Digagas oleh Soekarno, disikapi oleh Soeharto dan dibangun oleh Megawati. Begitulah sejarah panjang dibangunnya Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) yang pada 10 Juni 2009 ini diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dan tak mengherankan bila peresmian proyek monumental jembatan Suramadu tersebut pun dimanfaatkan untuk mengukuhkan citra politik SBY yang diusung Partai Demokrat.
Indikasi pencitraan politik SBY pada peresmian proyek tersebut terlihat dengan adanya spanduk bertuliskan ‘Demi Suksesnya Pembangunan, Lanjutkan’. Dalam spanduk itu terpampang foto Presiden SBY dan Ibu Negara Ani Yudhoyono, Gubernur Jawa Timur Soekarwo ,dan Wagub Saifullah Yusuf, Bupati Bangkalan Fuad Amin, dan wakilnya. Sama sekali tidak ada foto Wapres Jusuf Kalla.
Selain itu di tengah acara peresmian itu, semua peserta yang hadir pun mendapat souvenir berupa buku bertajuk Harus Bisa! dengan judul kecil Seni Memimpin Jilid II Ala SBY. Sebagaimana dimaklumi, buku tersebut merupakan catatan harian jurubicara SBY, Dino Patti Djalal.
Seolah agar diketahui publik, acara seremoni peresmian jembatan yang menghabiskan anggaran sebesar Rp 4 triliun itu juga diiklankan di media cetak. Dalam iklan tersebut terdapat foto SBY dan mantan Presiden Soeharto yang mengapit gambar jembatan Suramadu.
Nuansa politisasi peresmian jembatan Suramadu sebenarnya sudah lama dikhawatirkan oleh banyak pihak, khususnya oleh para tokoh masyarakat di Jawa Timur. Sesepuh provinsi itu, M Noer, bahkan berharap seluruh mantan presiden RI diundang untuk hadir dalam peresmian tersebut.
Tak hanya itu, Bupati Bangkalan Fuad Amin juga berharap, baiknya Presiden SBY dan Wapres JK dapat hadir bersama-sama di acara peresmian jembatan terpanjang di Asia Tenggara tersebut.
Pembangunan Suramadu memang baru terwujud sejak pemerintahan Megawati. Peresmian tiang pancangnya dilakukan oleh Megawati Soekarnoputri pada Rabu, 20 Agustus 2003. Bahkan, saat peresmian, dalam sambutannya tanpa teks,
Megawati berpesan kepada para bupati di Madura agar memperhatikan dan mewaspadai dampak yang mungkin akan timbul akibat pembangunan jembatan Suramadu ini.
Dampak yang disoroti Megawati terutama akan meningkatnya industrialisasi di Pulau Madura yang bisa memicu migrasi penduduk dari Jawa ke Madura. "Saya tidak ingin setelah jembatan ini dibangun masyarakat Madura malah terpinggirkan," kata Megawati.
Apalagi, lanjut Megawati, saat itu dirinya kerap menerima laporan tentang banyaknya orang-orang di luar Madura yang mengincar lahan pulau itu. "Karena itu saya minta para bupati memperhatikan hal ini dengan seksama. Awasi betul, jangan sampai tanah masyarakat Madura lepas begitu saja," Megawati mengingatkan.
Selain meresmikan tiang pancang di Surabaya, saat itu Megawati juga meresmikan bentang tengah Jembatan Suramadu di desa Sukolilo Barat, Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan, pada, Jumat, 2 Juli 2004. Kala itu Megawati sebagai Presiden, memerintahkan Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah Sunarno untuk mempercepat pembangunan jembatan Suramadu.
Jembatan Suramadu sepanjang 5.438 meter itu, di era Megawati, biaya pembangunan jembatan itu dianggarkan Rp 2,82 triliun. Namun berdasarkan informasi berbagai sumber, ternyata biaya pembangunan Suramadu menjelang diresmikan penggunaannya oleh Presiden SBY mencapai sekitar Rp 4,5 triliun. Waktu pengerjaannya pun molor hingga 6 tahun.
(Tulisan disadur dari Detik.com, Inilah.com dan beberapa sumber online)
(Lihat foto: Politisasi Proyek Jembatan Suramadu oleh SBY)
Artikel ini memiliki: 35 Komentar • Menarik +10