Persatuan adalah syarat mutlak tercapainya satu tujuan. Kakek-Nenek kita yang angkat senjata di daerah masing-masing menyadari hal itu. Akibatnya tercetuslah Sumpah Pemuda, yang akhirnya semakin mengkerucut dan bisa mendorong bersatunya pemimpin-pemimpin bangsa ini untuk menciptakan Indonesia merdeka.
Di masa Orde lama, siapa sangka Partai Sosialis Indonesia bisa bergerak bersama Masyumi? Landasan ideologi politik dua partai ini sudah jelas-jelas berbeda. Tetapi, mereka bisa bersatu ketika mereka dihadapkan pada musuh bersama : Negara yang tidak demokratis dan condong ke komunis. Sungguh sulit untuk membayangkan ketika Mohamad Natsir yang islamis bisa bahu membahu dengan Sumitro (kebetulan bapaknya Jend Prabowo) yang sangat sosialis di bawah bendera PRRI untuk mengadakan clash dengan pemerintah resmi di Jakarta.
Siapa sangka... Kelompok Islam dan Sosialis diatas, di kemudian hari bisa menambah amunisi sekutunya ketika aksi '66 dengan bergabungnya kelompok agama lainnya (Parkindo yang Protestan, dan Partai Katolik) ketika menuntut pembubaran PKI yang mereka anggap bertentangan dengan Pancasila. Bahkan, sebagian kelompok Nasionalis akhirnya menggabungkan diri dengan persatuan itu ketika PNI pecah dan diwakili oleh PNI Osa-Usep yang anti PKI (berhadapan dengan PNI A-Su yang masih ingin bermesraan dengan PKI). *Meskipun akhirnya militer-suhartois mendompleng aksi rakyat ini*.
Siapa sangka, kelompok nasionalis bisa menggelintirkan slogan "Mega-Bintang" ketika Pemilu 1997? Meskipun tetap kalah telak dari partai berkuasa Orde Baru waktu itu, koalisi tidak resmi Mega-Bintang ini sudah merupakan tamparan bagi rezim yang berkuasa puluhan tahun itu.
Pun, tidak ada yang menyangka kekuasaan Orde Baru yang begitu digjaya, bisa ditumbangkan setelah sebagian besar rakyat yang dimotori mahasiswa dari berbagai ideologi dan pandangan politik bisa menyatukan suaranya untuk memaksa turunnya Status Quo saat itu...
Apakah kita masih butuh musuh bersama untuk menciptakan persatuan?
(Lihat foto: Musuh Bersama = Persatuan)
Artikel ini memiliki: 33 Komentar • Menarik +6