Pagi ini saya salah perhitungan. Meski sudah mengkalkulasi tingkat kemacetan dimasa kampanye seperti ini, tapi kali ini saya kecele. Saya tidak pernah membayangkan bis-bis patas AC akan mangkal di jalan kecil di Tegal Parang yang tanpa mereka setiap pagi pasti macet oleh orang-orang yang berangkat ke kantor. Saya hanya bisa tersenyum kecut dan membayangkan saya pasti akan telat untuk meeting di kantor hari ini.
Bis bis besar itu berjejer, menjemput para "konstituen". Mereka benar-benar melayani masyarakat dengan baik. Membawa mereka ke tempat pesta demokrasi.
TIba-tiba saya nyengir. Saya, disini, bermacet ria menuju kantor. Ini toh hari kerja. Orang kantoran ya ngantor. Anak sekolah ya sekolah. Lalu, apa profesi orang-orang yang hari ini sibuk berkampanye?
Pantas saja negeri ini tidak terkena dampak krisis ekonomi yang luar biasa yang tengah menghantam para negara adi daya. Amerika, dan negara hebat lainnya perlu belajar pada kita, bagaimana memberdayakan ekonomi ditengah krisis seperti ini. Karena kalau tidak pengangguran, ibu rumah tangga, pasti yang punya waktu menghadiri acara acara kampanye ini ya para enterpreneur dan businessman yang punya fleksibilitas waktu.
Ini sebuah potret yang luar biasa. Tidak ada pengangguran di masa pesta demokrasi ini. Begitu banyak enterpreneur dan businessman di republik ini. Ekonomi telah tergerakkan.
Obama dan pemimpin negara besar lainnya harus belajar pada para calon pemimpin di negeri ini, yang begitu dermawan dan berbudi luhur, yang telah mencurahkan seluruh waktunya memikirkan negeri, dan menghabiskan hasil jerih payahnya bertahun-tahun untuk menggerakkan ekonomi rakyat dan melayani rakyat dimasa krisis ini.
Eropa dan negara krisis lainnya harus belajar pada ahli ekonomi dari Indonesia dalam menghadapi krisis ekonomi.
Sungguh negeri yang indah.
Andai saja mereka juga seperti ini, setelah mereka benar-benar menjadi pemimpin :)
(Lihat foto: Dan Amerikapun perlu belajar pada kita bagaimana menghadapi krisis ekonomi)
Artikel ini memiliki: 5 Komentar • Menarik +3