Diantara SBY-Boediono dan JK-Win • penulis: rif, 16 Juni 2009 14:04:51 • 189 KomentarMenarik +10

Secara akal sehat, mestinya kubu SBY-Boediono menghindari posisi “musuh bersama”. Tapi apa mau dikata, belakangan ini kesan “musuh bersama” itu justru makin mencuat. Survey SBY 70%, monolog Butet serta “gerakan satu putaran” barangkali punya andil menciptakan suasana itu.

Curhatan kubu SBY-Boediono bahwa dirinya dikeroyok bisa jadi malah menciptakan “trust” diantara kubu Mega-Pro dan kubu JK-Win. Yang tadinya mesti bersaing satu sama lain, sekarang malah cair memilih strategi kooperatif melawan SBY-Boediono.

Melihat elektibilitas SBY yang sampai saat ini masih di atas 50%, satu-satunya kesempatan mengalahkan SBY-Boediono adalah jika PilPres nya dua putaran. Voter yang “jagoan”nya tidak masuk ke putaran kedua pasti akan memberikan suaranya kepada “teman” yang pernah sama-sama memusuhi SBY-Boediono.

Darimanakah swing voter yang diperebutkan?
Sudah pasti dari partai yang kadernya tidak ikutan nyapres, antara lain PKS, PAN, PKB dan PPP. Tidak cuma itu, pemilih Partai Golkar pun terkenal tidak fanatik.
Sebaliknya, pemilih PDI-Perjuangan dan Gerindra di PiLeg adalah pemilih tradisional yang gak pernah mikirin seberapa bodo Megawati dan seberapa jahat Prabowo. Tidak ada swing voter di kubu ini.

Dalam situasi dimana swing voter lebih banyak di kubu SBY-Boediono dan JK-Win, mestinya sih tim sukses SBY-Boediono berhenti menyerang JK-Win dan mulai menyampaikan pesan-pesan yang bersahabat, menggeser visi agar lebih merapat ke visi JK-Win.
Median voter berada diantara ekstrim SBY dan ekstrim JK. Isyu poros tengah nya bukan antara ekstrim liberal dan ekstrim kerakyatan.

(Lihat foto: Diantara SBY-Boediono dan JK-Win)


Artikel ini memiliki: 189 KomentarMenarik +10

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »