Saat ini nahkoda kapal kita akan diganti karena masa tugasnya cuma 5 tahun. Kita tahu bahwa kapal kita ini memiliki kebocoran di sana-sini. Entah mengapa, kebocorannya selalu ada. Tambal sana, bocor sini. Tambal sini, bocor sana.
Beberapa orang telah mencalonkan diri menjadi nahkoda dan asisten nahkoda. Masing-masing memiliki keahlian, pengetahuan dan pengalaman yang hebat. Lalu manakah yang akan kita pilih?
Nahkoda pertama yang mendaftar ini sudah berpengalaman menjadi nahkoda. Dia berprinsip bahwa kapal haruslah baik. Seharusnya tidak boleh ada kebocoran sedikit pun. Menambal kebocoran adalah keharusan. Tetapi memberantas penyebab kebocoran adalah yang utama.
Selain berpengalaman, dia juga dibekali pengetahuan navigasi sehingga mampu mengarahkan kapal dengan tepat. Walau pun lambat, tapi diharapkan semuanya selamat.
Nahkoda kedua menawarkan sesuatu yang berbeda. Baginya penumpang adalah yang utama. Kenyamanan penumpang harus nomer satu. Kalau perlu semua penumpang dilayani layaknya penumpang kelas satu. Awak kapal adalah pelayan bagi para penumpang. Tujuannya adalah semua penumpang senang.
Sayangnya nahkoda ini, walau pun punya pengalaman yang cukup dalam menahkodai kapal, dia kurang tegas dalam memimpin awak kapal. Dari pengalaman menahkodai kapal yang terdahulu, dia kurang memperhatikan kapalnya. Bocor sana, bocor sini, dibiarkannya. Kalau pun ditambal, itu pun seadanya. Yang penting kapal tetap melaju namun tidak sampai tenggelam.
Ironisnya bocoran ini seringkali disebabkan oleh awak kapalnya sendiri. Mungkin karena lalai dalam menjalankan tugasnya. Mungkin saja memang sengaja membocorkannya demi mendapatkan ikan dalam bertugas.
Nahkoda berikutnya juga cukup berpengalaman. Paling tidak dia punya pengalaman sebagai asisten nahkoda di penugasan sebelumnya. Baginya menjalankan kapal harus dihitung dari segi ekonomi. Apakah bisa untung atau tidak? Kalau tidak, harus dicari strategi supaya bisa menguntungkan.
Baginya penumpang adalah salah satu roda perputaran bisnis yang paling menguntungkan. Kalau penumpang bisa sejahtera, maka kapal pun akan sejahtera. Memberdayakan kemampuan penumpang adalah tujuan utamanya supaya roda bisnis ini tetap berputar dengan laju.
Sebenarnya masih banyak karakteristik dari para calon nahkoda ini. Namun kurang lebih di atas sudah cukup mewakili karakteristik paling menonjol dari pada nahkoda. Paling tidak secara semena-mena saya menilai para calon nahkoda tersebut demikian.
Seandainya saja kita semua adalah penumpangnya dan diberi kesempatan memilih nahkoda kapal, kira-kira mana yang akan kita pilih?
*mikir-mikir milih yg care dengan kondisi kapal*
(Lihat foto: Nahkoda Kapal Bocor)
Artikel ini memiliki: 24 Komentar • Lucu +6