Kalau saya jadi presiden, saya mau larang penggunaan kantong plastik.
Mungkin cara yang paling mudah dengan mengenakan pajak yang agak besar, supaya harganya jadi mahal dan toko berhanti memberikan kantong plastic gratis.
Saya cukup yakin konsumsi kantong plastik per kapita di Indonesia itu diatas rata rata dunia. Angkanya pasti lebih besar lagi kalau dibatasi datanya hanya untuk di komunitas urban dan kota besar yang sampahnya paling banyak.
Saya heran dengan gubernur dan pemerintah yang jelas setiap hari ikut macet dan banjir sama dengan rakyat yang puluhan juta ini. Walaupun mereka pakai pengawal yang sigap membuat macet lebih nyaman, saya yakin pak Fauzi Bowo tahu rasanya terjebak banjir.
Dalam beberapa laporan berita, dikatakan Jakarta bisa tenggelam dalam beberapa decade kalau permukaan air laut naik. Air resapan dan memikirkan ulang tata kota untuk pertumbuhan ke depan itu harusnya jadi prioritas yang strategis sekaligus pragmatis.
Dengan pengamatan sederhana saja, orang bodoh juga tahu kalau sampahnya Jakarta itu kantung plastik. Di Teluk Jakarta, plastik yang mengambang itu kelihatan seperti pulau pulau kecil yang minta dibawa hanyut ke tempat yang lebih baik.
Kalau membersihkannya susah, karena plastik itu tidak organik dan volumenya terlalu besar, sederhana saja solusinya: buat harganya jadi mahal.
Pengusahanya silahkan berpikir ulang dan belajar caranya memproduksi produk yang lebih ramah bagi rakyat. Mungkin kami masih mau beli. Pemerintah daerah bisa dapat pendapatan tambahan dan mungkin bisa buat tambah billboard baru supaya iklannya lebih banyak.
Kalau saya jadi presiden, saya mau buat pajak plastik nasional. Bumi yang hancur itu gak ada harganya. Langit yang hitam pekat sama polusi dan udara yang sesak itu bukan hal yang layak dan alami buat manusia normal. Banjir itu bukan bencana alam tapi tata kota yang buruk.
Saya bisa seperti Al Gore yang senang sama penguin tapi baik sama rakyat karena tidak lagi mau mereka kebanjiran.
Artikel ini memiliki: 7 Komentar • Penting +5