Quo Vadis Aceh setelah Pemilu 2009 • penulis: arsyani, 12 April 2009 11:31:12 • 3 KomentarMenarik +2

Aceh dan seluruh daerah di nusantara ini telah menyelenggarakan hajatan lima tahunan untuk memilih wakil rakyatnya untuk duduk sebagai anggota legislatif. Perbedaan kali ini tentu saja tersedianya enam partai lokal mendampingi 38 partai nasional lainnya sebagai kendaraan politik untuk menjadi anggota legislatif. Tersedianya partai politik lokal dimanfaatkan sekali oleh para kader dan simpatisan partai untuk berkonsentrasi membawa Aceh ke arah yang lebih maju dan bermartabat. Terlepas dari isu `tidak bertanggung jawab` yang mengatakan bila partai lokal menguasai parlemen, Aceh akan `merdeka`, keberadaan partai lokal yang dapat dengan langsung melihat dan merasakan kondisi rumah sendiri, sepertinya akan lebih efektif dan efesien menata keberadaan Aceh yang `sudah` tertinggal dengan daerah lain di bingkai NKRI.

Hari kamis lalu, malam hari setelah proses penyontrengan selesai, pukul 9 malam, kami duduk di sebuah warung kopi di daearah Ulee Kareng, Banda Aceh. Orang menyebutnya warung kopi Solong. Di sana kami hanya duduk dan berkelalakar mengenai proses penyontrengan yang kami ikuti sejak pagi. Nikmatnya duduk di Solong adalah, semua elemen masyarakat ada di sini. Jadi informasi terupdate bukan tak mungkin akan kita peroleh di sini. Termasuk hasil `perkiraan cepat` siapa ( baca partai) yang akan menguasai parlemen nanti. Sembari mengeluarkan joke dan kelakar mengenai fenomena pencontrengan di TPS yang kami ikut di dalamnya, juga hal yang serius seperti siapa yang telah `menang` dan bagaimana nasib partai lokal saat pemilu ini. Kebetulan saat kami lagi duduk, datang seorang tokoh yang pergerakan yang berpengaruh dari sebuah partai lokal, yaitu Partai Aceh, partai sempalan dari Gerakan Aceh Merdeka. Dari rekan ini, diketahui informasi terkini hasil pemlihan sementara di kabupaten lain. Seperti yang sudah diprediksi, Partai Aceh, menguasai Kabupaten pesisir yang ada di Aceh. Bahkan, diklaim di Bireuen, berjarak 200 km arah timur Banda Aceh, Partai Aceh telah mendapatkan suara 98 persen. Hasil ini juga diperkuat dengan pesan singkat di telepon selular seorang teman, bahwa teman di Bireuen mengatakan, kota Bireuen merah seperti MU mengarak trophi liga champion. Bisa dibayangkan, bagaimana kesenangan simpatisan yang tahu partai yang didukungnya meraih kemenangan mutlak.

Inilah hasil dari orkes sakit hati (istilah ini juga datang dari tokoh Partai Aceh di atas), mereka mempercayai partai lokal, terutama Partai Aceh menjadi corong suara kesejahteraan mereka. Diluar isu yang di dalamnya ada intimidasi di sana-sini. Namun begitulah realita yang ada. Walau partai lokal tidak akan bisa membawa aspirasi ini langsung ke pusat tanpa sebuah kendaraan yang bernama koalisi dengan partai nasional. Kebetulan juga partai nasional yang `menang` adalah partai nomor 31. Sepertinya mereka akan berkoalisi unntik membawa semua kepentingan ke pusat. Apapun ceritanya, siapapun menang, siapapun berkoalisi, hanya ada harapan, Aceh lebih baik dengan cara aman dan nyaman. Tak ada lagi perang akibat politik bodoh dan konflik yang hanya membuat kita tak bisa kemana. Harapan sederhana, namun sangat penting bagi jalan Aceh di masa datang, semoga.


Artikel ini memiliki: 3 KomentarMenarik +2

Tulisan terkait:

Baca tulisan « sebelumnya  berikutnya »