“Saudara – Saudara.. Sebangsa dan Setanah air yg dimuliakan dan saya cintai.. tibalah kita pada akhirnya, bahwa apa yg telah kita lalui dan jalankan dapat menggapai tujuannya.. sehingga masyarakat yg adil dan makmur dapat diwujudkan.. dan pembangunan tepat guna dan tepat sasaran dapat terlaksana.. ”. Kalimat itu “Menyihir dan menyentuh hati” hampir semua rakyat Indonesia pada masanya dan juga sengaja dipakai untuk menutup cerita trilogy ( tiga seri ), berjudul “Samakah SBY dan Pak Harto?” ini.
Kalimat di atas dipakai karena, Selain tidak menunjukan sifat dan kalimat “Super human” Sang Superman (Pak Harto) juga lebih baik dan lebih simpatik dibanding kalimat yg keluar dari Si SuperBoY (SBY) dan timnya seperti yg telah dibahas dalam tulisan – tulisan sebelumnya. Kalimat itu juga selalu diucapkan di hadapan rakyat Indonesia ketika Pak Harto “Bapak Pembangunan Indonesia” berpidato.
“Bapak Pembangunan Indonesia”, sebutan Titiek Puspa kepada Pak Harto di dalam lagu yg khusus diciptakan untuk Presiden RI ke 2 tsb. Mungkin, Seperti “De javu “ bagi Titiek Puspa ketika dia melihat sosok SBY ? Karena, sekarang si nenek itu adalah pendukung SBY. Nek Titiek, memang belum menciptakan lagu untuk SBY. Namun, dia didahului oleh Mike Mohede yg telah menciptakan dan menganggap mantan Menko Polkam berpangkat Jendral Kehormatan tsb. “Presidennya”.
Lagu untuk Pak Harto diciptakan pada saat Pak Harto sudah menjabat sekitar 20 tahun dan Pembangunan yg di pimpinnya sedang menuju puncaknya. Sedangkan, Mike Mohede menciptakan lagu versi-nya pada saat SBY baru memimpin Mike selama 4,5 thn. Dan “keberhasilan”nya banyak digugat rakyatnya sendiri. Lagu-lagu tsb. Tidak penting untuk dibahas namun lagu-lagu tsb. adalah lambang dari “PENGKULTUSAN” utk seseorang yg merupakan akhir dari cerita seri ke 2 lalu.
“PENGKULTUSAN“, tidak tertera di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yg diprakarsai Pak Harto. Juga tidak ada di dalam Ejaan Yang Disempurnakan (Dimana -Nama penandatangan masih di tulis dengan Ejaan Lama yaitu, Soeharto). Namun, artinya sama dgn gelar “ Yang Di Per Toan Agong ”- Maaf Malaysia, kata tsb. Dipakai (Memohon maaf, karena takut diserang oleh Malaysia disebabkan Presiden Indonesia bukan Pak Harto lagi. Sedangkan, SBY tak lebih dari seorang Pengecut ). Maksud kalimatnya, sama dengan “Pengultusan” yg dalam Kamus Besar artinya di “Abadi”kan atau Sepanjang Masa.
Mengapa pembahasan “PENGKULTUSAN“ dan pengkultusan menjadi penting? Karena, ada orang yang BERHAK atau LAYAK mendapatkannya. Ada, yang TIDAK.
SOEKARNO, HATTA (bukan yg Rajasa), SJAHRIR (yg Sutan), TAN MALAKA, SOEDIRMAN dan Pejuang – pejuang lainnya BERHAK atas hal tersebut. Sedangkan, DJUANDA, SOEHARTO, ADAM MALIK, dll (yang sekelas) layak menerimanya.
Lalu, Apakah si SuperBoY sudah dapat disandingkan atau disejajarkan dengan mereka semua ? Minimal, dicoba untuk disamakan dengan Pak Harto yg masih menjadi tokoh controversial. Merujuk pada tulisan di atas (serta sebelumnya), Jawabannya adalah TIDAK ! Namun, Coba kita perjelas dan pertegas di bawah . Setidaknya, untuk menerangkan kepada Sdr. Mike Mohede kenapa dia tidak perlu berkeringat untuk menciptakan dan membuat klip dengan nada bangga kepada Pujaan Hatinya.
Cerita ini akan menjelaskan mengapa harus diberi sub – judul tempat tinggal pribadi resmi mereka, karena ada keganjilan saat kita menyambangi daerah Cibubur. Jika, dulu ingin menuju daerah Jonggol dari tol atau jalan biasa maka, anda akan mendapatkan di petunjuk jalan yang tertulis ‘JONGGOL’ namun, dalam beberapa tahun terakhir anda akan menemukan tulisan ‘CIKEAS‘, yang mana dapat kita tarik lagi perbedaan diantara mereka (SBY dan Pak Harto). Bukan karena, Cikeas berubah menjadi Kecamatan dan Jonggol menjadi Kelurahan sehingga Jonggol bisa diganti menjadi Cikeas di petunjuk jalan. Akan tetapi, kalau dibandingkan dengan , Pak Harto selama 31 tahun menjadi Presiden, dia tidak pernah mengubah petunjuk arah jalan untuk umum disekitar rumahnya ‘MENTENG’ Menjadi ‘CENDANA’.
Bagaimana dengan para “ Penghuni Istana “ diantara keduanya ? telah dibahas di cerita – cerita sebelumnya bagaimana perilaku mulai dari Andi Mallarangeng, dkk mulai dari “ring 1” Istana, partai s/d sewaan seperti Anas Urbaningrum yang bertampang lugu, terkesan tenang tapi memiliki mulut yang pedas dengan penganalogian – penganologian (yang justru membuatnya terserang balik) dan tak mau kalah ( atau mengakui ) kekurangan dari pujaannya (baca – Orang yang dijilatnya), ada juga Ahmad Mubarrok yang nyeleneh , Rizal .M. dan Ruhut yang berandalan alias Arogan bin Sombong.
Senyum sinis dan meremehkan orang lain dari Andi Mallarangeng selalu menghiasi wajahnya ketika menjawab pertanyaan maupun memberi pernyataan mengatasnamakan “Bapak Presidennya”. Wajah yang seharusnya tidak dimunculkan oleh “Penghuni ring 1“ ketika berbicara kepada rakyatnya, seakan – akan Pemerintahan saat ini telah menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia. Berbanding terbalik dengan apa yg dilakukan ‘orang – orang’ pada zaman pemerintahan Pak Harto seperti, Harmoko yang lugas namun serius, Sudharmono yang selalu tersenyum dan Moerdiono yang selalu berhati – hati dalam berbicara agar tidak salah.
Pernyataan – pernyataan yang dikeluarkan kubu “lawan kontes” dari SuperBoY, selalu dikatakan negatif meskipun itu fakta bahkan dikatakan fitnah dan mengada – ada , membuat rakyat bingung atau sengaja dibingungkan oleh “mahkluk-mahkluk halus” istana dan manusia setengah dewanya (SBY), yang mengaku – aku keturunan langsung Raja Majapahit ini.
Simak perang kata – kata antara, Andi mallarangeng dan Ali Mochtar Ngabalin disebuah stasiun tv swasta. Ketika, Ngabalin mengeluarkan fakta dgn berkata “Ketika BBM dinaikan siapa yg datang ke DPR? JK. Dan ketika, BBM diturunkan siapa yg mengklaim dan memasang iklan ? SBY” sambil bersiul ketika itu dibalas oleh Andi dgn “ Bahwa jelas siapa pun yang menjadi otaknya tetap SBY yg harus diberikan dan mendapatkan kreditnya “ mendoktrinasi.
Merupakan salah satu dari sekian banyak proses “Reifikasi” (Pembodohan disertai pembohongan dengan berbagai cara) yang dilakukan tim cikeas ini, sama halnya dengan lagu yang dinyanyikan oleh Mike Mohede yg menyerang Syaraf dan Psikis kita tanpa sadar yg memang berasal dari ilmu psikologis agar gampang dan mudah diingat ketika kita masuk ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) agar berpaling ke Indomie, ehh.. salah – salah , SBY.
Bukan karena lagu tsb. Sama dgn baliho yg dipajang oleh beberapa caleg di beberapa daerah pemilihan yang memakai Naruto atau menjadi James Bond ataupun Gandalf agar mudah diingat oleh pemilih yg menjadi masalah. Bukan juga karena, tidak berwibawanya seorang Presiden sehingga para pembantu dan yang membantunya dapat berkata sesuatu adalah hasil kerjanya yg tak pernah terjadi sebelumnya dari pemerintahan Soekarno s/d Megawati.
