Bisakah kita bertanya pada mereka? Sekedar mencari ilmu? Sudah selayaknya hal ini tidak ada yang melarang, sayangnya di negeri ini masih berlaku stigma bahwa sosialisme sama dengan komunis dan komunisme sama dan sebangun dengan atheis (the keji part). Tapi ini politikana, jadi selamat tinggal dulu itu stigma.
Seperti sudah kawan semua tahu, Morales, seorang lulusan SMA asli indian-bolivia berhasil memegang tampuk kepemimpinan di negerinya, Bolivia. Melalui partainya MAS, bergerak dari bawah menghimpun kekuatan untuk akhirnya menggulingkan dominasi kulit putih keturunan Spanyol di negeri yang mayoritas kulit merah itu. Penggulingan dengan jalur demokratis ini (tanpa kekerasan) ditempuh karena dirasa hisapan kapitalisme kulit putih atas kekayaan alam di sana sudah sedemikian parah. Dan begitu Morales naik ke tampuk kepemimpinan, terjadilah sebuah mekanisme yang lebih pro rakyat Bolivia. Dari sisi ekonomi, pengaturan ulang soal kontrak dengan perusahaan tambang asing, berhasil memasukkan nilai yang sangat signifikan bagi kas negara. Dan hal itu dikembalikan ke rakyatnya. Anda pasti sudah tahu hal ini, tapi sekiranya sebagai prolog ini perlu saya ungkapkan lagi.
Morales Mogok Makan
Inilah berita terakhir yang dirilis oleh media internasional dan diliput pula oleh media kita. Morales sang presiden memilih melakukan aksi ini demi melihat pembahasan undang-undang pemilu di sana yang tak kunjung selesai karena pihak oposisi tidak mau berunding satu meja.
Undang-undang ini tidak disetujui oleh para oposan kulit putih karena tidak menyuarakan kepentingan kapitalisme. Tuntutan adanya 8 kursi khusus di parlemen bagi warga Indian asli Bolivia sepertinya dirasakan sebagai ganjalan oleh kelompok ini.
Kemarin, aksi mogok makan yang telah berlangsung lima hari ini sudah berhenti. Undang-undang akhirnya selesai dibahas. Morales kembali memperoleh kemenangan. Rakyat Bolivia dengan demikian juga mendapatkan kemenangannya.
Pertanyaan yang tersisa
Apakah memang harus demikian? Dalam demokrasi-pun harus ditempuh langkah-langkah yang bersifat agak memaksa? Mungkin memang demikian, lantas hal-hal yang seperti apa yang membolehkan kita melakukannya?
Morales jelas melakukan aksi mogok makan bukan semata-mata karena kursi kekuasaan. Sebagai presiden, yang semestinya juga penguasa tertinggi militer, dan dengan mengantongi dukungan mayoritas masyarakat Bolivia, semestinya dia bisa melakukan tindakan yang lebih "represif" jika memang ingin.
Maka pertanyaan yang tersisa ini mungkin tidak lagi relevan. Yang perlu kita renungkan kemudian adalah betapa besarnya jiwa seorang pemimpin seperti dirinya. Bersedia bersusah-susah walaupun dia sudah berada di kursi empuk kepresidenan.
Adakah pemimpin lain yang seperti ini? Atau Anda tidak setuju dengan uraian saya ini? Silakan berkomentar.
nb: mogok makan bukanlah hal baru bagi Morales. Di tahun 1998, sebelas tahun lalu, dia pernah melakukan hal yang sama. Mogok makan 18 hari untuk memprotes kebijakan pemerintah tentang bahan mentah kokain yang digunakan oleh suku Indian Bolivia sebagai obat dan bahan makanan. *itu caleg jabar kemarin mau melakukan hal yang sama gak ya? hehe*
(Lihat foto: Morales, Amerika Latin dan Pencarian Demokrasi)
Artikel ini memiliki: 25 Komentar • Menarik +10