#Tulisan ini sebenarnya udah lama banget beredar di
milis-milis, entah siapa penulis asalnya. Tapi, insya
Allah masih up to date kok Smiley#
Hati-hati Perang Pemikiran, Anakku!
Seorang wanita berjilbab rapi tampak sedang
bersemangat mengajarkan sesuatu kepada murid-muridnya.
Ia duduk menghadap murid-muridnya.
Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada
penghapus.
Sang guru berkata,
"Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri
saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus.
Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah "Kapur!",
jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah
"Penghapus!"
Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Sang guru
berganti-gantian mengangkat antara kanan dan kiri
tangannya, semakin lama semakin cepat.
Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata,
"Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur,
maka berserulah
"Penghapus!", jika saya angkat penghapus, maka
katakanlah "Kapur!"
Dan dijalankanlah adegan seperti tadi, tentu saja
murid-murid kerepotan dan kelabakan, dan sangat sulit
untuk merubahnya.
Namun lambat laun, mereka bisa beradaptasi dan tidak
lagi sulit.
Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru
tersenyum kepada murid-muridnya.
"Anak-anak, begitulah kita ummat Islam. Mulanya yang
haq itu haq, yang bathil itu bathil. Kita begitu jelas
membedakannya. Namun kemudian, musuh-musuh kita
memaksakan kepada kita lewat berbagai cara, untuk
membalik sesuatu, dari yang haq menjadi bathil, dan
sebaliknya.
Pertama-tama mungkin akan sulit bagi kita menerima hal
tersebut, tapi karena terus disosialisasikan dengan
cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun
kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai
mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak
pernah berhenti membalik nilai."
"Pacaran tidak lagi sesuatu yang tabu, selingkuh dan
zinah tidak lagi jadi persoalan, pakaian mini menjadi
hal yang lumrah, sex before married menjadi suatu
hiburan, materialistis dan permisive kini menjadi
suatu gaya hidup pilihan, tawuran menjadi
Trend pemuda... dan lain lain."
"Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disadari, kalian
sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?" tanya Ibu
Guru kepada murid-muridnya.
"Paham buu..."
"Baik permainan kedua..." begitu Bu Guru melanjutkan.
"Bu Guru punya Qur'an, Ibu letakkan di tengah karpet.
Nah, sekarang kalian berdiri di luar karpet.
Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil
Qur'an yang ada di tengah tanpa menginjak karpet?"
Nah, nah, nah.
Murid-Muridnya berpikir keras. Ada yang punya
alternatif dengan tongkat, dan lain-lain.
Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, ia gulung
karpetnya, dan ia ambil Qur'annya. Ia memenuhi syarat,
tidakmenginjak karpet.
"Anak-anak, begitulah ummat Islam dan
musuh-musuhnya... Musuh-musuh Islam tidak akan
menginjak-injak kalian dengan terang-terangan...
Karena tentu kalian akan menolaknya mentah mentah.
Premanpun tak akan rela kalau Islam dihina di hadapan
mereka. Tapi mereka akan menggulung kalian
perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak
sadar."
"Jika seseorang ingin membangun rumah yang kuat, maka
dibangunnyalah pondasi yang kuat. Begitulah Islam,
jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat.
Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah
kalau membongkar pondasinya dulu, tentu saja
hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dulu, kursi
dipindahkan dulu, lemari disingkirkan dulu satu
persatu, baru rumah dihancurkan..."
"Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kita. Ia
tidak akan menghantam terang-terangan, tapi ia akan
perlahan-lahan mencopot kalian. Mulai dari perangai
kalian, cara hidup kalian, model pakaian kalian, dan
lain-lain, sehingga meskipun kalian muslim, tapi
kalian telah meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti
cara yang mereka...
Dan itulah yang mereka inginkan."
"Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (perang
pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh
musuh kalian...
Paham anak-anak?"
"Paham buu!"
"Kenapa mereka tidak berani terang-terangan
menginjak-injak Islam,Bu? " tanya mereka.
"Sesungguhnya dahulu mereka terang-terangan menyerang,
semisal Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain.
Tapi sekarang tidak lagi."
"Begitulah Islam... Kalau diserang perlahan-lahan,
mereka tidak akan sadar, akhirnya ambruk. Tapi kalau
diserang serentak terang- terangan, mereka akan
bangkit serentak, baru merekaakan sadar."
Kalau saja ummat Islam di Ambon tidak diserang,
mungkin umat Islam akan lengah terhadap sesuatu yang
sebenarnya selalu mengincar mereka.
Paham anak-anak?" "Paham Buu.."
"Kalau begitu, kita selesaikan pelajaran kita kali
ini, dan mari kita berdoa dahulu sebelum pulang..."
Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar
meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran
masing-masing di kepalanya.
... so marilah berperang ... demi sesuatu yang kita yakini.. dan bela-belain selama ini...
... manfaatkan pedang (bakat,kemampuan,fasilitas
Artikel ini memiliki: 58 Komentar • Biasa -3