Perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa, kata Milan Kundera. Untunglah penghapusan ingatan juga tak semudah membalik tangan.
A. Gumelar Demokrasno, perupa, mengobarkan api “perjuangan melawan lupa” melalui karya-karya grafisnya yang dikumpulkan dalam sebuah buku, Dari Kalong Sampai Pulau Buru: Kisah Tapol Dalam Sketsa.
Siapakah Adrianus Gumelar Demokrasno? Lahir di Subang, Jawa Barat, 29 Desember 1943, Gumelar pernah menuntut ilmu di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Jurusan Seni Patung pada 1960 dan lulus 1964. Ketika masih kuliah, ia sempat ikut proyek Museum Perjuangan di Yogyakarta dan merenovasi makara candi Prambanan.
Pada 1964, ia bekerja di Panitia Negara, Seksi Dekorasi, di bawah Sekretariat Negara. Pekerjaannya, antara lain membuat poster besar wajah para tamu negara di studio seni. Pada 1966, studio seni itu ditutup penguasa Orde Baru. Gumelar lalu jadi penganggur.
Pada 1968, ia diciduk aparat keamanan di rumahnya. Awalnya ia ditahan di Markas Kalong di Gunung Sahari, lalu dipindahkan ke rumah tahanan Kodim di Banteng, selanjutnya ke penjara Salemba dan Nusa Kambangan.
Setelah itu, masih pada 1968, Gumelar diboyong ke Pulau Buru bersama 10 ribu tahanan politik lainnya. Ia menghabiskan waktu selama 11 tahun sebagai tahanan politik Orde Baru di Pulau Buru. Ia baru dibebaskan pada 1979.
Buku sketsa ini merupakan dokumentasi kumpulan ingatannya selama menjadi penghuni neraka bagi para tahanan politik itu. Amarzan Lubis, mantan penghuni Buru lainnya, menyebut Gumelar telah, “Merekam pulau pembuangan itu dengan ingatan fotografis dan keterampilan yang patut dipujikan.”
Gumelar menuturkan secara ilustratif kondisi para tahanan politik selama menghuni pulau bekas daerah buangan tahanan di zaman penjajahan Belanda dulu. Kita diajak bertamasya sejarah, ke masa-masa yang memedihkan itu, mengenal dari dekat seperti apa kondisi mereka yang terbuang.
Ada gambar-gambar yang membuat kerongkongan tercekat. Tapol yang dihajar, diinjak-injak, atau dipaksa kerja keras. Ada pula black comedy, seperti gambar tentang rombongan tapol yang dihukum hanya gara-gara kentut.
Isi buku ini merupakan perbendaharaan baru dalam khasanah sejarah Indonesia modern. Ia menyumbang fakta lain, rekonstruksi yang sangat berbeda dari versi Orde Baru.
Buku ini mencengangkan bukan hanya karena kualitas seni grafisnya, melainkan juga lantaran menyediakan pengetahuan dan pemahaman yang lain tentang Pulau Buru.
Anak-anak muda zaman sekarang tentu akan mendapat kesempatan berharga jika berkesempatan melihat versi lain dari buku-buku sejarah buatan Orde Baru tentang pulau terpencil itu. Sebuah laporan “pandangan mata” bekas penghuni pulau itu.
Gumelar telah memulai dengan sebuah buku grafis. Semoga bakal makin banyak pula “perjuangan melawan lupa” dalam bentuk lain supaya sejarah Indonesia tak dimonopoli oleh "kamus" yang seragam.
(Lihat foto: Pulau Buru Dalam Sketsa Gumelar)
Artikel ini memiliki: 14 Komentar • Menarik +7