Kebesaran Golkar sebagai sebuah partai sepertinya telah tenggelam. Sang pohon beringin sepertinya harus menghadapi nujum yang kelam : menuju kematian secara mengenaskan alias mati pelan-pelan. Kenapa?
Tunggu dulu. Sejarah belum selesai menjawab. Golkar memang sepertinya didirikan sebagai sebuah partai yang tak terbiasa berada di pinggir kekuasaan. Ia harus berkuasa atau minimal berkongsi dengan penguasa. Akibatnya Golkar tak pernah dan tak akan pernah mau menjadi oposisi. Alasannya sederhana : Golkar (mungkin) takut tak kebagian kue di lingkaran kekuasaan. Ia tak mau hanya menjadi penonton tapi harus jadi pemain.
Dengan asumsi seperti ini, maka bisa dipahami sikap plin plan Golkar sekarang. Pertama Golkar mendorong Jusuf Kalla maju sebagai presiden. Eh belakangan setelah perolehan suaranya anjlok, mereka putar haluan dan mau saja menjadi cawapres. bahkan sekarang Golkar sedang melakukan audisi terhadap beberapa kadernya yang kelak akan menjadi pendamping SBY.
Mengagumkan. SBY di silakan memilih milih pasangannya sendiri dari Golkar. Golkar sebagai sebuah partain besar tapi sangat terkesan murahan, tak konsisten, berpikir dengan orientasi jangka pendek : demi kekuasaan. Alasannya pun terdengar lucu : "kita harus realistis membaca kondisi politik sekarang"
Kenapa Golkar takut maju jadi Capres sendiri? Padahal dia adalah partai besar? Maju saja.. urusan menang kalah belakangan. Yang penting berani bertarung. Kalau kalah tetap kalah terhormat....
Kasian benar partai Golkar. Partai yang dulu sangat gagah. Sekarang tinggal jadi cemoohan dan sinisme orang-orang yang loyal secara keras kepadanya. Bagaimana kelak jika SBY ternyata tak mengambil orang Golkar sebagai wakilnya? wah bisa berabe.. Capres batal, cawapres melayang
Gimana ini Pak JK, Akbar tanjung, Surya Paloh?
Saya salut sama Megawati yang tetap konsisten maju sebagai Capres, meski nanti akan kalah tapi rakyat sudah dapat mengukur konsistensi PDI-P dalam dunia politik kita.
Bukan seperti Golkar
Artikel ini memiliki: 6 Komentar • Menarik +1