Amarah Anak Bangsa • penulis: sang juara, 09 Juni 2009 12:05:11 • 66 KomentarMenarik +10

Ini hanyalah sepenggal pengalaman Kejuaraan Dunia pencak Silat tahun 2000 di Padepokan Pencak Silat, Jakarta. Rasa haru, bangga dan bahagia itu seakan baru kemarin saya rasakan. Tekad yang begitu bulat, untuk tidak membiarkan bendera Malaysia, berkibar di atas Merah Putih, juga masih terasa.

"Mas, saya tidak akan membiarkan, bendera mereka berkibar untuk yg ketiga kalinya!!!". Itu kalimat yang saya ucapkan kepada Pelatih. Kalimat yang penuh kemarahan. Kemarahan yang muncul akibat, dua teman saya "di kalahkan" oleh atlit Malaysia. Keputusan juri memang kontroversial, sehingga mereka kalah.

Saya adalah finalis ketiga dari Tim Indonesia. seorang pemula, yang baru merasakan atmosfir kejuaraan "besar", yang penuh dengan tekanan. Saya sendiri bingung, kenapa bisa berkata seperti itu. Tanpa tau harus bagaimana dan strategi apa yang akan di pakai nanti pada saat bertanding. Tapi tekad saya sudah bulat. Apapun yang akan terjadi, saya harus menang! Itu sumpah saya.

Meskipun sempat bingung, kesakitan (cedera engkel) dan kewalahan, saya berhasil juga menepati sumpah itu. Saya berhasil mengibarkan Merah Putih, di iringi dengan lagu Indonesia Raya. Saya menjadi peraih emas pertama buat Indonesia. Dan ternyata, hal itu menjadi pemicu buat teman-teman, sehingga kami bisa meraih total 14 emas.

Perasaan bangga itu masih ada dan akan terus ada buat saya. Bukan perasaan bangga karena menjadi juara. Tapi perasaan bangga, karena bisa berbuat sesuatu buat Bangsa ini. Meskipun belum seperti para pendahulu kita -semoga bakti tulus mereka di terima Allah Yang Maha Kuasa- yang berjuang untuk kemerdekaan.

Kemarahan yang saya rasakan dulu, kembali muncul. Muncul, ketika melihat "ketidak berdayaan" pemerintah kita, menghadapi Malaysia. Hampir setiap hari kita mendengar, kapal perang Malaysia, melintasi perairan kita. Dan, hampir setiap hari pula, kita mendengar kemarahan saudara-saudara setanah air kita.

Di tengah hingar bingar kampanye dan perbedaan pandangan politik kita. Saya hanya mencoba untuk menularkan rasa "marah" saya yang dulu. Rasa yang membuat saya, menjadi lebih kuat dan bersemangat. Rasa yang membuat saya melupakan sejenak nyeri yang di timbulkan oleh cedera dan serangan yang saya terima. Rasa yang hanya ingin melihat Merah Putih tetap jaya.

Bangsa ini terlalu besar untuk hanya sekedar menjadi bulan-bulanan tetangga kita. Terlalu besar untuk hanya menjadi PENGHUTANG terbesar. Terlalu besar untuk hanya sekedar menjadi ladang para penguasa mencari popularitas semu.

Ayo saudara-saudara  setanah airku, mari rapatkan barisan. Kita beri dukungan untuk Presiden kita yang sekarang, agar jangan mau di lecehkan Malaysia. Wahai Presiden kami yang tercinta, jangan ragu, kami mendukungmu. Kami akan ada di belakangmu, dengan apapun yang akan Bapak lakukan, asalkan NKRI tetap utuh. Buktikan kepada kami bahwa Bapak bisa melakukan itu.

NKRI = HARGA MATI!!!

(Lihat foto: Amarah Anak Bangsa)


Artikel ini memiliki: 66 KomentarMenarik +10

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »