamat karena telah melewati pesta demokrasi dengan baik.
Artikel ini memiliki: 5 Komentar • Menarik +4