You can find the original article in my blog in multiply: rikigede.multiply.com.
(tulisan ini melanjutkan kepingan tulisan yang ada di status facebook gue waktu hari buruh kemarin. di status itu, gue nulis "if we can't have a labor day as a holiday, can't we have a shareholders' day instead"? in which, andy laver commented on capitalism. ya udah deh gue lanjutin aja disini. oh iya, maaf untuk pemakaian campur2 antara bahasa indonesia dan bahasa inggris. it's my article and I have full control of how I want to write it, right? and if you are tiernan downes, please check my grammar.)
hari jumat tanggal 1 Mei lalu, adalah hari buruh. while most of our neighboring countries show their appreciation towards the blue-collar society by making this day, a national holiday (which caused most of my friends working in singapore going back home to Indonesia), Indonesia does not. *padahal kalo libur kemaren kan seru tuh ya.. bisa nambah long weekend sekali lagi
I was a lawyer, and one of my specialties is (menggunakan "is" loh ya.. bukan "was") labor law. satu hal yang amat sangat perlu untuk diperhatikan bagi para penanam modal yang ada di Indonesia, adalah, when you talk about investment, talk about corporate law, please put on your capitalist hat. tapi ketika you talk about labor law, please DO put on your socialism hat.
ketika negeri ini didirikan, sepanjang sepengetahuan gue yang sempit ini, founding fathers kita (be he syahrir, muhammad yamin, sukarno, muhammad hatta) gak ada yang mikir kalo kapitalisme adalah sistem ekonomi yang akan digunakan oleh negara yang didirikannya, 60 tahun kemudian. sistem ekonomi yang ditawarkan oleh mereka (dan mereka endorse tentunya), adalah sosialisme. ga percaya? mohon lihat pasal 33 UUD 1945 dan kamu akan temukan kalo bentuk badan usaha yang diendorse adalah koperasi, bukan perseroan terbatas. yet, kalo kamu kerja di law firm, UUPT akan menjadi bibel kedua kamu (setelah Al Qur'an pastinya), bukan UU Koperasi.
gue gak bilang sosialisme itu buruk, memang PLN, KAI, dan sederet perusahaan pelayanan publik yang didirikan sebagai amanat dari sistem ekonomi ini, jelek banget pelayanan publiknya (heck, gue bahkan ingin supaya listrik dikasih ke swasta, karena sampe detik ini pun, listrik byar pet mulu - gue tau satu grup konglomerat yang kepengen banget masuk ke listrik tapi terhadang peraturan), tapi di sisi lain, sosialisme membuat adanya pemerataan kesejahteraan. sesuatu yang, pada saat ini, is desperately needed by this country.
udah kelewat banyak banget, contoh yang relevan dengan apa yang gue bilang diatas. ngantri crocs dari lantai 5 sampe lantai 8 senayan city? only happens in Indonesia. ngantri BLT di kantor pos yang bikin nenek-nenek pada pingsan? only happens in Indonesia. masih satu propinsi loh kejadiannya. gue tau satu orang yang bisa aja makan pagi di singapur, makan siang di jakarta, makan malem di seminyak, tapi tetangga gue ada yang kepengen pulang kampung ke yogyakarta aja, dia mesti nabung 5 tahun lamanya. (gue juga kepengen mudik lagi sih . desember kali yaa).
gapnya udah kelewat gede sodara-sodara. salah siapa coba kalo begini? apa yang bisa dilakukan? ngarepin pemerintah? lah ngurusin pendataan warga negaranya aja gak becus (DPT yo!), gimana mau ngurusin yang gede-gede kayak pemerataan kesejahteraan.
well, your comments are very much welcome. please, correct me if I'm wrong. I know you'd like to say something, so spill it out. oh ya, gue sengaja ga ngebahas kapitalisme karena kalo mau baca tentang kapitalisme, tinggal beli bisnis indonesia aja di loper koran sebelah hehehehe.
Artikel ini memiliki: 43 Komentar • Menarik +1