Pagi tadi badanku terasa lemas karena kurang tidur. Semalaman di atas kasur yang seharusnya nyaman untuk ditiduri, otakku tidak mau berkompromi untuk diajak beristirahat. Otakku terus saja mengajak dan mengusik batinku berdiskusi sampai terkadang berdebat. Sekali lagi, tanpa kompromi dan juga tanpa peduli bahwa aku sebagai tuan mereka membutuhkan istirahat malam agar cukup segar untuk memulai pekerjaan di pagi harinya.
Sebetulnya apa yang menjadi bahan diskusi di antara mereka tidak ada hubungan langsungnya denganku. Walaupun, harus kuakui, ada faktor kesalahanku juga di situ. Ya, kesalahanku karena membiarkan diriku menyaksikan tayangan berita malam di salah-satu stasiun televisi, hanya sesaat menjelang tidur. Kesalahanku karena membiarkan mata dan telingaku menyaksikan dan mendengarkan berita-berita “hangat” seputar pelanggaran terhadap kedaulatan teritorial Indonesia oleh kapal perang negeri jiran. Akibatnya, persis seperti yang telah kuceritakan di atas. Yah, beginilah nasibku yang hanya mempunyai otak dengan kemampuan bernalar pas-pasan, dan batin yang cuma punya kemampuan mengumbar emosi tanpa strategi.
Pangkal dari diskusi otak dan batin dimulai ketika Sang batin ngedumel,
“Aku kok merasa tersinggung dan dilecehkan ya…”
Sang otak yang hampir terlelap semula malas menanggapi.
“Benar-benar kelewatan! Betul nggak, ‘Tak?”, lanjut Sang batin mencoba membakar suasana.
“Halah.., sudah! Bukan urusan kita. Jangan terlalu dipikirkan…“, Sang otak menanggapi sekenanya.
“Lho, kok bukan urusan kita? Kita kan orang Indonesia?”, ujar Sang batin tidak sependapat.
“Iya, tapi dengar ‘tho tadi di berita, kalau masalah ini sudah ada yang ngurusi? Sudah ada yang berwenang. ”, Sang otak berkilah.
Percakapan mereka terhenti ketika aku membalikkan badan, mencoba mencari posisi tidur yang lebih enak. Dan, aku pasti sudah tertidur saat itu juga kalau saja Sang otak tidak berulah dengan gumaman pertanyaannya.
“Kenapa ya kita sekarang gampang sekali dilecehkan? Kok berani-beraninya mereka dengan negara sebesar ini, dengan rakyat sebanyak ini… Nekad betul!”
“Nah.. Nah... betul, kan? Kamu mulai sependapat denganku, kan?”, Sang batin merasa berhasil.
“Iya, iya…”, Sang otak mengaku. “Tapi kenapa? Kenapa bangsa lain seperti kehilangan respek terhadap kita? Padahal dulu kita termasuk bangsa yang disegani..”
“Makanya, usulku nih, ayo lawan! Sikaatt! Haajjaarrr…!”, Sang batin berujar penuh semangat. “Kita tunjukkan kekuatan kita!”
“Huusshh…”, Sang otak membentak. “Ngajak perang?? Mbok ya pakai otak…”
Sang otak terhenyak sendiri menyadari kekeliruan ucapannya. Mana mungkin Sang batin memakai otak. Punyapun tidak. “Maaf, ‘Tin..”, lanjutnya mengoreksi.
“Maksudku begini.. Sekarang ini perang bukan pilihan efektif. Cuma menghabiskan uang dan nyawa. Belum lagi peralatan tempur kita yang katanya serba pas-pasan. Harus ada cara lain untuk dapat membuat bangsa kita kembali disegani oleh bangsa-bangsa lain, selain dengan pilihan perang atau kekerasan. Dulu pun kita disegani bukan karena kemampuan perang kita kok...”
Sang batin diam mendengarkan. Ia mencoba menerima penjelasan itu, biarpun sulit.
“Sekarang zamannya perang imej, ‘Tin. Perang pencitraan..” Sang otak melanjutkan pendapatnya. “Semakin baik citra kita di dunia internasional, semakin respek negara lain terhadap kita. Kita harus bisa menunjukkan sesuatu yang lebih, sesuatu yang pantas kita banggakan kepada dunia. Dengan begitu kita akan disegani. Sekarang ini apa coba yang bisa kita banggakan kepada dunia internasional? Nyaris nihil. Bahkan di bidang olahraga pun tidak. Coba ingat-ingat kapan terakhir kita juara umum Seagames? Kapan terakhir kita juara All England dan Thomas Cup? Masih ingat juga kan ketika Alan Budikusumah dan Susie Susanti mengawinkan emas di Olimpiade?”
“Ya.. ya.. ya… Aku ikut menangis bangga waktu bendera merah putih memuncak di Spanyol sana, “ ingat Sang Batin.
“Olahraga memang bukan politik, tapi sensasinya dapat berdampak pada politik.”, lanjut Sang otak sembari terus mengolah daya-ingatnya, mencocokkan data-data yang relevan untuk meyakinkan Sang batin.
“Oh ya, jangan lupakan Affandi yang sejajar dengan maestro lukis dunia. Habibie yang hitung-hitungan ilmu pesawatnya masih dipakai NASA. Gesang yang Bengawan-solonya menjadi lagu abadi di Jepang.”
Aku kembali membalikkan badan. Diskusi ini semakin mengganggu urusan tidurku. Kututupi wajah dengan bantal, tapi usaha itu gagal menghentikan dialog mereka.
“Yang penting juga para pemimpin kita harus mampu mengasah kepiawaian berdiplomasi dan menunjukkan sikap kenegarawanannya. Itu penting. Ingat bagaimana memukaunya Soekarno di muka Sidang Umum PBB ke XV tahun 1960 dengan pidatonya “Membangun Dunia Kembali (To Build The World a New)”; juga bagaimana diseganinya Soeharto di kalangan pemimpin-pemimpin negara Asean. Mereka adalah contoh bagaimana seorang pemimpin mempunyai andil yang besar dalam membangun citra negara agar disegani.”
“Kita harus berbuat sesuatu untuk mengharumkan nama bangsa ini. Mulai dari sekarang. Bagaimana menurutmu, ‘Tin?” tanya Sang otak bersemangat. Ia menunggu cukup lama, tapi Sang batin tidak juga menjawab.
“Walah, jangan tidur kamu, ‘Tin!”, protes Sang Otak “Usul-usulku tadi membutuhkan peran-sertamu juga. Bagaimana bisa terwujud kalau bentuknya cuma hasil pemikiranku, tanpa dukungan niat dan semangatmu?”
Sang batin tetap tak menjawab. Entah tertidur, entah bingung, entah tak peduli. Hari semakin mendekati pagi dan aku pun akhirnya ikut tertidur.
Artikel ini memiliki: 1 Komentar • Penting +2