Jalan Tol, Angkutan Masal, dan Kualitas Hidup dalam Debat Cawapres-II? • penulis: lat, 26 Juni 2009 14:37:57 • 2 KomentarMenarik +0

 

Pernahkah anda melihat di jalan tol, melintas serombongan geng Moge buatan USA dengan segala atribut lengkap yang didahului oleh Voorijder? Kalaupun anda tidak pernah, paling tidak selama Jakarta mengalami banjir besar, fenomena sepeda motor masuk tol memang terjadi. Meskipun mungkin ada pengecualian untuk motor patroli Polisi di Jalan Tol atau Voorrijder Paspampres.

Sebagaimana ditulis situs tentang Moge Super Bike Ducati, komunitas Harley Davidson dan Piaggio Club Indonesia mengajukan permintaan untuk bisa masuk jalan tol. Namun Direktur Utama PT Jasa Marga Tbk (JSMR) Frans S. Sunito menyatakan tetap tidak bisa memenuhi permintaan komunitas dan berlawanan dengan undang-undang jalan bebas hambatan. Hal ini bertolak belakang dengan komunitas Moge Sport/Superbike yang memang memiliki motor dengan performa tinggi justru sama sekali tidak tertarik untuk menggunakan motornya di jalan bebas hambatan. Justru mereka menganggap HD dan PCI itu arogan dan aneh-aneh. Masih butuh kenyamanan model apa, para biker ini?

Berdasarkan ketentuan PP No. 15 tahun 2005, sepeda motor tidak diperbolehkan atau dalam bahasa hukumnya dilarang oleh UU. Dengan keluarnya PP No. 44 tahun 2009, maka telah diatur tentang sepeda motor masuk tol, meskipun dengan jalur yang terpisah dengan jalur mobil. Menurut Kompas ternyata aturan boleh masuknya sepeda motor ini bukan semata-mata khusus untuk Jembatan Tol Suramadu saja, tapi bisa jadi untuk jalan tol lain sepanjang bisa tersedia jalur khusus motor. Disamping itu,ada dugaan lobi dari industri sepeda motor sehingga hal ini akan mempengaruhi visi dan model transportasi masal di Indonesia. Namun alasan resmi pemerintah sebagaimana ditulis sebuah situs oto.detik.com adalah asas keadilan sesuai penjelasan Undang-undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan. Kebijakan untuk siapakah jalan tol?

Data dan informasi dari situs torsimax lain menyebutkan bahwa menurut Ketua Umum Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata pernah memperkirakan bahwa tahun 2009 ini harga sepeda motor akan naik 3%-5%. Sementara, selama ini pasar otomotif atau pembelian kendaraan bermotor baik roda 2 maupun roda 4 sebesar sekitar 85% dilakukan melalui dukungan pembiayaan dari lembaga keuangan. AISI memproyeksikan produksi sepeda motor pada 2009 mencapai empat juta unit, turun sekitar 33,33 persen dari target produksi tahun ini yang mencapai enam juta unit. Sudah jenuhkah pasar sepeda motor?

Dimungkinkan ke depan akan ada pembenaran yang memelintir aturan sehingga Moge bisa secara sah masuk jalan Tol, bukan jalu khusus tapi barengan sama mobil. Toh, yang terpikir oleh mereka harganya sama dengan mobil. Di satu sisi ada lobi kalangan industri sepeda motor yang mana pasar motor sudah mulai jenuh, dan kabar "Motor masuk tol!" merupakan daya tarik baru bagi konsumen. Operator jalan tol juga tidak susah-susah amat dalam menyediakan sarana tol, cukup jalan bertonase rendah. Dan yang lebih gawat, akhirnya pemerintah merasa tidak perlu berpikir tentang moda angkutan masal, toh kemacetan nanti pindah ke jalur tol. Jalan tol akan penuh sesak seperti Metromini. Jalan tol bukan lagi macet, tapi jim.

Mungkin kondisi angkutan masal (tidak sekedar darat tentunya) ini cocok untuk dipertanyakan dalam Debat Cawapres tanggal 30 Juni nanti, yang dikemas oleh TV One dengan Tema "Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia Indonesia" dengan moderator Fahmi Idris. Sekedar harapan.

Dan rasanya kok tidak ada harapan dan tidak akan mungkin ditanyakan, karena sang moderator, Fahmi Idris nota bene toh Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Dan, kita mungkin sudah bisa menduga kualitas hidup jenis mana, yang akan dia dipertanyakan?

 

 

(Lihat foto: Jalan Tol, Angkutan Masal, dan Kualitas Hidup dalam Debat Cawapres-II?)


Artikel ini memiliki: 2 KomentarMenarik +0

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »