Gonjang-ganjing pencalonan Boediono sebagai cawapres SBY tampaknya semakin mengkerucut dengan terbentuknya opini publik bahwa partai-partai yang awalnya pendukung koalisi (terutama PKS, PAN, dan PPP) sebagai oportunis. Bisa kita lihat resistensi politikana'ers atau forum-forum politik lainnya terhadap movement pentolan-pentolan partai itu.
Tapi, seandainya kita berfikir jernih... Seandainya kita memposisikan diri sebagai salah satu anggota partai yang awalnya mendukung SBY, apakah kita tidak akan kebakaran jenggot sebagaimana yang terjadi pada Amien Rais dkk saat ini?
- SBY (dalam cakupan luas berarti Partai Demokrat) melupakan "pengertian paling mendasar" dari prinsip koalisi dalam demokrasi. Koalisi bukanlah peleburan beberapa kekuatan menjadi satu, semisal fusinya beberapa partai Islam menjadi PPP atau partai Nasionalis-Kristen menjadi PDI di masa Orde Baru. Tapi koalisi merupakan kontrak politik untuk tujuan bersama. Dalam hal PD sebagai pemegang suara terbanyak, sangat wajar PD menjadi pemimpin gerbong koalisi ini. Namun, keputusan PD untuk memajukan Cawapres tanpa mengajak partai-partai peserta koalisinya rembukan terlebih dahulu adalah salah satu pelanggaran "kode etik tak tertulis" yang paling mendasar dalam prinsip koalisi.
- Partai-partai yang awalnya mendukung koalisi SBY, sebagian besar adalah partai dengan basis massa yang cukup kental nuansa agamanya. Oke, mari kita sebut sebagai Islam. Bagaimanapun di benak para pimpinan partai-partai itu, harapan minimal adanya perwakilan golongan Islam untuk memimpin negara ini pasti ada. Entah itu HNW yang jelas berasal dari Partai Islam, HR yang berlatar belakang Muhammadiyah, ataupun tokoh-tokoh PPP dan PKB yang umumnya dari kelompok NU.
- Resistensi kelompok partai-partai ini terhadap Ekonomi Neoliberal cukup kuat (terlepas dari baik-buruknya sistem ini). Posisi RI-2 dianggap cukup memiliki power untuk menahan laju ekonom-ekonom papan atas yang pro Neoliberal. Namun, ternyata PD lebih memilih menyandingkan SBY dengan tokoh pro Neoliberal bernama Boediono.
- Dengan mengajukan Boediono, PD menjilat ludah sendiri mengenai 5 kriteria cawapres yang dulu didengung-dengungkan. Dalam hal ini, Boediono secara kasat mata tidak lulus di kriteria lima (mampu meningkatkan kualitas dan efektifitas koalisi). Seandainya masing-masing kriteria itu dijabarkan dengan lebih teliti, mungkin Boediono hanya lulus di kriteria pertama (integritas dan kepribadian yang baik) karena kriteria ini sangat umum dan bisa sangat subjektif.
- Meskipun ini alasan yang paling "bodoh", tapi fakta bahwa bhinneka tunggal ika adalah kalimat tanpa makna, masih terbentuk di benak banyak rakyat Indonesia. Ya, masih banyak rakyat negri ini di daerah-daerah bahkan di kota besar yang mendambakan kepemimpinan Jawa-Non jawa.
Selanjutnya, banyak hal yang mungkin terjadi dalam 1-2 hari ke depan. Entah tetap di belakang SBY, entah partai-partai ini akan membentuk koalisi alternatif seperti poros tengah 10 tahun lalu, atau bergabung ke koalisi JK (setidaknya JK masih berlatar belakang NU yang layak dianggap sebagai representasi umat Islam), atau bahkan ke kubu Prabowo (meskipun PAN dengan Amien Rais-nya tampak sangat sulit untuk memilih opsi ini), atau sekalian menjadi oposisi...
However.... SBY tak pernah salah.... :)
note : gw bukan pencontreng PKS, PAN, ataupun PPP. Sueeerrrr!!!!!! :D
Artikel ini memiliki: 59 Komentar • Bagus +6