Dua Dunia: Hidup Tanpa Dikotomi Dengan Ulama Muda • penulis: Alex©, 22 April 2009 14:29:47 • 64 KomentarInspiratif +10

Berawal dari dialog begini:

Apa agamamu?

Islam.

Apa ideologimu?

... (Diam. Di lain waktu dijawab dengan cengiran masam)

Kalau begitu kamu beragama setengah-setengah. Kalau beragama Islam, ideologi mesti Islam. Penampilan mesti Islam. Politik mesti Islam. Adat mesti Islam. Ekonomi mesti Islam. Seni mesti Islam. Mesti. Karena semua dalam hidup harus Islam. Harus Islami...

 

Seperti itulah kalimat yang pernah, masih dan (mungkin) akan tetap saya terima dalam hidup sehari-hari. Baik di dunia maya ataupun dunia nyata. Jenis kalimat-kalimat yang akhirnya lebih sering membuat saya memilih pamit, sambil (sesekali) setengah mati memeras otak, mengingat-ingat pelajaran agama di pesantren dan SD-SMP dulu. Mencoba me-refresh memory yang sudah menanjak uzur ini, untuk mengingat cerita tentang pertanyaan-pertanyaan yang konon akan diajukan malaikat di liang lahat.

Hasilnya?

Failed.

404 error: File not found

Saya tak menemukannya. Apa yang pernah diajarkan dulu tentang kuisioner para malaikat di liang lahat cuma semacam ini, "Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa Nabimu? Apa Kitabmu?..." Tak ada pertanyaan malaikat, "Apa ideologimu?", sejauh yang saya ingat.

Apa mungkin guru agama dan Teungku-teungku saya di pesantren dan sekolah dulu sudah pikun? Atau mungkin lebih dungu dari ideolog-ideolog muslim kontemporer?

Mungkin... Mungkin mereka lupa, mungkin juga sengaja menyembunyikan cerita lain, bahwa malaikat itu juga modern dan masih punya pertanyaan-pertanyaan canggih dan bahasa keren seperti, "C'mon, dude! Waz up?! Don't be fool! What's your ideology? D'ya prefer Noam Chomsky or Abu Dzar Al-Ghifari... or what?" atau...  "Got an answer? Gimme some feedback! Gotta check Syariati's books! I'm out! See ya later!"

Mereka, para guru dan Teungku-teungku saya itu, sepanjang yang saya tahu, tak membaca An Islamic Response to Imperialism-nya Nikki K. Kiddie, The Process of Islamic Revolution-nya Sayyid Abul A'la Maududi, atau Social Justice in Islam-nya Sayyid Quthb. Bacaan (dan apa yang diajarkan) guru-guru agama dulu adalah buku-buku keluaran Departemen Agama atau Depdikbud (saat itu) dengan tulisan di pojok kanan atas (bukan iklan PKS!) berbunyi, "Buku ini milik Negara. Tidak Diperjual-belikan."

Sebuah klaim yang membuat saya tanpa merasa bersalah mencuri buku-buku di pustaka sekolah, dan iseng mencantumkan stiker, "Kalo pinjam balikin dong!" saat buku curian itu dipinjam teman. Ambivalensi kanak-kanak yang naif.

Di pesantren juga begitu. Kitab-kitab di sana adalah sumbangan dari Departemen Agama dan hasil swadaya sendiri. Atau warisan turun-temurun dari pendahulu pesantren. Atau barter dengan pesantren lain. Atau sumbangan dari siapa saja yang peduli pada perkembangan agama. Pada umumnya kitab-kitab tua, yang susah didapatkan di Gramedia dan pastinya tak diterbitkan sebagai komik oleh Elex Media Computindo.

Dengan segala kesederhanaan bacaan yang ndak modern, ndak update, mereka - para guru agama dan guru ngaji itu - mengajarkan nilai-nilai religius pada anak-anak di zaman itu, yang mereka harapkan tidak akan terkikis digerus zaman. Apa yang diajarkan begitu remeh-temeh jika dibandingkan betapa kompleks, abstrak dan menyudutkannya perkembangan dunia modern ini, dimana - seperti dialog di atas - seorang muslim bahkan harus memilih berideologi Islam atau tidak sama sekali.

Dan ingatan saya kembali pada seorang teman. Teman lama, yang sekarang sama-sama berdomisili di kabupaten yang sama. Kampung halaman kami sendiri.

