(kepada Dato KEMALA dan SN Datuk A. Samad Said)
dua menara baja menusuk dua kornea mata, sedetik senja bergegas menutup tirai lelah kuala lumpur, dengan cemas aku mengetuk pintu baja rumahmu, “tuan dan puan masihkah mengenalku?”
hang tuah kehilangan perahu perang, duduk disampingku di taman asri dan sepi ini, pantun melayu berserakan ditiup si laknat portugis dari selat malaka yang porak poranda
peluit setasiun tua dan rel kereta berkarat berlarian ke rumah sajak kesepianku, dalam tilas nanah dan darah baja ini telapak kakiku robek dipaku darah jeritan sunyi manusia
“di manakah dunia mesti berlabuh ketika terbelah bilah-bilah baja dari neraka?” hujan pun merintik menyeret kulit wajah pucatku berputar di langit kusam berdebu kuala lumpur
azan magrib membelah senja, dingin baja kuala lumpur menyelinap ke hati letih, kunang-kunang dan lampu-lampu riuh tersesat jalan menyapa ramah, “selamat malam kuala lumpur, tidurlah .”
kuala lumpur (2009)
(Lihat foto: Sajak Senja di Kuala Lumpur)
Artikel ini memiliki: 13 Komentar • Bagus +2