Akan tetapi, Apabila kita lebih kritis menanggapinya akan menjadi pertanyaan, sebegitu pentingkah jabatan yang membuatnya hanya tidur 3 jam sehari (yg diakui SBY) dan untuk apa? Menjadi sangat tidak beralasan karena terlalu mementingkan masalah pribadi dibanding, jika kita masih mengingat ketika Pak Harto sangat risau dan tidak tertidur selama beberapa waktu ‘hanya’ karena, ada seorang anak yang terserang busung lapar yg memang langka ditemukan pada pemerintahannya dan menjadi masalah nasional ketika itu agar, masalah gizi lebih diperhatikan.
Masalah gizi yg berbeda ketika kita berbicara tentang ‘gizi’ saat ini yang diasumsikan dengan uang, yang sudah sangat menjamur dan lebih kronis dari zaman Pak Harto. Bukan juga karena setiap partai kecil yg tidak lolos mendapatkan uang sebesar 1-3 milyard rupiah sehingga berbondong – bondong dari menghujat hasil pemilu legislatif dgn kecurangannya (yang sangat parah melebihi orde baru) berbalik menjadi partai pendukung SBY yg akan diangkat di bawah ini. Namun, bagaimana diperbandingkan pada sesuatu bernama “kesejahteraan masyarakat”.
Pak Harto yang dikatakan seorang yg ‘Kejam’, ‘Pelanggar HAM berat’, dan ‘Diktator’ tsb. justru mengusung ‘Ekonomi Kerakyatan’, seperti pematokan harga bahan – bahan pokok, mematok harga bahan baku, mensubsidi semua yang menyangkut harkat hidup orang banyak, pendistribusian yg lancar, yang telah kita angkat sedikit pada tulisan awal sebelumnya, benar – benar memanjakan rakyat yang sekarang berubah dari ‘rakyat manja’ menjadi ‘Pemalas’ karena kebiasaan yang dilakukan pemerintahan orde baru tsb.
Pada saat Pak Harto memimpin, bisnis yang bernama Rumah Kontrakan dan kost – kostan bukan merupakan bisnis “idola” karena pemerintahnya menyediakan program bernama Rumah Sangat Sederhana (RSS) dengan harga sangat murah dan dalam jumlah yang banyak serta kualitas yang baik untuk menyediakan sarana atau faktor pendukung utama bagi kehidupan yg justru sekarang tidak di utamakan lagi dan tidak diurus.
Ada juga cerita tentang gaji, yang mana kalau dilihat dari jumlah memang tidak banyak, sebagai contoh seorang Pimpinan Cabang Bank Rakyat Indonesia dan Bank – Bank pemerintah lainnya (disebut demikian dulu – belum bernama BUMN, karena posisi mereka adalah Pegawai Negeri) atau pegawai negeri eselon 2 atau 3 kantor pemerintahan lainnya, pada saat itu hanya mendapat gaji antara 1 s/d kisaran 2,5 – 3,5 juta rupiah.
Tetapi, dengan uang itu mereka dapat menyekolahkan 2 s/d 5 anak mereka sampai dengan lulus kuliah, dapur “ngebul” setiap harinya, anak – anak mereka tidak kekurangan mainan dan uang jajan setiap harinya, dan yang paling penting bisa menabung pada akhir bulan untuk sisa gaji tsb serta lain sebagainya seperti memiliki rumah dan kendaraan, Tanpa harus korupsi milyaran bahkan trilyunan rupiah.
Lalu , dimana perbaikan dan kebaikan perekonomian dan kehidupan yg katanya sangat baik saat ini ? setidaknya menurut “Bung” Andi mallarangeng ketika berdebat dgn Arya Bima yg merupakan Jurkam dari Megawati ketika mengatakan, masalah ‘keenakan hidup’ dgn pembanding zaman Megawati di acara debat yg sama, “Bung“ Andi mengatakan , “ kenapa anda tidak membandingkannya dengan zaman Bung Karno sekalian, yg dulu harga segala macamnya masih sen – senan “. Begitu laknatulloh nya si Bung Menjawab kritikan yang benar dgn substansi bicara yg coba mengaburkan kenyataan.
Dari kejadian tsb. Seandainya, perdebatan malam itu membeberkan perihal yang disebutkan tentang Pak Harto seperti paragraf di atas yang intinya adalah DAYA BELI MASYARAKAT yang MENGACU PADA PENDAPATAN. Karena, Ketika Itu (Orde Baru) harga – harga dan biaya hidup terjangkau dengan Penghasilan untuk segala yg dibelanjakan atau didapatkan. Bagaimana bisa perbandingan tersebut digunakan apabila, pada saat ini seseorang yang berpenghasilan sampai dengan 10 juta rupiah sekalipun masih memiliki hutang, menunggak cicilan rutin, bahkan dikejar – kejar oleh bagian Collection karena tunggakan kartu kredit atau kredit yang dipinjamnya bermasalah pada akhir bulan.
Bagaimana dgn pegawai negeri yang lebih rendah dan para guru? kebanggaan Pemerintahan sekarang yang mengatakan Guru saat ini sudah bukan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa lagi, tapi telah menjadi tenaga professional karena kenaikan gaji yang katanya signifikan. Bisa kita bandingkan lagi dgn apa yang didapat para guru ketika Zaman Pak Harto (memang betul mereka ‘hanya’ digaji dengan uang sebesar 300 ribu rupiah atau kurang atau lebih).
Akan tetapi, dengan uang itu guru tetap dapat menyekolahkan anaknya dengan setinggi – tinggi kemampuannya tetap menjadikan bisnis yang bernama ‘Rumah Kontrakan’ tidak terlalu laku, karena mereka mampu atau masih dapat memiliki rumah pribadi, berbanding sekarang yang terkadang seorang bekas murid menjadi tenaga penagih hutang (karena, keterbatasan lapangan pekerjaan) menagih mantan gurunya yang terbelit hutang.
Selain itu mengenai tenaga penagih hutang yang kebanyakan adalah tenaga pekerja ‘outsourching’, jumlahnya sangat sedikit pada zaman orde baru. Bukan dikarenakan memang tidak adanya suatu lembaga bernama ‘outsourching’ sebagai wujud kemampuan pemerintah menciptakan lapangan pekerjaan, mendorong sektor usaha untuk membuka lapangan pekerjaan dan menjadi pegawai negeri menjadi kebanggaan di dalam diri setiap orang saat itu. Akan tetapi, ‘tukang tagih’ ini juga merupakan wujud dari kurangnya penegakan hukum dan sebagai wujud dari tumbuh suburnya praktik premanisme.
Mengenai Bank – Bank pemerintah juga ada catatan khusus mengenai hal ini , Bank – Bank yang sudah ada sejak zaman Kolonial Belanda dan yang ada sejak Zaman Bung Karno, di desain ulang oleh Pak Harto dengan membagi pelayanan untuk rakyat sesuai bidangnya. Baik untuk pemberian kredit ataupun pelayanan perbankan lainnya, seperti contoh BRI di desain untuk berkonsentrasi melayani Rakyat Kecil (UKM) sampai tingkat perdesaan, BNI khusus menangani korporasi – korporasi dan proyek – proyek besar, BBD menangani pertambangan dan energy dan EXIM menangani urusan export dan import, dll.
Dimana saat ini bank – bank BUMN tsb. Justru berebut untuk mendapatkan nasabah dengan persaingan bebas serta tidak fokus lagi dalam bidangnya bahkan beberapa sudah di merger. Belum lagi program TABANAS yang dengan (min.) 5000 rupiah (tanpa pemotongan biaya administrasi) bisa membuka rekening dan pasti mendapat bunga tiap bulannya dimana sekarang kita harus memiliki uang yang jauh lebih besar untuk menabung dan belum tentu mendapatkan bunga tiap bulannya.
Program pemberantasan buta huruf yang dititik-beratkan dengan sekolah dan kejar paket A dan seterusnya di coba untuk disempurnakan dengan faktor dan visi ekonomi serta tantangan ke depan yang menyebabkan timbulnya Program KB (Keluarga Berencana) untuk mengatasi ledakan penduduk dan antisipasi masalah ekonomi ke depannya. SBY, tidak selalu yang melakukan penghapusan atau perubahan dari Program – Program tsb. Tetapi seharusnya SBY dapat untuk mencegah yang tidak baik dan/atau menghidupkan kembali program – program yang terbukti “Pro Rakyat ” itu.
Bersambung langsung.. lanjut(k)an..!
Artikel ini memiliki: 11 Komentar • Menarik +7