Beberapa waktu lalu saya membaca tulisan seorang bos surat kabar di korannya sendiri. Menurut saya pribadi, menarik. Bahkan saya juga sempat "terharu". Cerita tentang upaya Presiden Amerika Serikat (AS) Barrack Obama dan Perdana Menteri (PM) China Wen Jiabao mengelus-elus rakyatnya yang sedang pesimistis di tengah hantaman krisis.
Sekitar awal Maret lalu, Obama tak malu turun langsung ke beberapa kota yang paling parah krisisnya. Dia tampil seperti tetangga sebelah rumah wong cilik. Tidak ada protokoler atau moderator khas kepresidenan. Suasana dibuat akrab seakrab-akrabnya. Masyarakat yang mengeluh dia dengar, yang mengkritik dia tampung. Tidak ada emosi dalam dioalog itu.
Gayanya santai. Bahkan untuk minum pun dia ambil sendiri, bukan dari gelas di podium tapi dari air mineral dalam botol plastik yang ada di tengah-tengah audiens. Itu dilakukan Obama di tengah masyarakatnya yang sedang cemas dan butuh sosok yang bisa membuat nyaman. Obama berupaya memenuhi kebutuhan itu.
Upaya ini dilakukannya untuk menjawab tantangan senat yang keberatan dengan gaya presiden kulit hitam pertama AS itu dalam mengatasi krisis. Ketika senat menyidangkan upaya Obama, Pak Presiden terjun langsung memompa semangat rakyatnya untuk bersama-sama lepas dari belenggu krisis. Persis slogannya ketika kampanya lalu; yes, we can! Dan tak ada gejolak di Amerika. Rakyat merasa terakomodir.
Di Asia, PM China Wen Jiabao juga memilih cara komunikasi politik ala Obama. Dia sapa rakyatnya yang sedang putus asa. Bedanya, dia tidak bertatap muka langsung, tapi menyapa lewat chatting. Di China pengguna internet itu cukup besar, mencapai 300 juta. Kalau Wen memanfaatkan fasilitas dunia maya itu, sama artinya dia memilih berbaur langsung dengan mayoritas rakyatnya yang sedang pesimistis dihantam krisis.
Dalam chatting dia membangun perbincangan akrab dan melontarkan berbagai pertanyaan, mulai dari yang ringan seperti berapa gaji yang diterima temannya chatting itu, apakah mereka suka minum alkohol, apakah suka chatting dan game online, sampai masalah serius soal harga rumah perkotaan yang terus merangkak naik. Dan, cara itu efektif. Rakyat yang mengeluh merasa mendapat perhatian dari bos mereka. Suasana jadi adem dan China pun tak disapa gejolak.
Obama dan Wen sama-sama ingin membangun rasa percaya diri di tengah-tengah rakyatnya yang sedang kalut. Karena mereka percaya, hanya dengan percaya diri itulah krisis bisa terlewati.
Di tengah kecemasan massif seperti sekarang ini, di mana ekonomi dunia masih gonjang-ganjing dan tak tahu di mana finishnya, memang perlu sikap seorang pemimpin yang bijaksana untuk mendinginkan suasana. Nggak penting siapa presiden dan wakilnya. Nggak penting meributkan Budiono yang dipasangkan sama SBY, di mana kans menang mereka, menurut hasil survei, cukup besar.
Rakyat butuh perhatian pemimpin, rakyat butuh pemompa semangat yang itu bisa didapatkan dari pemimpin mereka. Kalau pemimpin tidak peka, yah, sangat mungkin revolusi Prancis terulang lagi. Sepanjang 1789-1799 lalu Negeri Anggur bergejolak hebat. Secara mendasar pemicunya sama persis dengan apa yang terjadi sekarang. Terjadi krisis ekonomi besar-besaran. Beban pajak negara membengkak. Rakyat tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi mereka jadi korban situasi. Itu semua karena pemerintahan Louis XVI yang absolut dan serba tertutup.
Ada beberapa alasan kenapa rakyat Prancis waktu itu benar-benar marah. Mereka jengah dengan sistem seigneurialisme atau pilih kasih dalam pencukupan fasilitas negara di kalangan kaum petani, buruh, dan-sampai batas tertentu-kaum borjuis. Utang nasional, yang disebabkan dan diperparah sistem pajak yang tak seimbang, makin tak terkendali. Makanan semakin langka. Juga mereka marah terhadap hak-hak istimewa kaum bangsawan dan dominasi dalam kehidupan publik oleh kelas profesional yang ambisius.
Sebenarnya dari semua problematika kompleks itu masalah utamanya adalah kegagalan Louis XVI menangani gejala-gejala ini secara efektif. Ketika itu Louis XVI tak berusaha meredam gejolak di tengah masyarakatnya seperti yang dilakukan Obama atau Wen baru-baru lalu. Louis XVI malah sibuk memanjakan istrinya yang hobi makan duit negara itu, Marie Antoinette alias Madame Defisit, dengan kucuran uang melimpah. Sementara di luar istana rakyatnya kelaparan sampai harus makan apel busuk. Louis benar-benar tak mau peka krisis.
Rakyat yang sudah sangat jenuh dengan situasi seperti itu, sementara raja enak-enakan di atas singgasananya, benar-benar juengkel dan murka. Puncaknya terjadi 14 Juli 1789, ketika massa menyerbu Penjara Bastille, yang jadi lambang absolutisme sekaligus apatisme Louis XVI. Gubernur Marquis Bernard de Launey, anak emas Louis, dibantai. Rakyat benar-benar marah. Antek-antek Louis dihabisi.
Revolusi panjang dan berdarah berlangsung selama 10 tahun. Sempat dibentuk Pemerintahan Teror di bawah Maximiliane Robespiere. Di bawah Robespiere 1.400 kepala terpenggal oleh gullotine. Darah muncrat di mana-mana. Situasi serba gelap.
Dan dampak dari kerusuhan itu, 17 Januari 1793 Louis XVI divonis hukuman mati oleh pemerintahan Republik yang dideklarasikan September 1792. Dia dituduh bersekongkol dengan musuh-musuh Prancis karena ingin mengembalikan kekuasan absolutnya. Pada 21 Januari kepala si raja tak peka krisis ini putus di bawah guillotine. 16 Oktober di tahun yang sama, istri tercintanya yang supermatre, Marie Antoinette menyusul mati dengan cara yang sama.
Di zaman krisis semuanya butuh jaminan. Mereka butuh rasa nyaman kendati kapan semua ini berakhir masih sumir. Rakyat butuh pemimpin yang bisa membangun rasa percaya diri kolektif. Orang sedunia butuh pemimpin bergaya Obama atau Wen Jiabao. Bisa berdialog dengan pemimpin yang "semanak" bikin hati adem ayem. Pergolakan pun jadi pilihan nomor sekian.
Tapi ketika seorang pemimpin tidak (mau) peka di tengah krisis, tak mampu mengelus-elus rakyat dan hobi membuat situasi jadi jengah --yang bisa berujung kerusuhan sosial berdarah-darah--, mungkin tak ada hadiah yang lebih pantas untuk dia selain diseret ke guillotine.
Kita hendak memilih pemimpin baru. Minimal, kendati sosoknya tak lagi baru, dia bakal memimpin di periode baru. Yang jadi pertanyaan, manakah gaya yang akan disadur pemimpin kita nanti? Obama-Wen Jiabao atau Louis XIV? Yah, kita tinggal menunggu saja, apa yang mau "dilanjutkan" atau apa yang mau dikerjakan "lebih cepat". Sekaligus berharap-harap cemas, apakah pemimpin kita nanti itu layak disanjung, atau malah pemimpin yang layak di-"guillotine".
Artikel ini memiliki: 2 Komentar • Menarik +3