OOT: ini postingan pertama di sini, dan mungkin setengah curhat, jadi maaf kalo ga bagus.
Suatu hari di sebuah SMA negeri, di sebuah mentoring(paksa, karena mendadak ada mentoring pakai absen). Si mentor bercerita tentang pentingnya pendidikan dan seberapa tinggi derajat orang yang ilmunya tinggi. Namun si mentor mulai menghela napas.
"Sekarang tidak bisa begitu lagi. Kalian lihat sendiri seberapa mahal biaya sekolah sekarang! Sekolah unggulan yang harusnya mendidik siapapun yang mampu secara akademik, berlomba-lomba meraih ISO, agar mereka tidak menjadi sekolah gratis, dan dapat memasang tarif SPP yang mahal! Lihat universitas itu(menunjuk logo universitas di lengan bajunya)! mengurangi kuota penerimaan mahasiswa dari SNMPTN! bahkan sekitar 50% dari ujian mandiri yang biayanya mahal! tidak adil"
Semua peserta mentoring mengangguk-angguk, kecuali seorang peserta yang mengacungkan tangan
"Saya boleh tidak sependapat dan berpendapat di sini kan?"
Si mentor tampak menahan emosi dan mengizinkan
"Bukannya dari data yang ada, jumlah mahasiswa yang melalui ujian mandiri dengan TPA dan psikotes itu memiliki angka DO yang jauh lebih rendah dari yang melalui SNMPTN? Wajar dong kalau universitas lebih senang dengan mahasiswa dari jalur ujian mandiri. Dan subsidi universitas kan sekarang minim, sehingga wajar kan bila mereka mengadakan ujian mandiri begitu."
si mentor langsung memotong
"Ya itu komersialisasi! kuliah mahal, yang miskin tapi pintar tak bisa masuk, atau susah masuk!"
si peserta menghela napas, "loh, kan ada program beasiswa dari universitas. Seingat saya bila si calon mahasiswa mengirimkan proposal mengikuti ujian mandiri sambil memperlihatkan surat tanda tidak mampu, si peserta dapat mengikuti ujian mandiri, diberi transport, uang makan, dan uang saku selama mengikuti ujian mandiri. Kalau lulus ya, tidak akan dikenai biaya kuliah sama sekali, asalkan kuliahnya benar.
Sedangkan uangnya? dari mereka yang membayar mahal untuk ujian mandiri itu. Mereka juga ga dapet perlakuan khusus di kampus, mereka juga ga sadar kalo mereka yang bayarin para mahasiswa yang bayar nol, dan mensubsidi para mahasiswa penempuh SNMPTN."
Si mentor kok malah nampak agak geram?
"Tapi kan pendidikan tanggung jawab negara! Kenapa ga dibayarin negara?"
si peserta lagi-lagi geleng-geleng...
"Negara kan punya prioritas di wajib belajar 9 tahun, bukan wajib belajar 12 atau 16 tahun. Jadi, kalau emang negaranya ga mampu bayar, kenapa ga orang-orang berduit yang ngebayarin orang miskin kuliah? Kalau mereka pelit, kenapa harus bilang-bilang kalau uang mereka dipakai membayar kuliahnya yang miskin? Justru kalau semua SNMPTN, orang kaya malah makan subsidi orang miskin kan?"
-----------------------------------------------------------------------------------------
Sayang memang, informasi dengan topik biaya pendidikan sering dipelesetkan menjadi suatu hal negatif. Di sekolah yang RSBI dan SBI aja ada jalur masuk bagi mereka yang tidak mampu, pakai ujian mandiri yang serupa dengan para pengejar international class yang SPPnya dahsyat itu. mereka dimasukan ke international class dan ga bayar.
Universitas juga begitu, bahkan di kampus yang fakultas kedokteran biayanya selangit itu, ada beasiswa disediakan agar kuliah tidak bayar. Di Institut Teknologi yang ujian mandirinya sampai 2 gelombang itu(dituduh komersialisasi oleh beberapa organisasi mahasiswanya sendiri), tersedia banyak kursi untuk yang tidak mampu. Namun jangan salah, mereka juga diuji dengan soal ujian yang sama dengan para orang mampu, sehingga kalau mereka memang tidak berhasil menembus ujiannya... ya... salah sendiri...
Justru kita harus lebih prihatin ke SD. SD negeri sebagus apapun gratis. SD tak boleh menolak siswa, apapun latar belakang pendidikan keluarganya, etikanya, dan kecerdasan dasar siswanya. Peraturan membuat calon siswa SD dilarang menempuh ujian masuk. Akhirnya calon siswa diseleksi dengan umur, yang paling tua yang masuk duluan. Sedangkan list siswa yang masuk baru diketahui sekitar seminggu sebelum masuk sekolah. Apa siswa yang tidak diterima masih sempat mendaftarkan anaknya ke SD negeri lain? atau sempat memindahkannya ke SD swasta(yang bayar)?
-----------------------------------------------------------------------------------------
Artikel ini memiliki: 5 Komentar • Penting +2