SBY mencari simpati?
Semenjak di mulainya kampanye pilpres 2009 di Indonesia, berbagai issue mulai di lontarkan para pemainya sebagai bahan untuk menyerang lawan politiknya, mulai dari masalah agama hingga masalah bisnis pribadi seorang capres, dari yang relevan hingga yang irrelevan pun diusung untuk merusak citra para capres yang lain. Berbagai media massa pun mulai digunakan sebagai kendaraan politik sebagai alat pencitraan, pooling dan hasil survey pun digulirkan melalui kendaraan media massa tersebut untuk membentuk opini yang diinginkan. Sungguh menyedihkan sekali keadaan sekarang ini, pembodohan masyarakat terjadi merata diseluruh Indonesia. Hal ini membuat kita bertanya bahwa MEDIA kita bisa di beli?... tentu saja bisa… hal ini menjadi sebuah kisah klasik yang sudah lazim di dunia perpolitikan di belahan dunia manapun.
Ingatkah anda akan sebuah Headline di harian Kompas 2 minggu sebeleum pemilu legislatif? Dimana SBY mengatakan bahwa sudah melakukan banyak hal untuk Indonesia dan diantaranya adalah mengurangi pengangguran, menghapus hutang Negara, dan lain lainnya. Ironis… setelah pemilu legislatif berakhir Headline kompas berikutnya adalah tentang hutang Negara di masa kepemimpinan presiden SBY yang meningkat hingga ratusan trilyun, hanya dalam 5 tahun. Pembodohan masyarakat atau apa? Sebuah pertanyaan besar bagi saya sebagai pembaca kompas? Apa sebelum mengeluarkan berita terutama yang menjadi Headline utama tidak dilakukan penyelidikan dan pencarian fakta terdahulu? Apakah sudah dipertimbangkan matang matang opini yang terbentuk apabila mengeluarkan sebah berita yang setengah-setengah.
Pagi ini pun saya kaget membaca tentang black campaign di bagian bawah halaman utama harian Kompas, memang disitu kita lihat ketiga capres mempunyai daftar “belanjaan” masing masing, tetapi kalau kita tilik lebih dalam dan bandingkan dari issue yang di tujukan kepada masing masing capres, TERLIHAT JELAS sekali SBY yang paling diuntungkan, mengapa?
Pertama, issue yang diangkat tentang Megawati dan Prabowo adalah issue yang sensitive yaitu penjualan asset Negara, pelanggaran HAM, Tahukah anda bahwa, saat terjadi penjualan asset Negara di zaman Megawati, yaitu Boediono, adalah menjabat sebagai mentri keuangan? Dimana dia juga yang mempunyai ide serta memprakarsai penjualan asset Negara, bahkan dia juga yang mempelopori dimulainya Indonesia berutang kepada IMF, dan ketika Boediono menjabat menko perekonomian, dan melontarkan ide penjualan kandungan Blok CEPU kepada EXXON mobile. Lalu pelanggaran HAM dan warga Negara ganda oleh Prabowo? Sungguh aneh bila kita mempertanyakan kecintaan Prabowo terhadap Indonesia, sebagai menantu presiden Soeharto keluar masuk medan perang di belantara Indonesia raya untuk menjaga NKRI, aneh sungguh aneh.
Kedua, kubu capres JK, ditulis disitu issue tentang bisnis keluarga pejabat? Seandainya kita tarik mundur waktu, Bukaka dan beberapa group keluarga Kalla telah ada dan maju sebelum JK masuk di dunia politik, dan telah merintisnya sejak dahulu, adakah bukti nyata bahwa dengan menjabatnya JK sebagai wakil presiden RI telah melakukan KKN hingga merugikan Negara? fakta dilapangan bahkan mengatakan justru dengan latar belakang wira usaha JK mampu menghemat dan mengefisiensikan penggunaan dana APBN / APBD, lalu kemudian JK disalah satu issue nya dikatakan akan KKN bila menjabat sebagai Presiden, Aneh!
Ketiga dan memang sengaja saya bahas terakhir, SBY, issue yang ditulis tentang SBY bukan merupakan issue yang sensitif seperti kedua capres diatas dimana soal KKN tidak dibahas, bagai mana seorang PASPAMPRES (adik Ani Yudhoyono) bisa menjadi DANJEN Kopasus berbintang dua dalam kurun waktu 3 tahun? Memang sekolah staff komando makan waktu berapa lama sih? Ko dalam tiga tahun sudah mempunyai dua bintang dipundaknya? Apa tidak ada kader Kopasus yang lebih pantas menjadi DANJEN? hingga harus mengambil pemimpin dari kesatuan tetangga bukan dari kader Kopasus sendiri? Tanpa melalui proses panjang dan keluar masuk medan tempur Indonesia, apakah kedua bintang ini mempunyai kategori “honour” atau pemberian sebagaimana SBY “diberikan” bintang keempatnya oleh Gus Dur, dan selalu alpha menambahkan keterangan honournya?.
Kemudian bagaimana seorang dengan jabatan setingkat kepala bagian di Bank Mandiri dalam kurun waktu kurang dari 4 tahun bisa menjadi direktur di Bank BUMN dan sekarang jabatannya apa dan dimana yang jelas lebih tinggi lagi, kalau tidak ada intervensi dari anggota keluarganya yaitu kakaknya sendiri Ani Yudhoyono, lalu soal pembangunan dan korupsi di tanjung priok?
Kenapa bukan ini yang diangkat? Hanya sekedar issue plagiat, jawa dan non jawa, dan hal yang tidak penting lainnya, menarik… sungguh menarik…
Ketika di kaitkan dengan artikel yang beredar di beberapa blog politik maupun blog lainnya yang berisikan tentang capres lain terutama JK, di klaim sebagai orang yang tidak tahu terima kasih, arogan, dan lain lain, dan artikel SBY yang intinya menceritakan bagai mana SBY di “dzalimi” , lebih lucu lagi kalau kita telaah makin jauh lebih dalam setiap issue yang ramai di dunia internet pasti akan bersambut gayung dengan issue di media cetak dalam 2-3 hari berikutnya, bahkan terkadang “pernyataan” SBY seakan menjawab tulisan tulisan dan artikel yang beredar di internet. Lalu artikel artikel lainnya pun banyak yang mencoba menggiring opini publik kepada issue issue yang dikategorikan kelas kacang.
Sebagai contoh pagi ini ada sebuah artikel di kompasiana yang menyerukan agar istri JK membuka jilbab?, setelah berputar-putar ceritanya dengan menggunakan bahasa bahasa yang tampaknya ingin di nilai cerdas oleh pembaca tapi intinya satu, menghina pengguna jilbab (terutama muslimah) dan mengatakan jilbab merupakan adat padang pasir, apakah ini bentuk peng-adu domba modern menggunakan artikel? Nampak jelas sekali sebuah pengalihan issue yang baik, sayangnya eksekusi kurang baik, hingga artikel tidak berbobot diposting, bahkan kalau saya perhatikan banyak diantaranya tidak mempunyai kekuatan. Sampai kapan artikel artikel tidak berbobot akan tetap dilancarkan oleh kubu pro SBY di dunia maya?
Apakah komoditi SBY yang sholeh dan santun sudah tidak mempan lagi? Dan karena tidak mempunyai “nilai jual” yang lain akhirnya menggunakan pola bermain “sinetron” yaitu mencari simpati dan belas kasih dari para pemirsanya? Sungguh menggelikan apabila seorang presiden terpilih karena kasihan dan rasa simpati bukan karena kualitas dia sebagai pemimpin Negara. Apakah diri seorang SBY hanya sebatas santun dan sholeh kah hingga tidak bisa mempunyai hal lain yang perlu rakyat tahu ???
Artikel ini memiliki: 29 Komentar • Menarik +7