Dari jaman SMA dulu, gue selalu diindoktrinasi dengan pernyataan kalo Indonesia adalah negara hukum, bukan negara yang berdasarkan kekuasaan. rechstaat katanya, bukan maachstaat.
Pernyataan diatas menggambarkan, kalo Indonesia adalah negara dimana semua orang adalah sama di muka hukum, tanpa kecuali. Maachstaat di sisi lain, adalah pernyataan yang menegasikan rechstaat, dimana semua orang punya kedudukan yang berbeda, tergantung kekuasaan dia.
Gue udah tau banget sih, kalo ini adalah cita-cita idealis. Maksudnya, para founding fathers pengennya ini loh yang dialami sama Indonesia, tapi semua orang tau, kalo keinginan ini, pada prakteknya malah gak jadi/gak ada.
Yang paling simpel deh: lampu merah. Lampu merah adalah representasi dari hukum yang terkecil. I mean, semua orang normal, akan menurut kalo diberhentiin sama lampu merah. Orang normal loh (with all respect to my fellow bikers hehehehe). Dalam kondisi ideal sebagaimana diinginkan dalam rechstaat, semua orang akan berhenti karena lampu merah memerintahkan dia untuk berhenti.
Tapi ini Indonesia, dimana pas pejabat (representasi dari kekuasaan) lewat, penjaganya akan berhenti di lampu merah dan menjaga supaya si pejabat ini bisa lewat lampu merah sesuka hati. Ya begitulah.
Kadang gue gak ngerti juga, apa sih urgensinya nerobos lampu merah, hanya karena dia pejabat? Apa sih salahnya, nunggu satu menitan di lampu merah, toh semua orang juga sibuk dan punya urusan?
Ah, ini beneran negara berdasarkan kekuasaan, bukan hukum.
Artikel ini memiliki: 5 Komentar • Menarik +0