Budaya Menikah dan Kesejahtraan • penulis: GaraMata, 24 Juni 2009 14:51:58 • 19 KomentarMenarik +2

Orang Indonesia itu sepertinya memang sangat pemberani. Hal ini tercermin dari banyak orang Indonesia yang berani menuju jenjang pernikahan walau mereka hanya punya penghasilan yang kata Prabowo itu adalah dibawah 20.000 rupiah sehari perkepala (masuk kategori miskin). Bahkan berani juga untuk mempunyai anak banyak dari pernikahan tersebut. Hal ini tercermin dari orang-orang yang penulis kenal, yang senantiasa menanyakan kapan penulis kawin. Dengan segudang nasehat betapa nikah itu adalah ibadah, bahwa kasihan nanti anaknya jika telat kawin, tentang betapa rejeki orang menikah itu akan melimpah, kasihan orang tua yang sudah ingin menimang cucu, dan banyak nasihat lainnya.

Tapi mereka tidak sadar bahwa kondisi nyata kehidupan pernikahan mereka telah membuat penulis berpikir seribu kali sebelum masuk ke dalam dunia pernikahan. Betapa tidak, orang-orang yang menasehati penulis untuk cepat menikah adalah orang-orang yang tiap hari pusing tujuh keliling untuk mencari sekedar uang makan sehari-hari. Mereka tampak pontang-panting mencari pinjaman agar anak-anakanya dapat sekolah. Bahkan kadang penulis berpikir ternyata mereka menikah pada akhirnya hanya untuk membuat menderita diri sendiri, pasangan, dan kemudian anak-anaknya.

Yah, memang ada juga yang akhrnya hidupnya membaik setelah pernikahan dan mempunyai anak, tapi itu sangat sedikit. Kebanyakan masih terus bergulat dengan penghasilan yang tidak menentu dan hanya mendekati UMR. Tapi herannya mereka masih berani untuk terus menambah anak. Entah bagaimana nantinya mereka akan menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang tertinggi. Jangan-jangan malah anak-anak tersebut akan memiliki tingkat pendidikan lebih rendah dari orang tua mereka. Hal tersebut kemungkinan bisa terjadi jika melihat kehidupan orang-orang tersebut saat ini.

Ini tentu akan mempengaruhi negara ini juga jika mayoritas rakyat seperti itu sebab nantinya sebagian besar generasi mudanya hidup dalam kemiskinan dan dengan pendidikan yang rendah. Tentu semakin sulit negara ini bersaing dalam percaturan dunia. Ingin sekali membalas nasehat mereka-mereka itu bahwa mengapa harus menikah dan punya anak jika tidak sanggup untuk membiayainya? Tapi penulis tidak tega. Biarlah yang terlanjur mencari jalan, sambil penulis membantu sebisanya. Duh, kasihan keponakan-keponakan penulis.

Yah pada akhirnya penulis menyadari bahwa keberanian dan kenekatan memang hampir tidak bisa dibedakan.

 


Artikel ini memiliki: 19 KomentarMenarik +2

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »