Manuver Amien Rais merapat ke SBY sebagai kudeta • penulis: opiniherry, 21 April 2009 20:00:16 • 21 KomentarMenarik +3

Di tengah hangatnya isu seputar koalisi menjelang pilpres mendatang, Amien Rais muncul dengan manuver politiknya menggiring para petinggi PAN se Indonesia untuk merapat ke kubu SBY serta mengajukan Soetrisno Bachir dan Hatta Rajasa sebagai calon cawapres.

Hal ini dilakukan Amien Rais lewat pertemuannya dengan para petinggi partai di kediamannya di Jogja dan juga dalam pertemuan dengan para tokoh pendiri dan wakil generasi pertama DPP PAN di kediaman pribadi Amien di Perumahan Taman Gandaria C1, Jakarta Selatan. Kontan saja hal ini memunculkan pro dan kontra baik di dalam maupun di luar tubuh PAN.

Pengamat Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Fadhil Hassan bahkan menilai Amien Rais telah mengkhianati massa PAN. Pasalnya, salah satu alasan konstituen memililh PAN dalam pemilu lalu adalah karena Amien Rais dan PAN selama ini dikenal aktif mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintahan SBY-JK.

Manuver Amien Rais ini juga dilihat sebagai bagian dari strategi Partai Demokrat dan SBY untuk memperkuat dukungan dengan menggandeng PAN masuk ke dalam koalisi. Masalahnya DPP PAN sendiri belum memutuskan secara resmi nama capres yang akan disokong oleh partai yang berbasis massa warga Muhammadiyah ini.

Dalam pertemuan tertutupnya dengan ketua dewan pembina partai Gerindra, Prabowo, Soetrisno Bachir bahkan menyebutkan, PAN masih mempertimbangkan nama yang pantas untuk diusung sebagai capres. Satu di antaranya adalah dirinya sendiri.

"Kita sekarang melihat SBY tampaknya menggunakan Hatta Rajasa yang memang punya kedekatan khusus untuk memecah belah Partai Amanat Nasional," ujar Direktur Eksekutif Pendidikan Pemberdayaan Anak Bangsa Santoso Arif Prihandoyo di Jakarta, Senin (20/4).

Penilaian itu bahkan tidak bisa dipertajam dengan mengatakan bahwa Amien Rais dan Hatta Rajasa telah mengkudeta Soetrisno Bachir. Karena terlihat manuver pragmatis Amien Rais ini tidak sebangun dengan gerakan Soetrisno Bachir yang masih menjaga posisi. Apalagi dalam pertemuan yang tidak dihadiri ketua umum dan sekjen PAN itu juga dihasilkan keputusan untuk mengajukan Hatta Rajasa sebagai salah satu cawapres. Sulit untuk mengatakan tidak adanya benturan kepentingan di sana.

Sementara Sekretaris Jenderal PAN Zulkifli Hasan yang bersama Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir tidak hadir di Yogyakarta, menyatakan pertemuan Yogyakarta hanyalah bersifat informal. "Semua keputusan di PAN ada mekanismenya," ucap Zulkifli Hasan

Amien Rais sendiri mengakui dalam pertemuan di kediamannya itu dirinya mengarahkan agar pengurus wilayah mendukung Partai Demokrat. "Saya kemarin itu meng-endorse PAN yang hanya enam koma sekian persen itu jadi mitra junior, bukan mitra senior Partai Demokrat," ujarnya.

Menanggapi pendapat bahwa manuvernya itu di luar kendali partai dan tidak sesuai aturan, Amien Rais menolak anggapan tersebut dan mengatakan , "MPP boleh (melakukan pertemuan dan mengundang pengurus PAN) kapan saja. Menurut anggaran dasar, Ketua MPP boleh mengundang pengurus eksekutif partai mulai dari DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) sampai DPP kapan saja untuk keperluan apa saja," kata Amien Rais disela-sela acara silaturahmi Islam untuk Kebangkitan Indonesia, di Jakarta, Senin (20/4/2009).

Mungkin apa yang dilakukan Amien cs memang tidak melanggar aturan partai. Kita juga mahfum jika aspek legal formal sering dijadikan tameng pembenaran untuk tindakan yang sesungguhnya mencederai etika dan nurani.

Dengan melakukan manuver semacam ini, bagi saya seorang Amien Rais sedang bahwa menegaskan dirinya memang tidak pantas disebut negarawan dan hanya pantas menyandang predikat poliTikus sejati.

Menarik juga membaca berbagai komentar tentang tokoh yang satu ini di beberapa situs. Ada yang menyebut Amien Rais sebagai ular, licik, ambisius, cuma pintar kritik, tidak konsisten malah ada yang nekad menduga Amien telah “dibeli”.

Mungkin pak Amin ini lupa kalau beliau pernah mengatkan; "Beri jalan Capres baru...!" Atau beliau juga mungkin lupa pernah lantang meneriakkan bahwa istana adalah sarang korupsi.

Tentu juga banyak suara yang masih mendukung manuver ini dengan mengedepankan strategi politik praktis sebagai alasan utama. Ada juga yang mengatakan bahwa hal ini lebih baik daripada merapat ke kubu Megawati.

Apapun komentar masyarakat, bagi saya sosok Amien Rais memang seorang poliTikus yang sulit dipercaya. Belum hilang dari ingatan saya ketika dia berteriak di masa reformasi dulu, “Kita babat korupsi sampai ke akar-akarnya.”

Dan ternyata…omdo…!

(Lihat foto: Manuver Amien Rais merapat ke SBY sebagai kudeta)


Artikel ini memiliki: 21 KomentarMenarik +3

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »