Jika kita datang dari Senayan City ke arah jalan Pintu Satu dan terjebak di lampu merah Senayan, cobalah sejenak melirik tiang monorel yang sudah lama telantar di sisi sebelah kanan. Bila masih ada, tertempel poster kampanye pilpres yang menarik perhatian saya berjejer di sana.
Kalau diperhatikan sekilas, itu hanya poster kampanye negatif biasa, sekadar mendeskriditkan calon pasangan kompetitor dalam pesannya.
Saya tidak ingat pasti kalimat-kalimat yang menjadi headline serta mengisi body-copy poster itu. Tapi jelas tertangkap oleh saya bahwa dalam poster itu, JK-Win sebagai sebuah merek ingin mempengaruhi audiens tertentu (baca: calon pemilih muslim) bahwa di antara 3 kandidat pasangan, merekalah yang 'paling', atau minimal 'lebih' islami. Bukti yang mereka paparkan adalah, bahwa di antara ketiga kandidat tersebut, hanya pasangan (istri-istri) mereka yang mengenakan jilbab. Agar terlihat demokratis, pasangan pengiklan memberikan kebebasan bagi khalayak untuk memilih yang berjilbab atau tidak berjilbab.
Ada Apa Sebenarnya?
Sebagai kampanye negatif, poster itu bagus menurut saya karena secara telak menghancurkan citra religius-islami pasangan lain (terutama SBY-Boediono yang didukung partai-partai berbasis massa muslim) dengan memaparkan bukti yang mudah dicerna otak tanpa pandang strata. Tapi bukan itu yang menarik perhatian saya. Ada hal lain yang lebih menggelitik pikiran: apa iya itu komunikasi politik yang keluar dari dapur tim kreatif JK-Win yang sampai saat ini keluaran-keluarannya sudah memenangi 'pilpres a la saya'. Dan bila iya, pentingkah kampanye (negatif) seperti itu dilakukan? Bila penting, apakah sebanding dengan resiko memburuknya citra karena ide yang ditawarkan sungguh dangkal (menjadikan jilbab sebagai indikator islami-tidak islami rawan mengundang tertawaan orang)?
Selanjutnya yang jauh lebih penting: bagaimana kalo poster itu justru menarik simpati audiens kepada pasangan kompetitor yang menjadi 'korban' (SBY-Boediono)? Bukankah ini justru akan menjadi blunder ketimbang masterpiece mengingat gerbong kampanye JK-Win sejauh ini sudah terangkai cukup ciamik? Apalagi kenyataannya, sudah menjadi rahasia umum kalo kubu SBY (Demokrat) sukses menjadikan 'manajemen pesakitan' sebagai senjata yang sangat efektif untuk menarik simpati rakyat hingga akhirnya memilih beliau menjadi presiden 5 tahun lalu.
Inilah yang menjadi kunci rasa penasaran saya: apakah tidak mungkin poster itu justru ditanak dalam anglo kreatif tim sukses SBY-Boediono? Tujuannya jelas: menjegal laju kreativitas komunikasi politik JK-Win yang semakin hari semakin menarik perhatian, termasuk perhatian saya yang golput ini. Sekaligus, menciptakan kondisi SBY-Boediono sebagai pihak terzholimi dan kemudian dijadikan momentum untuk kembali mempraktekkan 'Blessing in Disguiese Season 2'! Kalo memang demikian, saya patut mengacungkan jempol tinggi-tinggi. Strategi seperti itu seperti pepatah 'sekali dayung, 2-3 pulau terlampaui'; sekali luncurkan poster, bukan hanya citra lawan yang digembosi, tp juga sekaligus mempersenjatai diri dengan dengan amunisi yang telah terbukti mampu memenangkan suara rakyat.
Apa yang sebenarnya terjadi??! Entahlah. Politik memang terlalu tinggi untuk saya mengerti. Apapun yang terjadi, pokoknya piss lah...
(Lihat foto: Blunder JK-Win atau Kampanye Hitam SBY-Boediono?)
Artikel ini memiliki: 43 Komentar • Menarik +8