Boleh dikatakan tak ada orang Aceh yang kaget dengan mendominasinya Partai Aceh dalam Pemilu 2009 di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Prediksi kemenangan mereka sudah diperkirakan jauh-jauh hari, meski sempat dengan berbagai "ramalan cuaca" yang boleh jadi akan mengubah prediksi tersebut. Namun itu tak memiliki peran berarti untuk mengubah ramalan seperti yang salah satunya tertera di artikel Kompas. Dengan konvoi besar-besaran yang sempat menuai protes dari Panwaslu pun, massa yang masih "mengambang" dalam memberikan pilihan pun jadi memiliki pilihan pasti menjelang hari Pemilu. Efek dari massa yang melimpah-ruah menjadi kejutan tersendiri untuk membuat ketar-ketir partai-partai yang bertarung di Aceh, baik nasional maupun lokal, seperti yang saya tuliskan di artikel ini.
Dan kepastian Partai Aceh mendominasi perolehan suara dalam Pemilu, yang kali ini mengizinkan kehadiran partai lokal di Aceh, sudah menjadi kenyataan. Partai-partai nasional pada umumnya dilibas habis oleh Partai Aceh. Hampir di setiap kabupaten dan kota, partai bentukan eks-GAM ini merajai perolehan suara dengan menempatkan mereka di posisi pertama sebagai kampiun pesta demokrasi.
Serambi Indonesia, dalam berita hari ini, memuat judul "PA Tetap Paling Di Atas" sebagai berita yang cukup akurat untuk menunjukkan "ganasnya" dominasi partai tersebut melebihi Raja Singa yang pernah mendominasi sensus kematian.
Kemenangan Partai Aceh ini, seperti mengingatkan kembali "warning" yang pernah diberikan oleh masyarakat pada sesiapa saja yang mengintimidasi partai-partai lokal yang (dalam bahasa Sidney Jones) dianggap "partai pemberontak", yaitu Partai Aceh, Partai SIRA dan Partai Rakyat Aceh. Intimidasi dalam bentuk teror, perusakan baliho, penggranatan, penembakan, pembunuhan, hingga ancaman berbalut kata "separatis" dan "musuh negara", malah menjadikan simpati masyarakat berlipat-lipat kepada yang dianggap "terzalimi".
Dan inilah yang dituai oleh Partai Aceh: simpati yang berakumulasi pada tingginya perolehan suara mereka, dengan sejumlah kritikan terhadap minimnya caleg PA yang dicontreng dibanding lambang partai itu sendiri. Massa yang mudah jatuh simpati boleh jadi tak ambil pusing dengan siapa caleg yang dipilih, karena euforia masa lalu tentang "kemerdekaan" untuk dipimpin oleh orang Aceh yang sudah pernah menjadi kombatan dan simpati menutupi figur-figur caleg yang diusung.
Apakah caleg PA jelek? Tidak intelek?
Saya berani berkata tidak. Tidak semutlak prasangka miring demikian, meski saya sendiri berada di partai yang menjadi segitiga "partai pemberontak" di propinsi ini, selain Partai SIRA. Setidaknya, beberapa figur utama yang diangkat di kabupaten saya sendiri, bukanlah figur yang melejit cuma dengan menjual-jual catatan sebagai "gerilyawan bersenjata", meski tidak tertutup kemungkinan demikian di daerah-daerah lain, dan juga di partai-partai lain. Setidaknya, beberapa figur di kabupaten ini sebenarnya adalah figur yang bagus, meski tertutup oleh lambang yang dominan jadi contrengan masyarakat.
Namun ada catatan menggelitik lainnya dari kemenangan Partai Aceh ini: kemenangan Partai Demokrat.
Taufik Mubaraq, salah seorang pekerja di Harian Aceh, menuliskan pandangannya tentang "keanehan" ini di salah satu postingan blognya. Bahwa Partai Aceh menang, tidak ada yang heran di sini. Tapi bahwa Partai Demokrat jadi "ketiban rezeki", itu menarik.
Karena, opini yang beredar di masyarakat Aceh, sebut saja di Aceh Barat Daya, salah satu cara menjaga perdamaian Aceh ialah dengan tetap memenangkan Partai Demokrat, yang pada akhirnya meletakkan SBY sebagai Presiden kembali. Maka adalah hal yang wajar jika mendengar kepastian kabar bahwa Sofyan Dawood, mantan Panglima GAM Wilayah Pase, menjadi koordinator Tim Sukses SBY. Tentu saja berita ini diikuti dengan berita "miring" lainnya, dengan adanya seruan dan tekanan agar memenangkan Partai Aceh dan Partai Demokrat di seluruh Aceh. Saya sendiri melihat bahwa opini seperti ini menjadi isu yang dikembangkan/berkembang dari Partai Aceh, benar adanya. Namun bukan suatu hal yang salah. Perkara intimidasi, sampai hari ini belum ada bukti-bukti yang cukup untuk membenarkan tuduhan tersebut. Adalah hal yang wajar jika masyarakat percaya bahwa Partai Demokrat dengan SBY-nya akan mampu menjaga perdamaian di Aceh.
Sementara banyak caleg dari partai-partai lain terancam stress di kabupaten ini karena kemenangan Partai Aceh, bagi saya dan teman-teman, Partai Aceh - lepas dari plus dan minusnya dalam masa Pemilu - bersama partai-partai lokal yang bertahan dalam 5 besar dan 10 besar dalam perolehan suara yang bersaing ketat, sudah menyajikan pembuktian dari sebuah pameo, "Makin ditekan, makin melawan".
Partai Rakyat Aceh, dimana saya berada, cukup puas dengan mendapatkan urutan ke 5 di kabupaten ini :D
*jatah kursi cadangan* :))
Sementara untuk caleg-caleg yang tak menang dan sakit hati sampai meminta uang atau kain sarung dikembalikan, membatalkan kerelaan mewakafkan tanah untuk jalan gampong; mudah-mudahan setelah parlemen yang didominasi Partai Aceh ini jadi disahkan, akan ada rumah sakit jiwa untuk merehabilitasi mereka...
(Lihat foto: Partai Aceh dan Partai Demokrat Mendominasi Aceh)
Artikel ini memiliki: 16 Komentar • Menarik +6