Slank, Iwan Fals dan Suara Mereka • penulis: tkp, 20 Juni 2009 16:11:17 • 10 KomentarBiasa +2

 

Ketika menulis artikel ini, saya sembari mendengarkan lagu "Kampungan" dari Slank, hits yang dirilis ke pasar dalam kemasan album berjudul sama, tahun 1991 lalu. Lalu saya juga merasa dilempar ke masa lalu. Masa ketika itu. Dengan nuansa gaya, mode, budaya dan politiknya.

Kampungan

By Slank (1991)

Bicara tentang kebebasan  

Hanyalah kata kiasan

Oceh disini oceh disana bisa-bisa bikin jantungan

Isi mimpi dan kata hati terdengar cuma basa basi

jujur dibilang terlalu brani

Akhirnya gue onani

Kami butuh sedikit kebebasan

Kami butuh nafas panjang

Tanpa telanjangi harga diri orang

Hanya bicara soal kenyataan....

Suka tak suka ini cuma ungkapan suara hati

Maafkan saja kalu tak sopan

Maklum kami memang kampungan

Ungkapan jengah anak-anak muda yang hidup dalam suasana politik tak bersahabat. Yang menyuarakan apa yang mereka rasakan dalam lagu dan seni. Sebuah upaya wajar, ketika ingin mengungkapkan pendapat tapi enggan berurusan dengan rezim. Pemberontakan melalui seni. Kritik melalui jalan halus.

Di awal-awal terkenal dulu, Slank identik simbol pemberontakan ala muda. Gaya musik dan fesyen mereka jadi rujukan banyak anak-anak muda yang memandang pemberontakan terselubung itu adalah isu yang seksi. Bahasa tubuh Kaka, Bimbim, Pay, Bongky dan Indra ketika itu benar-benar mendobrak kemapanan Orde Baru, sebuah kesopanan yang dipaksakan.

Dan cara mereka memberontak itu jadi rujukan jutaan anak muda di Tanah Air yang terang-terangan mengaku tabik dengan keberanian mereka. Bahkan Slank sampai punya umat yang disebut Slanker.

Sebelum Slank, yang lebih dulu getol memberontak dalam kesenian adalah maestro musik kita, Iwan Fals. Siapa tak kenal Bang Iwan muda yang paling rajin meneriakkan ketidakadilan. Sejak melempar album Canda dalam Nada (1979), Iwan sering berhadapan dengan rezim. Selama Orde Baru, banyak jadwal acara konsernya dilarang dan dibatalkan aparat karena lirik-lirik lagunya dianggap dapat memancing kerusuhan.

Di awal karirnya, Iwan Fals banyak mencipta lagu bertema kritikan pada pemerintah. Beberapa lagu bahkan dikategorikan terlalu keras pada masanya, sehingga perusahaan rekaman yang memayunginya enggan memasukkan lagu-lagu tersebut dalam album untuk dijual bebas.

Iwan Fals bahkan nekat. Dia pernah menyanyikan lagu-lagu yang batal direkam gara-gara terlalu provokatif itu, seperti Demokrasi Nasi dan Mbak Tini, dalam beberapa konser musik. Karena ulah nekatnya itu pula dia harus berurusan dengan keamanan, dengan alasan lirik lagu yang dinyanyikannya mengganggu stabilitas nasional.

Beberapa konser musiknya pada tahun 1980-an juga sempat disabotase. Ketika dia hendak manggung, ada yang sengaja memadamkan listrik. Pernah juga konsernya dibubarkan paksa hanya karena Iwan membawakan lirik lagu yang menyindir penguasa ketika itu.

Bulan April 1984 Iwan Fals harus berurusan dengan aparat keamanan dan sempat ditahan dan diinterogasi dua minggu gara-gara menyanyikan lagu Demokrasi Nasi dan Pola Sederhana juga Mbak Tini pada sebuah konser di Pekanbaru. Sejak saat itu, Iwan Fals dan keluarganya sering mendapatkan teror.

Hanya segelintir fans fanatik Iwan Fals yang masih menyimpan rekaman lagu-lagu yang dilarang edar ini. Yah, ketika itu Iwan Fals adalah pahlawan, simbol pemberontakan yang sakral. Bahkan gambar Iwan Fals ketika mendekam di balik bui banyak dicetak dalam bentuk poster dan sablon kaos. Yang menyimpannya bangga, karena merasa jadi bagian dari perlawanan. Karena ketika itu melawan adalah mazhab yang seksi.

Ketika bergabung dengan Swami dan merilis album bertajuk SWAMI pada 1989, nama Iwan semakin meroket dengan hits Bento dan Bongkar yang sangat fenomenal. Dan dua lagu itu, lagi-lagi, membuat penguasa tersinggung.

Bento

By Iwan Fals/Swami (1989)

Namaku Bento, rumah real estate

Mobilku banyak, harta melimpah

Orang memanggilku bos eksekutif

Tokoh papan atas, atas segalanya

Asyik...!

Wajahku ganteng, banyak simpanan

Sekali lirik oke sajalah

Bisnisku menjagal, jagal apa saja

Yang penting aku senang, aku menang

Persetan orang susah karena aku

Yang penting asyik, sekali lagi

Asyik...!

Khotbah soal moral, omong keadilan

sarapan pagiku

Aksi tipu-tipu, lobying dan upeti

wow...jagonya

Maling kelas teri, bandit kelas coro

itu kan tong sampah

Siapa yang mau berguru datang padaku

Sebut tiga kali namaku

Bento, Bento, Bento

Asyik...!

Tapi itu semua dulu. Sekarang situasi berubah. Sangat berubah malah. Gelombang reformasi 1998 telah merekonstruksi segalanya. Termasuk musik yang tak lagi berafiliasi dengan politik. Musik dan politik telah jadi entitas yang benar-benar terpisah.

Pasar memalingkan muka pada lagu-lagu cinta. Pasar telah terbius Peter Pan, Ungu, sampai Hijau Daun. Musik dan politik, bagi sebagian besar musisi sekarang, benar-benar sudah bertalak tiga. Pesona reformasi telah membuat mereka terbuai. Merasa lepas dari belenggu. Merasa nyaman. Tak perlu kritis, karena situasi jauh lebih baik.

Slank memang masih mengawinkan dua bidang itu. Tapi kritik itu lebih terkesan malu-malu, tak lagi lugas. Bandingkan saja lirik lagi "Birokrasi Komplex" dalam album Generasi Biru (1994) dan lagu "PR si Sum" dalam album Tujuh (1997) dengan kritik-kritik dalam album-album mereka akhir-akhir ini. Yah, kritik pedas mereka yang terpahat dalam lirik- lagu "Kampungan", "Hey Bung", "Birokrasi Kompleks", atau "Bang Bang Tut" sudah jadi artefak.

Slank kini lebih memilih banyak bercerita tentang cinta. "Virus", "Ku Tak Bisa", "Cinta", dan "Kuil Cinta", yang lebih banyak diminati pasar itu, tak lagi seperti Slank yang dulu. Kiblat musik dari Gang Potlot ini juga telah terseret pesona lagu-lagu cinta.

Melihat Iwan Fals, malah lebih kentara paradoks pada diri salah satu orang paling berpengaruh di Asia versi Majalah Time ini. Bang Iwan tak selugas dulu. Bang Iwan memang masih kritis, tapi tak lagi garang. Mungkin karena umur dan kebutuhan yang lebih kompleks. Bang Iwan memang tak lagi muda. Darahnya tak lagi menggelegak. Alirannya lebih tenang.

Bandingkan saja kritik pedasnya dalam "Kontrasmu Bisu", "Wakil Rakyat", atau "Tikus-tikus Kantor," dengan lirik "Yang Tercinta" atau "Aku Bukan Pilihan". Bahkan beberapa lagu sudah disinetronkan.

Sebuah transformasi frontal. Padahal dulu, ketika mengangkat tema cinta pun, sentilan Bang Iwan tetap terasa. Simak saja lagu "Pesawat Tempur", "Kereta Tiba Pukul Berapa" atau "Kembang Pete". Tapi sekarang, cinta adalah cinta. Pengejawantahan perasaan antar individu yang benar-benar terpisah dari fenomena sosial.

Mungkin Slank dan Iwan Fals sempat khilaf, dan merasa situasi sudah sangat aman. Mungkin mereka merasa musuh bersama itu sudah tumbang dan tak lagi ada kewajiban melawan. Sudah mulai apolitis. Terseret dalam hukum pasar. Tapi untunglah, "Garudaku" masih bisa dilantunkan dalam debat capres itu. Minimal kita bisa sedikit ruh Iwan Fals yang sempat hilang itu.

Sampai saya mendengar kabar dari seorang teman kalau Majalah Rolling Stone Indonesia akan coba "mengawinkan" Slank dan Iwan Fals dalam album, medio Juli nanti. Lalu saya jadi bertanya-tanya, apa dasar ide itu?

Jadinya saya menebak-nebak; bagaimana bentuk kolaborasi itu nanti? Apakah akan semakin kental nuansa cinta antisosialnya? Atau ide mengawinkan dua kiblat musik Indonesia itu sebagai respons dari situasi sekarang, yang aroma pengekangan mulai menggejala lagi, sehingga perlu membangunkan "macan-macan tidur" yang siap mengaum di depan sistem yang kian represif? Tapi, saya hanya bisa menebak-nebak. Sambil menunggu, apakah memang mereka dibangunkan sebagai macan atau cuma sepasang kucing yang manis.

Karena sekarang ini memang kita belum tahu apa yang dihadapi. Tak seperti ketika Orde Baru mengangkang dulu, yang jelas siapa yang dihadapi dan bagaimana menghadapinya. Mungkin Slank dan Iwan Fals sadar situasi ini.

 

 

 

(Lihat foto: Slank, Iwan Fals dan Suara Mereka)


Artikel ini memiliki: 10 KomentarBiasa +2

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »