Seperti yang diberitakan Tempointeraktif.com hari ini, tiga besar caleg yang memperoleh suara terbanyak se-Indonesia adalah putra presiden incumbent, putri mantan presiden, dan putri gubernur.
Centre for Electoral Reform memperkirakan perolehan suara anak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Edhie Baskoro Yudhoyono, tertinggi di Indonesia. Peneliti CETRO, Fahmi Ismail, mengatakan perolehan suara Ibas, panggilan Edhie Baskoro, bahkan paling tinggi dalam sejarah pemilihan umum di Indonesia.
[...]
Sedangkan perolehan suara terbanyak kedua diraih puteri mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, Puan Maharani. Di daerah pemilihan Jawa Tengah V, Puan memperoleh 242.054 suara. Sedangkan posisi ketiga ditempati Karolin Margret Natasa, puteri Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis. Karolin memperolah 222.021 suara.
Apakah ini menandakan masih banyaknya rakyat yang berpikiran bahwa karisma dan kemampuan seorang pemimpin akan menurun ke anaknya (dan dalam hal Soekarno, cucunya)? Bahwa kemakmuran dan kesejahteraan yang dirasakan ketika bapak/eyangnya memerintah dulu akan tetap langgeng ketika anak/cucunya ikut menjabat? Saat membaca berita tersebut, memang hal itulah yang pertama kali terpikirkan oleh saya: betapa feodalnya pola pikir sebagian pemilih kita.
Tapi saya mencoba mencari penjelasan alternatif: Mungkin ini bukan pertanda rakyat kita masih mengaminkan politik dinasti. Mungkin ini 'cuma' berarti bahwa para calon itu punya sumberdaya yang lebih (tapi semoga bukan ditilep dari duit rakyat) untuk berkampanye dan 'bersosialisasi' ke masyarakat, sehingga konsekuensi logisnya mereka dapat suara lebih banyak. Atau mungkin juga mereka ada di urutan satu (ada yang bisa mengkonfirmasi hal ini?), sehingga diuntungkan oleh pemilih yang hanya mencoreng gambar partai.
Ah, entahlah... bagaimana menurut anda?
Artikel ini memiliki: 18 Komentar • Menarik +7