Namanya Zamzami. Teman sejak bangku SMP, yang berbeda kelas: dia di kelas III-1 (1 angka sejak kelas I, jadi I-1, II-1) dan saya di kelas III-3. Memiliki rekor sering pingsan kalau upacara bendera, baik hari senin atau 17 Agustus-an. Dulu ceking, kurus, agak hitam kulitnya dibakar matahari, dengan rambut ikal yang dipotong rapi. Pendiam, meski sesekali bergabung dengan teman-teman lain. Tidak pernah punya prestasi mencolok di sekolah, meskipun kelas 1-nya itu didominasi anak "baik-baik dan pintar", tidak seperti kelas berangka 3 yang jadi kelasnya preman-preman-wannabe. Tipikal pelajar biasa. Tidak dipanggil ke Bimpen karena berkelahi (untuk dibimbing dan dididik dengan jeweran atau bahkan tamparan yang sungguh edukatif itu), atau karena dimasukkan daftar tim Cerdas-cermat se-kecamatan.

Sejak tamat SMP, saya tak pernah bertemu dengannya. Sebuah kebalikan berlaku: Dia yang tak pernah mengecap pesantren sebelumnya selain mengaji di pengajian kampung, memilih masuk pesantren. Saya yang sebelumnya menjalani pesantren sejak SD hingga SMP (dalam rentang waktu sejak sore hari hingga subuh tiba), memilih masuk SMA.

Sebuah keseimbangan yang kebetulan? Entah. Pesantren kami pun berbeda. Saya di pesantren Bustanul Huda, di pinggiran kota Blangpidie menuju arah desa Cot Jeurat, sementara ia masuk pesantren Khazanatul Hikam di Kemukiman* Kuta Tinggi.

Saat sudah beberapa semester kuliah, dalam beberapa kali pulang ke kampung  halaman, namanya sudah mulai saya dengar kembali. Paska musibah tahun 2004, namanya makin akrab. Bukan lagi sebagai Zamzami, siswa yang sering tumbang saat upacara itu, tapi sebagai Teungku Zamzami. Ulama muda yang sudah memimpin pondok pesantren sendiri. Sebuah pesantren tradisional di pinggiran kemukiman itu, tak jauh dari lapangan bola dimana anak-anak kampung melampiaskan gairah menghajar si kulit bundar seperti kami dulu.

Reuni pertama terjadi sekitar saat deklarasi satu partai lokal di Banda Aceh. Alih-alih bergabung dalam deklarasi dimana beberapa teman lama terlibat itu, pilihan terbaik cuma ingin pulang ke kampung halaman. Kasus sengketa tanah masyarakat yang dimotori teman-teman sedaerah, jauh lebih menarik dari riak-riak politik di Banda Aceh saat itu. Saat itulah, saya bertemu kembali dengannya, dalam sebuah acara tahlilan kematian di rumah kenalan di desanya sendiri. Saat dimana saya mencocokkan kabar yang saya terima tentangnya, langsung pada orangnya sendiri.

Karena, seseorang menjadi teungku, menjadi ulama, bukanlah hal yang terlalu heboh untuk menarik perhatian. Meski bukan hal yang mudah juga, memang. Teungku, sebagai sapaan akrab untuk sesama laki di Aceh, memang tak sembarangan disematkan pada nama, karena butuh pengakuan masyarakat apakah sebagai gelar adat ataukah sebagai seorang yang dianggap mahfum ilmu agama.

Awal-awal reuni, obrolan hanyalah nostalgia lama dan diskusi tentang agama. Sebuah reuni yang membuat rasa malu tersendiri, setelah sering bicara dengannya, karena hafalan Qur'an sebagai hafizh temporer di sekolah dulu, mesti diluruskan oleh bocah pendiam yang sudah menjadi pemimpin pondok pesantren itu. Atau tertawa mengingat pembangkangan pertama di masa kecil dulu: menggugat guru ngaji masing-masing yang memecut kaki dengan rotan cuma karena ketahuan main sipak ban (sepak bola). Apa pasal karena kepala cucu Nabi disepak bala tentara Yazid di Padang Karbala, lantas kami mesti dipecut rotan pula? Sebuah pertanyaan yang diberi jawaban dengan hukuman: menghafal surah sekian dan sekian.

Tapi ada hal lain yang diam-diam saya amati pada dirinya. Tentang apa yang saya dengar dari kerabat dan teman-teman. Tentang kelantangan suaranya menyikapi masalah-masalah sosial dalam masyarakat. Suara-suara yang masih terdengar hingga kemudian hari. Ia, tak segan bicara tentang aspal goreng yang disulap dengan trik jitu agar tahun depan jalanan yang diaspal itu bisa menjadi proyek yang berulang, dan membuat masyarakat pelintas jalan macam keledai terperosok di lubang yang sama. Ia tak segan bicara tentang dana bantuan tsunami yang dinikmati oleh mereka yang terbirit-birit menyelamatkan diri, di saat seharusnya mereka bertanggung-jawab sebagai aparatur negara. Ia juga tak menahan diri bicara tentang laku-laku para wakil rakyat yang menjelang Pemilu 2004 "Assalamu'alaikum" kiri dan kanan setiap lewat di depan rakyat, tapi saat sudah duduk di parlemen, melintasi jalanan dengan kaca mobil mewah yang ditutup rapat. Belum lagi hujatannya pada dewan yang menaikkan tunjangan rumah untuk diri mereka sendiri, sementara mereka tinggal di rumah-rumah pribadi.

Apa yang menarik adalah kelantangan itu tak tebang pilih. Apakah kerabatnya sendiri atau bukan. Disikat-rata dalam khutbah jum'at, khutbah singkat seusai shalat berjamaah, bahkan dalam pertemuan-pertemuan organisasi Islam di sini. Baik di depan umat, atau secara face-to-face dengan sasaran tembak.

Konsekuensi tentu datang: dimusuhi sekaligus disayang. Dimusuhi oleh mereka yang merasa kepentingannya dianiaya, dan disayang oleh masyarakat yang merasa dibela. Hunjaman kata-kata yang tak berhenti, hingga saya mendengarnya mengatakan "laku zalim" pada mereka yang meruntuhkan rumah seorang perempuan tua, sehingga si perempuan tua pingsan.

Beberapa kali pertemuan, dan melihat gerak-gerik matanya yang tegas, ucapannya yang lugas, saya percaya bahwa zaman telah mengubah seorang bocah pendiam di bangku sekolah menjadi salah satu tokoh ulama muda di daerah ini, yang patut diperhitungkan.

Ia adalah orang yang saya ceritakan dalam postingan saya yang menggugat tentang fatwa. Dia, satu dari beberapa tokoh-tokoh agama - baik tua atau muda - di tanah ini, yang saya hormati. Ada yang pengurus Muhammadiyah, ada yang pengurus Perti. Ada yang masih menjadi anak seorang ulama besar pondok pesantren (dimana saya dulu mondok), namun sudah lebih kritis bahkan terhadap sedikit pola ortodoks yang dimiliki ayahnya yang pengurus Perti. Ada yang cuma menjadi pengurus muda Ikatan Remaja Muhammadiyah, namun menohok kecenderungan elit-elit organisasi tersebut untuk terlalu dekat dengan para pemegang kekuasaan di negeri. Mereka memang tidak menonjol benar di propinsi ini, apalagi skala nasional. Tapi jelas mereka punya arti tersendiri.

Cerita belum usai sampai di situ.

Hasil diskusi dengan teman-teman, yang menggiring kaki untuk pulang dan masuk ke struktur DPW Partai Rakyat Aceh, memberikan surprise lain di tahun lalu. Dalam pertemuan sambil minum kopi dengannya, tahulah saya bahwa ia sudah terjun ke dunia politik pula. Masuk dalam struktur kepengurusan Partai Daulat Aceh. Partai yang didominasi kaum ulama.

Seperti halnya politik lama yang mencoba merintangi peranan ulama dalam kehidupan sosial-politik, ia pun tak luput dari sasaran tembak, sebagai balasan (terutama) dari barisan sakit hati. Dari ceritanya, saya mendengar serangan-serangan yang menghujat, "Ulama macam apa terjun ke politik? Bukannya ngurus pesantren saja!" Sejenis kalimat yang sama yang diterima rekan lainnya, Amin, seorang tokoh muda dari kaum Muhammadiyah yang naik menjadi calon legislatif dari partai Hanura.Teman yang sejak SMP hingga SMA langganan jadi khatib itu, dicerca oleh lawan-lawan politik agar mundur dari pentas. Ya, ia kalah. Terbanting dalam hasil Pemilu yang lalu, jauh terpuruk di bawah partai kami berdua. Tapi, penghormatan tetap ada. Karena tanpa uang dan tanpa membawa serta atribut-atribut Islami sebagai jualan, ia berani maju meski kalah.

Karena, seperti obrolan saya dengan teman-teman dari barisan "agamis" ini, politik hanyalah sarana semata. Bukan ambisi, bukan tujuan pasti. Teungku Zamzami, punya alasan kenapa ia terjun dalam kepengurusan partai kaum ulamanya itu: Sebagai unta tunggangan dalam melintasi jalur-jalur birokrasi yang sering jumud dengan legalitas formal dan hobi memanipulasi informasi.Tentu mesti hati-hati, agar tak pula dijadikan unta tunggangan mereka yang suka mendompleng kaum ulama.

Apakah ia menggunakan dalil-dalil agama? Tentu saja. Namun dalil-dalil itu bukan sekedar kutip untuk sekedar nampak Islamis, militan, atau pembenaran tanpa asbabun nuzul, tanpa sebab-musabab. Tapi apa yang membuat saya suka dengan orang-orang sepertinya adalah keputusan untuk tidak berhenti pada simbolisasi semata. Tidak berjingkrak riang dan merasa sudah Islami, ketika UU No. 44/1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Aceh menjadi euforia kantor-kantor dinas untuk menyematkan aksara Arab-Melayu sebagai tanda sudah bersyariah Islam. Untuk apa tulisan Arab-Melayu di palang-palang kantor dinas, jika laku mereka di dalam dinas masih sebusuk masa lalu? Seperti itu sentilannya dan orang-orang sekaum dengannya dalam menyikapi ragam polah berkenaan dengan Syariah Islam di negeri ini. Syariat Islam tanpa melibatkan peranan masyarakat adat cuma menjadi syariat penutup laku bejat para elit negeri ini. Islamisasi yang tebang-pilih, dimana jelata dicambuk sebagai tontonan masyarakat dan mereka yang pintar bermain hukum bisa menggunakan pengadilan negeri untuk melompat cari selamat. Hasil polling Syariat Islam oleh Yayasan Keumala Lhokseumawe dan review singkat di Indonesianmuslim.com merepresentasikan penerapan yang tidak kaffah ini. Simpang-siurnya pemahaman dan kental nuansa politisnya Syariat Islam ini, membuat seorang mahasiswa Pascasarjana dari Sudan menggagas fiqih Aceh sebagai satu solusi.

Lalu bagaimana dengan ideologi?

Saya pernah bertanya ini padanya. Apakah menurutnya Islam itu ideologi atau bukan?

Ia tak menjawab. Selain tawa kecil saja. Tak pula membuka-buka kitab fiqih siyasah atau bahkan kitab kuning untuk menjawab ini. Ia cuma menjawab singkat, "Islam itu agama". Jawaban itu dan itu saja, meski saya mendesaknya. Sampai sekali waktu ia menjawab lebih panjang, "Islam itu agama. Mazhab, tarekat, ideologi, bisa jadi lebih agama daripada agama. Bahkan simbol agama terkadang jadi lebih penting daripada Tuhan..."

Selesai. Dan saya puas dengan jawabannya itu. Jawaban ulama muda dari pesantren tradisional yang sama persis dengan jawaban dari beberapa tokoh agama lainnya di kampung halaman sendiri. Padahal, sebagai orang Perti yang kadung lebih "puritan" dibanding Muhammadiyah, ia termasuk fanatik dalam hal agama. Menolak untuk permanen mengadaptasi gaya hidup yang lebih modern, seperti mengganti kain sarung dengan celana kain dan baju putih biasa dengan baju koko seperti layaknya aktifis muslim di kota-kota. Dia tak kenal internet, ketika saya bercerita bahwa saya menulis tentang aksi dan gagasannya beberapa kali di blog dan situs-situs yang pernah saya miliki. Dia cuma punya ponsel merek China yang memudahkannya untuk dihubungi. Lebih sering berjalan kaki daripada naik sepeda motor. Pesantren pun cuma dibiayai secara swadaya dari hasil ladang dan iuran lampu para santri.

Tapi ia tak menolak untuk beradaptasi dengan saya atau dengan teman-teman dari garis yang lebih moderat. Dia tertawa ketika saya bergurau, "Hati-hati. Orang macam aku ini sudah pernah dicap kiri, sosialis, antek-antek kapitalis, mungkin juga binaan misionaris..."

