Timtim pergi, Aceh dan Papua menyusul? • penulis: sang juara, 12 Juni 2009 15:16:23 • 66 KomentarPenting +6

Selama ini, Nasionalisme dan Patriotisme, begitu identik dengan prajurit. Baik itu TNI maupun POLRI. Hal itu memang lumrah, karena mereka itulah yang selalu terlihat seperti itu. Disini, saya akan menceritakan sedikit pengalaman saya, mengenai semangat tersebut.

Senin, biasanya saat kita sekolah dulu, selalu identik dengan Upacara Bendera. Tapi, dari pengalaman saya pindah-pindah sekolah, saya belum pernah melihat suasana seperti ini. Sekarang, saya tidak tau lagi apakah kebiasaan ini masih berlanjut atau tidak.

Di Ternate, sebuah Pulau kecil di Utara Maluku, sekarang menjadi Ibukota Propinsi Maluku Utara, biasanya kami para murid, selalu mendapat giliran untuk menjadi POLANTAS kecil, dengan modal sempritan dan kaus tangan mirip punya Pak Polisi beneran. Tugas kami adalah, menghentikan semua para pengguna jalan, pada saat Bendera sedang di naikkan. Dan kami seakan punya wewenang penuh untuk menghentikan siapapun yang menggunakan jalan tersebut. Tentunya, kami tetap di dampingi oleh Pak Polisi yang lain.

Entah itu sudah merupakan peraturan dari PEMDA atau memang sudah menjadi kebiasaan masyarakat setempat, yang pasti, pada saat Bendera akan dinaikkan, semua aktifitas di sekitar tempat upacara atau sekolah kami, berhenti sejenak. Dengan khidmat, kami semua, baik para pengguna jalan maupun peserta upacara, menyanyikan lagu Indonesia Raya. Setelah Bendera berhasil di kibarkan, para pengguna jalan melanjutkan kembali aktifitas mereka.

Mungkin hal ini tidak bisa di terapkan di tempat lain, mengingat tingkat kepadatan penduduk di tempat lain. Tapi yang ingin saya tampilkan adalah semangat yang mereka tunjukkan tersebut. Betapa mereka mau berhenti sejenak "hanya" untuk memberi hormat kepada Merah Putih. Semangat yang akan membuat mereka berpikir seribu kali untukmenyebarkan benih-benih pemberontakan atau separatisme. 

Sekarang saya akan bercerita tentang, seorang teman, senior lebih tepatnya, sesama penghuni PELATNAS, asal Papua. Sampai sekarang saya belum tau nasibnya seperti apa. Berita tentang dirinya masih simpang siur. Saya hanya berdoa, semoga di manapun berada, Dia, tetap sehat.

Malam itu adalah malam renungan buat para atlit yang akan berangkat ke Kuala Lumpur, Malaysia. Suasana haru dan penuh semangat, ikut meramaikan malam itu. Dalam rangkaian seremonial itu, Kami di minta berbaris, untuk mencium bendera Merah Putih. Ada satu kejadian "lucu", setelah Kami semua mendapat gilran untuk maju dan mencium Bendera, teman saya, sebut saja SM, mencium bendera dan menangis. Lucu, karena dengan badan yang begitu besar, SM menangis. Kami tidak tau motif atau perasaan apa yang Dia rasakan.

Saat kami tanyakan, SM hanya menjawab, ""coy, itu bendera kita, kita harus bangga dengan itu". Begitu jawabnya sambil tersenyum.

Beberapa tahun kemudian, saya melihat acara tv, "penggerabekan kamar kost, anggota OPM". Di dalamnya, di temukan dokumen-dokumen OPM, buku-buku dan senjata berat. Ya, betul. Itu kamar teman saya, SM. Kami semua heboh dengan berita itu. Ada yang kaget, ada juga yang merasa biasa-biasa saja. Kami jadi teringat dengan kejadian malam itu, bertanya-tanya dan kemudian membuat kesimpulan kecil.

"Oh, mungkin malam itu SM menangis karena itu bukan bendera OPM". Tapi ada juga yang berpendapat lain. Tapi, apapun pendapat kami, itu tidak akan mengubah kenyataan yang ada. 

Lain SM lain pula cerita teman-teman saya dari Aceh. Kita sama-sama tau, dulu di Aceh ada dua jenis KTP yang di pakai. Satu KTP GAM, satu lagi KTP Merah Putih, resmi dari PEMDA setempat. Merah Putih, karena warnanya memang seperti itu.

Buat MN, nama teman saya itu, mereka serba salah, pake KTP yang satu, di musuhi oleh GAM. Meskipun, Dia tidak pernah takut dengan GAM, bahkan cenderung benci. Kalau pake KTP yang lain, di tangkapi oleh aparat dan di gebuki. Lalu apa yang harus mereka lakukan? 

Sekarang, entah bagaimana nasibnya. Disaat GAM mendapat kekuasaan, karena Partai GAM memenangi Pemilu. Apakah Dia tetap konsisten dengan Merah Putih, atau ikut menjadi oportunis?

Banyak pertanyaan dalam benak saya, yang memaksa saya untuk menulis cerita ini. Apakah nilai-nilai yang dulu kita terima itu sudah mulai luntur? Apakah konsep NKRI itu hanyalah sekedar konsep atau harus kita laksanakan dan pertahankan denga cara apapun?!

Sampai kapankah kita harus mendengar OPM dan GAM atau RMS? Sampai kapankah, Papua dan Aceh akan tetap menjadi bagian dari NKRI? Dan masih banyak lagi sampai kapan-sampai kapan yang lain.

Setelah Tim-Tim, wilayah mana lagi kah yang akan lepas atau melepaskan diri dari NKRI, hanya karena ketidak pedulian Pemimpin kita? Sangat di sesali memang jika kita harus kehilangan saudara-saudara kita tersebut. Hanya karena ketakutan dengan dunia internasional, kita jadi lembek, dan membiarkan semua itu terjadi.

Aceh dan Papua, memiliki SDA yang kaya. Tapi, mereka lebih tertinggal di banding daerah-daerah yang lain. Kenapa? Apakah kita sudah menjadi penjajah buat Bangsanya sendiri? Ataukah kita menjadi makelar buat perusahaan-perusahaan asing, untuk menjajah saudara-saudara kita tersebut?

MARILAH KITA RENUNGKAN BERSAMA. PEDULI SETAN DENGAN DUNIA INTERNASIONAL. SELAMA PEMERINTAH BISA MENSEJAHTERAKAN RAKYAT, TAK KAN ADA PEMBERONTAKAN.

 

(Lihat foto: Timtim pergi, Aceh dan Papua menyusul?)


Artikel ini memiliki: 66 KomentarPenting +6

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »