Simsalabim! Muncullah Rani • penulis: tkp, 28 Juni 2009 19:57:00 • 20 KomentarMenarik +10

 

Tiba-tiba Rani Juliani ditampakkan di muka publik setelah sebulan lebih "diperam" polisi, dengan alasan keselamatan sebagai saksi kasus mahabesar. Dan Jumat, 26 Juni lalu, mantan primadona Padang Golf Modernland Tangerang itu ujug-ujug muncul di depan khalayak. Cling! Rani muncul untuk pertama kalinya sejak namanya rajin disebut.

Alasan polisi menampilkan Rani karena gadis (yang menurut banyak orang) cantik itu perlu dimintai keterangan untuk melengkapi berkas pemeriksaan Antasari, yang rencananya dirampungkan Rabu, 1 Juli 2009, tepat di Hari Bhayangkara nanti. Polisi kentara kejar target.

Rani tiba-tiba dikeluarkan ketika konstelasi politik tanah air memanas lagi. Ini setelah ada dua situasi yang sama-sama menuai prokontra. Pertama, pernyataan SBY ketika berkunjung ke KOMPAS, sehari sebelum Rani mendadak muncul, soal KPK. Institusi pemberantas korupsi itu dinilai terlalu superbody. SBY bahkan memperingatkan banyak orang agar hati-hati. Dan pernyataan ini menyulut kontroversi. Ramai di realitas media. Ada yang menduga SBY paranoid terhadap lembaga independen satu itu.

Lalu disusul pernyataan Ketua BPKP Didi Riyadi, yang mengaku diperintah sang presiden buat mengaudit KPK. Latar belakangnya adalah adanya indikasi penggunaan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi Antasari Azhar ketika masih menjabat sebagai ketua KPK. Dan upaya penyadapan ini, menurut hipotesa polisi, berujung pada terbunuhnya Nasrudin Zulkarnaen.

Lalu terjadi saling bantah, saling klaim, saling serang. Yang tampak di permukaan kemudian adalah ada upaya untuk mengkerdilkan KPK dengan berbagai macam upaya. Salah satunya dengan adanya (indikasi) upaya mengawasi lembaga independen itu. Ketika situasi masih acak adul, tarik ulur cenderung memanas, lalu... Simsalabim! Muncullah Rani Juliani di Mapolda Metro Jaya, Jumat sore itu.

Saya pribadi merasa ada yang aneh. Mungkin ada di antara Anda sekalian yang bisa menjelaskan. Kenapa tiap-tiap konstelasi memanas, dan ada pihak yang cenderung terpojok, tiba-tiba soal Antasari mengemuka.

Lalu saya coba membuat perbandingan dengan kejadian yang sudah lampau. Ketika wacana megakoalisi parlemen -ketika itu rencananya melibatkan Golkar, PDIP, PAN, Gerindra, Hanura dan PPP- muncul, dan ada yang mengaku terpojok dan dikeroyok, tiba-tiba muncul skandal Antasari yang penuh kejanggalan itu.

Publik seakan dipaksa berpaling dari megakoalisi. Perhatian tercurah pada kasus Antasari. Lobi-lobi megakoalisi jadi tak menarik lagi. Bahkan deklarasi JK-Wiranto di Tugu Proklamasi, 1 Mei 2009, juga tak mampu menyita perhatian massa, karena publik lebih tertarik menyimak kasus Antasari yang wow itu. 

Setelah itu situasi berubah. Ketika kasus Antasari ini mulai "redam", dan berita politik muncul lagi, situasinya berbalik 180 derajat dari sebelum berita ini mem-booming. Tak ada lagi yang merasa dikeroyok. Bahkan PAN dan PPP nyaris membelah diri karena ada ketaksepahaman soal rujukan koalisi. Mereka berbondong-bondong merapat ke berlian.

Dan yang agak mencolok adalah, PDIP, yang dari awal memposisikan diri sebagai oposisi, yang tak akan akur dengan incumbent dan partai pemenang pemilu, tiba-tiba melunak. Komunikasi politik PDIP-Demokrat mulai dirintis.

Pramono Anung ketemu Hatta Rajasa, ketua tim pemenangan SBY-Boediono. Nama terakhir bahkan juga memberikan "hadiah" kepemilikan rumah di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, pada Megawati setelah pengurusan kepemilikan itu sempat sulit. Hatta datang membawa nama SBY. Sebenarnya, apa yang terjadi?

Tak ada yang tahu apa yang terjadi di dunia politik ketika itu, karena banyak orang sedang menyibukkan diri menyimak dan menebak-nebak apa yang bakal terjadi pada Antasari. Proses lobying (mungkin) berjalan bersamaan dengan proses awal penanganan Antasari. Media tak begitu memprioritaskan usaha itu, karena lebih memberi porsi pada Antasarigate. Lobi jadi lancar karena juru warta tidak merecoki upaya tersebut. Dan tiba-tiba, setelah isu Antasari mengempis, cling, wajah dunia politik berubah.

Dan yang paling baru, ketika ada lagi yang merasa "terpojok", tiba-tiba kasus Antasari yang sempat landai mencuat lagi. Rani, tokoh kunci yang lama disembunyikan polisi, tiba-tiba muncul. Memang, kali ini "pesona" Rani kurang ampuh untuk menutup isu indikasi penggembosan KPK. Rani kurang mempesona.

Tapi terlepas dari itu, melihat pola sebab akibat yang (mungkin) ada keterkaitan antara dua momen yang terjadi bersamaan, apakah memang pemunculan Rani yang serba mendadak ini adalah upaya untuk memalingkan perhatian publik lagi dari isu penggembosan KPK, kendati tak lagi seampuh upaya pertama?

Lalu, apa yang terjadi setelah ini? Apakah efek yang diharapkan sama dengan situasi pertama lalu, di mana tiba-tiba terjalin komunikasi politik antara banteng dan berlian, setelah upaya lobi-lobi itu tertutup isu Antasari? Apa yang terpojok sedang berupaya lagi untuk bebas dari tekanan? Ah, entahlah.

 

(Lihat foto: Simsalabim! Muncullah Rani)


Artikel ini memiliki: 20 KomentarMenarik +10

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »