Co-Branding yg Membingungkan • penulis: guawijaya, 18 Juni 2009 09:33:19 • 4 KomentarLucu +4

Biasanya Co Branding dilakukan pada dua produk yang dapat saling bersinergi dan memberikan nilai tambah pada produk kolaborasinya. Hal ini dilakukan guna menguatkan posisi dari masing-masing produk tersebut, seperti halnya Sony dengan Erricson yang berpadu padan dengan sungguh-sungguh menggeluarkan produk yang dapat menandingi sang raja ponsel.

Intinya kedua produk tersebut memadukan kelebihan masing-masing untuk menjadikan suatu produk yang extra manfaat dan extra unggul. Biasanya nama produk baru, jika dari masing-masing merk memiliki keunggulan pada bidangnya, maka mereka tidak akan mengelobari nama menjadi satu nama [yang nantinya menghilangkan nama asal masing-masing] , tetapi mereka lebih suka memadukan dua nama besar tersebut tanpa tambahan atau pengurangan sedikitpun. Karena penambahan dan pengurangan atau penggabungan yang tidak tepat malah akan menjadi bumerang bagi produk baru tersebut.

Praktik Co-Branding ini dilakukan oleh 3 pasang calon pemimpin bangsa ini, dengan penekanan yang lebih kearah Impact Rasa dari penggabungan dua nama agar terkesan menjual. Bukan kepada aspek fitur dan brand essence-nya. Atau karena dua nama pribadi yang digabungkan tadi tidak begitu kuat character-nya sehingga susah untuk dijual. Hal ini tercermin ketika mereka menentukan merk dagang mereka, dan beberapa kali terjebak pada suatu kesalahan yang tidak mereka perkirakan sebelumnya.

Ketika deklarasi di Sabuga Bandung, Bpk. Susilo Bambang Yudhoyono dan Bpk. Boediono, diberi label SBY Berboedi, tetapi sejalan dengan waktu berubah menjadi SBY-Boediono, kenapa begitu???

Ternyata dalam bahasa Palembang, Berboedi itu bermakna Berbohong, sehingga jika digabungkan dengan Merk awal yang di launch saat itu bisa berakibat negatif pada saat mendatang, bayangkan jika SBY Berboedi tetap dipertahankan, sama saja secara tidak langsung dapat diartikan SBY Berbohong.

Begitu juga dengan Ibu Megawati dengan pak Prabowo, pada saat awal mereka di beri merk MEGA Pro, tetapi karena terasa murahan dan mengandung asosiasi merk sebuah motor, maka buru-buru diganti menjadi Mega-Prabowo.

Lain halnya dengan Bpk Jusuf Kalla dengan Bpk Wiranto, pada saat awal merk mereka adalah JK Win. Kenapa diganti? Karena menurut pak JK, merk tersebut terlalu gegabah dan super optimis, karena dapat diartikan JK Menang, JK Pasti Menang (Win = Menang), atau dapat diartikan miring sebagai produk discontinue (apkir) karena merk Win pernah digunakan pada motor Honda, yaitu Honda Win yang sudah tidak diproduksi lagi, karena sudah kuno dan tidak feasible utk di rejunivasi lagi.

Apakah merk dagang mereka sekarang sudah tepat?

Kenapa bukan:

Utk Susilo Bambang Yudhoyono & Boediono: Bang Boed, Yono Ono atau Bang Dion, atau......

Utk Megawati & Prabowo: Ti Bo, Wati Bo', atau .....

Utk Jusuf Kalla & Wiranto: Su Wi, Ju Wi, Ka To', atau.....

Terlalu mengada-ada memang, tetapi perencanaan pada tahap awal sebuah bangsa sudah dapat kita baca bagaimana mereka akan merencanakan tahap-tahap selanjutnya. Sepertinya akan ada trial & error dan trial & error lagi yang akan mereka lakukan.

Rakyat dan negara ini bukanlah laboratorium percobaan bagi unjuk kemampuan memanipulasi mind share kita lewat Brand Building yang mengharu biru dan gugah rasa, rakyat dan negara ini butuh kejujuran.

[Jadilah] APA ADANYA....bukan ADA APANYA


Artikel ini memiliki: 4 KomentarLucu +4

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »