Wartawan Inggris, Richard Lloyd Parry, pernah menulis reportase tentang kunjungan-kunjungannya ke Indonesia. Tulisan yang lahir setelah perjalanannya di sebuah negeri di masa bangsa negeri itu tengah meluncur ke titik terendahnya. Kumpulan kesaksiannya melihat bangsa ini perlahan ambruk dan menuju kehancuran yang ditandai dengan serangkaian kekacauan dan kejahatan manusia di berbagai daerah di Indonesia. Peristiwa yang dilihatnya dari lensa jurnalisme sebagai pergulatan besar Indonesia antara represi dan reformasi.
Apa yang ditulis Parry dalam bentuk kesaksiannya berupa prosa sensitif tersebut dapat menambah warna dalam bibliografi Indonesia kontemporer yang masih saja sebagian besar bersifat akademis pekat, yang kaku, yang rawan ditulis subjektif oleh para pemenang sejarah dan pihak kuat yang memiliki kepentingan.
"Matinya seorang penyaksi bukan matinya kesaksian..."
Begitu penggalan lirik yang dinyanyikan Iwan Fals sepuluh tahun yang lalu, dalam Lagu Buat Penyaksi. Dan jika berbicara tentang kesaksian dan ‘matinya’ seorang penyaksi, saya teringat akan sebuah peristiwa pada masa kecil saya yang masih masih agak membekas hingga sekarang.
Palangkaraya, pertengahan tahun 1999. Saya masih ingat kejadian hari itu walau agak lupa kapan tanggal persisnya. Saat itu percikan bara api kerusuhan berdarah antar etnis di Kalimantan Tengah mulai menyala lagi. Ayah saya bergegas berangkat ke Pengadilan Negeri. Ketika saya bertanya apakah saya boleh ikut, dengan tegas ayah menolaknya. Saya masih terlalu kecil saat itu, kurang lebih berusia sembilan tahun. Ketika ayah pulang, betapa terkejutnya saya melihat mukanya merah padam. Tanpa basa-basi ayah langsung masuk dan membanting pintu depan, lantas masuk ke ruang baca dan melempar beberapa buku tebal ke lantai. Lantas apa yang ayah teriakkan ketika ibu datang untuk menenangkannya?
"Apa hakim, jaksa, dan polisi-polisi itu sudah buta, tuli hah? Atau mulut mereka bisu karena disumpal berbagai kepentingan? Ada orang yang sudi bersaksi malah dihukum dan pelaku kabur entah ke mana!"
Ayah memang seorang bertemperamen tinggi, tapi jarang saya melihat beliau begitu murka seperti hari itu. Bertahun-tahun kemudian barulah saya mendengar cerita dari ibu bahwa kemarahan ayah saat itu adalah karena salah seorang kenalannya, yang menjadi saksi dalam kasus pertikaian dan pembunuhan di luar dugaan menjadi dituduh membuat kesaksian palsu dan akhirnya dihukum penjara. Pertikaian antar etnis itu dipicu masalah sengketa tanah, dan ujung-ujungnya adalah seorang penduduk asli dikroyok oleh warga pendatang hingga tewas. Para pelaku melarikan diri, dan seorang saksi dalam peristiwa itu mendadak dituduh memberikan kesaksian palsu. Hari itu ternyata adalah hari yang naas bagi seorang penyaksi.
Akan ada banyak yang meringis sedih bercampur marah jika menghadapi peristiwa-peristiwa terbungkamnya kesaksian seperti itu. Tragedi penyaksi berani yang mati karena kuatnya kepentingan beberapa pihak. Bisa jadi hal itu seakan-akan ketika umat merasakan sakit akan pengkhianatan Yudas terhadap Kristus, yang akhirnya menggiring Kristus ke tiang salib.
Kesaksian, juga seakan berada dalam jalur yang sama dengan kambing hitam. Artinya ada pihak-pihak yang dikorbankan dalam sebuah kesaksian, entah sejati atau palsu. Masih ingat penggalan lirik lagu Iwan Fals di awal-awal tulisan? Ya, lagu dalam album Kantata Samsara itu bercerita dan dipersembahkan kepada Udin–atau Fuad Muhammad Syafruddin–yaitu seorang wartawan harian Bernas yang pada tahun 1996 dianiaya orang tak dikenal, lalu akhirnya meningal dunia. Udin kerap kali menulis artikel kritis terhadap kebijakan pemerintah Orde Baru semasa itu dan juga tulisan tajam tentang militer Indonesia. Beberapa orang sempat ditekan untuk memberikan kesaksian dan pengakuan palsu dalam kasus itu, menjadi kambing hitam. Sebut saja Tri Sumaryani, yang ditekan dan disuap untuk memberikan kesaksian palsu tentang dirinya yang berselingkuh dengan Udin, yang kemudian dibunuh oleh suaminya. Atau juga Dwi Sumaji, yang dikorbankan untuk membuat pengakuan bahwa ia adalah pembunuh Udin, dengan iming-iming uang dan pekerjaan. Namun selanjutnya dengan lantang Sumaji bersaksi di pengadilan bahwa dirinya hanyalah kambing hitam yang diciptakan oleh beberapa oknum.
"Saya telah dikorbankan untuk bisnis politik dan melindungi mafia politik!"
Sungguh kesaksian, terutama di negeri ini, punya banyak warna yang berbeda satu sama lain. Meskipun begitu, sebagian cenderung memiliki rupa yang sama: kesaksian sejati yang tak berani muncul ke permukaan, jika muncul hanya berujung pembungkaman; atau kesaksian palsu yang dilahirkan dari berbagai macam kepentingan.
Sejarah memang masih ditulis oleh para pemenang. Walau kini muncul riak-riak dari dunia maya, ketika blogging menjadi salah satu media--walau sebagian besarnya anonim--pencatatan sejarah. Politikana ini pun bisa menjadi arsip kesaksian kita untuk generasi yang akan datang. Seperti bung ndaru yang menyarankan kepada Tgk. Alex--seorang aktivis muda Partai Rakyat Aceh--dalam salah satu komentarnya: "eh kau sisakanlah waktumu menulis catatan harian PRA dan situasi sosial-politik-ekonomi di Aceh, apa yang terjadi disana sekarang itu bagian sejarah nyet!"
Kembali ke sejarah para pemenang. Kita hanya bisa berharap bahwa para pemenang itu adalah mereka yang masih mempunyai sisi objektivitas yang berimbang atau bahkan melebihi sisi subjektivitas yang tersimpan rapi dalam pencitraan dirinya. Toh para pemenang tak mungkin sepenuhnya menempatkan diri pada posisi tengah, dan meneliti saja–karena tugasnya adalah meriwayatkan kesaksian masa lalu dan juga mengukir sejarah baru.
Kesaksian para pemenang adalah kebenaran yang mau tak mau harus diterima mereka yang kalah, namun hanya hingga saat di mana pemenang itu tumbang nantinya. Dan adakah usaha para pemenang saat ini untuk bersikap adil terhadap kesaksian yang takut untuk muncul ke permukaan karena tak terlindunginya mereka dari ancaman-ancaman?
* tulisan ini pernah dirilis di blog saya tahun lalu, dan ini sudah sedikit diperbaharui untuk menyesuaikan
Artikel ini memiliki: 16 Komentar • Bagus +6