Hidup memang tidak hitam dan putih. Ada ragam warna. Ada ragam gaya. Antara dua partai yang berbeda, kami punya cara tersendiri menjembataninya sebagai individu-individu merdeka. Dia me-refresh ingatan saya tentang kitab Masaailal Mubtadin-lihwanil Mubtadin, kitab Bidayah dan Asbabu Nuzulil Qur'an. Sementara saya bercerita padanya tentang Tahafut al-Falasifah-nya Ghazali yang di-counter dengan Tahafut al-Tahafut-nya Ibnu Rusyd. Dia berbicara tentang luka sejarah Islam di Aceh yang dibersihkan kaum Nuruddin Ar-Raniry dan Islamisasi yang berkutat pada simbolisasi, membuat "lembek" sehingga militansi khas dari akar Syi'ah yang pernah ada tergerus zaman. Dan saya bercerita tentang Eslamshenasi-nya Ali Syariati, tentang bagaimana sebaiknya seorang penganut Islam bersikap dalam peradaban kontemporer, sebagai gagasan yang dipadukannya dari mistisme Maurice Maeterlinck, nihilistisnya Sadeeq Hedayat dan Masnawi-nya Maulawi.

Pertukaran ide yang timbal-balik dari ironisnya posisi masing-masing. Individu-individu dari partai yang diisukan Kiri dan partai yang digosipkan Kanan (membuat mereka kerepotan pada isu tentang nasionalistisnya PDA sebagai buah dari pidato Letjen (Purn.) Kiki Syahnakri). Dikotomi-dikotomi menjemukan dalam hidup, yang memaksa individu untuk memilih apakah jadi Amrozi dan Farrakhan ataukah tidak sama sekali.

Tapi apa perlu ambil peduli? Pengkotak-kotakkan posisi dalam hidup, cuma akan menghadirkan sekat-sekat tak penting dalam hidup bermasyarakat dan bersahabat.

Dia mungkin masih akan tetap melintasi lapangan sepak bola untuk pulang ke pesantrennya, selepas belanja di pasar, dan berhenti sejenak memandangi anak-anak bermain bola. Dan jika saya ada di sana, duduk di tunggul kayu dan batu, sambil bercakap tentang tanah ini. Dan berkelakar, "Rotan mana yang enak buat memecut kaki kanak-kanak ini?" dengan mimpi lucu bahwa satu hari nanti, jiwa-jiwa kritis yang berani bertanya karena rasa tak puas dipecut kakinya akan terus muncul. Apakah dengan mengepalkan tangan kiri di jalanan ataukah mengacungkan jemari tangan kanan dari mimbar acara keagamaan.

Ini, adalah Islam yang kami pahami, yang saya lamunkan pada artikel tentang puisi Mustofa Bisri dan Mohammad Sobary, dalam kehidupan berbudaya, bersosial-politik di negeri ini. Dalam kehidupan sehari-hari, tanpa dibelah ragam dikotomi yang basi...

Kenapa artikel yang pantas diberi rating "Bosenin", "Gak Penting" dan "Promisi Diri" ini muncul begini?

Sebagai jawaban bagi tipikal yang doyan sekali bertanya Islam atau tidak. Bahkan untuk sebuah kriteria keadilan seperti artikel KKR Aceh pun, pertanyaan ini masih juga keluar, "Keadilan menurut Islam atau bukan?"

Pertanyaan menjemukan ...

Nah, mudah-mudahan bagi anta-anta bertipe demikian, bisa puas dengan ini. Jika tidak, well... hidup adalah pilihan seperti yang saya dan teman-teman saya pilih dengan kesadaran sendiri. Tak ada paksaan. Tak ada kemestian.

 

Catatan Kaki:

* Kemukiman, adalah sistem pembagian wilayah dalam adat Aceh. Satu kemukiman terdiri dari beberapa desa. Mesjid untuk shalat Jum'at didirikan di dalam satu kemukiman karena asumsi jumlah jamaah Jum'at sudah mencapai 40 orang. Sementara untuk desa-desa cuma ada meunasah (sejenis surau) untuk melakukan ibadah dan urusan musyawarah gampong.


Artikel ini memiliki: 64 KomentarInspiratif +10

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »