Citra Capres dalam Akronim • penulis: polka, 26 Juni 2009 17:29:48 • 1 KomentarMenarik +6

Komisi Pemilihan Umum selaku lembaga in-charge dalam debat Capres-Cawapres tampaknya bergeming dengan konsep debat yang sudah mereka sepakati sejak awal.  Meski mendapat kritik sana-sini, teguhnya pendirian Abdul Hafiz Anshary bersama anak buahnya layak dipuji.  Benar atau salah, baik atau buruk, apa yang sudah diputuskan harus tetap dijalankan, apalagi presiden mendukung, mungkin begitu kata mereka. 

Melalui Komaruddin Hidayat, moderator ketika debat cawapres I, KPU tersirat menyerahkan sepenuhnya kepada rakyat Indonesia untuk menilai apakah debat yang diadakan itu memang debat, atau hanya pemaparan atau diskusi belaka.  Terserah!

Saya pun yang sedari awal merasa acara ini berpotensi menjadi pembodohan, atau minimal pembiasan arti, mulai gak ambil pusing.  Hitung mundur terus berjalan, tak banyak waktu tersisa untuk menentukan pilihan.  Esensi harus segera disarikan, persetan dengan tampilan.

Melalui informasi beragam media, diskusi dengan teman-teman, juga berdebat seru berbanjir bantah dengan ibunda tercinta yang datang dari kampung halaman karena rindu dengan cucu, inilah citra yang saya tangkap dari ketiga capres sejauh ini, termasuk hasil menyaksikan debat capres putaran II td malam.  Semua hanya pendapat pribadi, jangan dimasukin dihati:

Capres No. 1 - MEGA: MEmori GAgal!

Sejak debat putaran I, juga dalam orasi-orasi politiknya yang diliput berbagai media, Megawati Soekarnoputri terus-menerus mengajak hadirin ke dalam mesin waktu, kembali ke masa-masa dirinya masih memerintah.  Mega berusaha meyakinkan, bahwa permasalahan-permasalahan bangsa sekarang ini sebetulnya sudah disiapkan solusinya, atau tidak mungkin terjadi bila kebijakan-kebijakan yang diambilnya dahulu intens diterapkan.

Tapi, apa boleh buat, upayanya memutar kembali memori itu gagal meyakinkan saya untuk menjatuhkan pilihan padanya.  Saya juga yakin, bagi calon pemilih netral seperti saya, hipnotis memori itu tak sanggup membela Mega dari tuduhan disabilitas pemerintahannya dalam negosiasi berbagai proyek minyak & gas alam hingga perlu dinegosiasi ulang. Memori itu juga gagal meyakinkan saya bahwa Mega konsisten pd teori ekonomi kerakyatan yang diusung mengingat tabiat pemerintahannya dulu yang dikenal sebagai penjual aset Negara. 

Capres No. 2 - SBY: Survey Buat Yakinkan!

Sebagai mantan KASOSPOL (yang kemudian diubah menjadi KASTER), SBY tentu ahli dalam menebar kuping untuk mencuri dengar kondisi riil yang terjadi di masyarakat, termasuk gejala-gejala yang berpotensi menggoyang perolehan jumlah suaranya.  Tim sukses beliau sepertinya tahu kalo tingkat keterpilihan dirinya dapat menyusut melihat sepak-terjang para pesaing.  Berbagai upaya sudah dilakukan, mulai dari gagasan mempercepat tanggal pemilihan (dengan harapan penyusutan tdk semakin membesar), hingga mengkondisikan debat berlangsung terlalu santun sehingga kecil kemungkinan dirinya dikritik langsung di atas panggung seperti yang dilakukan SBY yang satu lagi (Si Buter dari Yogya).

Tp, semua itu tidak akan berdampak sesignifikan hasil survei yang saat ini banyak bertebaran di berbagai media.  Didampingi konsultan sekelas Fox, SBY terlihat sangat lihai dalam menggiring publik berpersepsi: mayoritas rakyat Indonesia masih menginginkan dirinya memimpin kembali.  Tidak tanggung-tanggung, tim sukses SBY dikabarkan membayar tiga lembaga survei sekaligus yang memiliki kerjasama dengan beberapa media.  Sebutlah Lembaga Survei Indonesia dengan TransTV & Trans7, Lingkaran Survei Indonesia yang disewa TV One, serta Cirrus yang digandeng di SCTV sudah mulai mempublikasikan hasil-hasil pemilihan sementara yang mengindikasikan kemenangan pasangan SBY-Boediono.  Bukan mengecilkan kemampuan ilmiah mereka, tp saya selalu meragukan kredibilitas mayoritas orang Indonesia (ma'af) bila sudah bersinggungan dengan uang dan kekuasaan.

Jika kredibilitasnya diragukan, masa sih saya harus mempercayai resultannya?

Capres No. 3 - JK: Juaranya Kampanye!

Banyak orang pasti setuju bahwa dalam 3 wahana debat capres-cawapres yang lalu, penampilan pasangan JK-Wiranto adalah yang paling mendekati harapan tentang bagaimana sesungguhnya debat itu harus berjalan.  Selain dari sisi verbal itu, sedikit orang juga yang saya yakin akan menggelengkan kepala bila dikatakan bahwa desain komunikasi visual pasangan JK-Wiranto adalah yang paling menarik perhatian.  Iklan TV mereka yang versi 'Akronim JK' terlihat sungguh natural, begitu juga bagaimana TV Commercial musikal mereka bisa lebih easy-listening ketimbang jingle 'Indomie'-nya tim SBY.  Untuk media cetak, versi 'JK: Jalan Keluar' yang menggunakan gambar labirin adalah terobosan baru bagaimana iklan politik itu bisa dibuat sedemikian kasual.

Tapi sekali lagi, itu cuma masalah kampanye.  Dalam mencari mangsa, seekor serigala pun bisa berbulu domba.  JK masih harus bekerja keras untuk membuktikan bahwa dia tidak akan berkolusi & bernepotis bila kelak berkuasa, seperti halnya ketika banyak perusahaan miliknya ditengarai memenangi beberapa proyek secara kurang patut ketika dia masih menjadi wapres. 

Wiranto?  Saya tak banyak beropini.  Mustahil sebuah sapu yang tercebur got dapat membersihkan sebuah ruangan tanpa dicuci terlebih dahulu!

(Lihat foto: Citra Capres dalam Akronim)


Artikel ini memiliki: 1 KomentarMenarik +6

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »