SBY "Dikerjai" Kompas (?) • penulis: tkp, 29 Juni 2009 15:58:31 • 32 KomentarMenarik +10

Kunjungan yang berbuah petaka.

Tentang dugaan blunder SBY, dari mata awam saya yang subjektif, saya juga merasa melihatnya. Mungkin blunder di detik-detik akhir ini adalah kunjungan SBY sebagai presiden ke redaksi Kompas, Rabu, 24 Juni 2009 lalu.

Dari kunjungan itulah kredibilitasnya sebagai pemimpin yang mendukung penuh pemberantasan korupsi mulai dipertanyakan. Ketika ucapan pedasnya tentang KPK yang superbody terkutip jelas di halaman muka surat kabar nomor wahid di Indonesia itu, Kamis 25 Juni 2006.

Secara kasat mata, dan yang dipahami banyak khalayak, mungkin tujuan SBY menyambangi Kompas sebagai presiden itu untuk "mengingatkan" agar media lebih netral dalam Pilpres ini. Agar memberikan wacana yang sehat dan tak menimbulkan sikap antipati massa terhadap golongan tertentu.

Yah, itulah yang tampak secara umum dan kasat mata. Seorang presiden sedang "memberikan arahan" demi terciptanya situasi kondusif. Tapi, ah, buat saya, itu hanya semiotika politik untuk menutupi maksud sebenarnya kunjungan itu.

Kalau merunut sejarah masa lalu Kompas dan jejak afiliasi politiknya, koran ini secara terselubung (kadang terang-terangan malah) jelas mendukung salah satu kompetitor SBY dalam pilpres. Jakob Oetama terkesima dengan perjuangan Megawati sejak dulu. Mungkin karena motto yang diangkat serupa; Megawati: Untuk Rakyat Kecil, sementara Kompas: Amanat Hati Nurani Rakyat. Sama-sama mengusung jargon RAKYAT (maaf, di bagian ini mungkin terlalu ngawur, tapi saya hanya coba mengait-kaitkan saja).

Tak usah jauh-jauh menganalisa soal "keberpihakan" itu. Cari saja data Koran itu, 16 Mei 2009, di mana ketika sebagian besar koran di tanah air memilih kemegahan deklarasi SBY-Boediono di Sasana Bunga Ganesha, ITB, Bandung, yang digelar sehari sebelumnya, 15 Mei 2009, sebagai headline. Apa yang muncul di hari itu? Yap, sangat berbeda dengan kebanyakan surat kabar, Kompas memilih menampilkan kepastian Megawati-Prabowo maju dalam Pilpres, yang terlontar beberapa jam setelah deklarasi Sabuga. Kalau semua surat kabar dijajar hari itu, akan kentara jelas Kompas lah yang paling mencolok.

Dan coba simaklah Kompas selama masa pra dan sepanjang kampanye Pilpres, siapa yang paling banyak mendapat porsi di halaman muka? Kadang pernah dalam sehari ada tiga foto Megawati dipasang di cover. Mungkin saya terlalu buru-buru menyimpulkan ini, tapi dari pengamatan saya, saya bisa membaca kecenderungan Kompas itu.

Dan ketika elektabilitas SBY-Boediono perlahan namun pasti mulai menurun, karena ada "kekuatan vital yang tak mendukungnya", berkunjunglah SBY ke beberapa media, karena dia (mungkin) yakin, dengan "ramah" pada media yang sulit ditaklukkan, elektabilitasnya bakal terdongkrak lagi. Lumayan, buat penyokong lembaga survei yang sudah terbeli. Tujuan pertamanya adalah Kompas, media besar yang menurut dia mungkin menakutkan, "menyamar" sebagai presiden.

Tak banyak yang tahu "obrolan di balik bilik" kunjungan itu. Tapi bisa saja, ketika dia bilang "Seharusnya media massa itu netral dalam memberitakan Pilpres" di muka orang banyak, sebenarnya dia bermaksud; "Om Jakob, mbok saya juga dikasih tempat. Masa Bu Mega saja yang dapat..." (sambil senyam-senyum kaku). (Sesi ini hanya analisa saya yang sangat imajinatif. Tapi mungkin saja itu benar-benar terjadi).

Dan Om Jakob yang sudah terlanjur fanatik sama Megawati, risih dengan kedatangan dan rayuan itu. Di depan publik, yang ditampilkan memang tampak akur. Tapi, keesokannya, lhadalah, muncullah berita tentang KPK versi Presiden yang kontroversial itu. Nah lo. Isu pun terus menggelinding.

 

(Lihat foto: SBY "Dikerjai" Kompas (?))


Artikel ini memiliki: 32 KomentarMenarik +10

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »